Selasa, 07 Februari 2012

ABSTRAK KTI AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN TAHUN 2010

Analisis Peresepan Interaksi Obat Antidiabetes Oral 
Di Depo IRNA 1 Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang
oleh: Reni Paeza  
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata kunci : Analisis Peresepan, Interaksi Obat, obat Antidiabetes Oral.
Diabetes Mellitus merupakan penyakit degenerativ yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius. Karena jika tidak dampak dari penyakit tersebut akan membawa berbagai komplikasi serius lainnya, seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan kerusakan saraf. Dengan meningkatnya kompleksitas penyakit akibat diabetes maka meningkat pula obat-obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit diabetes mellitus. Apabila obat antidiabetes oral dikombinasikan dengan obat lain maka kemungkinan akan terjadi interaksi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kombinasi obat antidiabetes oral yang berinteraksi pada resep yang masuk di Depo IRNA I Rumah Sakit Dr. Siful Anwar Malang.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan resep pasien diabetes mellitus tipe II yang mengandung obat antidiabetes oral dengan obat lain di Depo IRNA 1 Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang pada bulan April 2010.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa obat antidiabetes oral yang dikombinasikan dengan obat lain terbanyak dikombinasikan dengan obat antihipertensi golongan ACE inhibitor yaitu kaptopril sebesar 33.3%. Persentase kejadian interaksi obat pada resep yang mengandung obat antidiabetes oral yaitu sebesar 51.2%. Efek interaksi yang terjadi pada resep yang mengandung obat antidiabetes mellitus dengan obat lain di Depo IRNA 1 Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang adalah interaksi yang menyebabkan meningkatkan dan menurunkan efek obat antidiabetik oral. Proporsi yang terbesar adalah interaksi yang menyebabkan peningkatan efek obat antidiabetes oral yaitu sebesar 25%. Hendaknya dilakukan pemantauan lebih lanjut terhadap interaksi obat. Selain itu juga diperlukan komunikasi yang baik antara antara farmasis dan dokter sehingga pasien mendapatkan terapi yang tepat dan menurunkan efek interaksi obat dan hendaknya dilakukan pemberian informasi kepada pasien dan keluarga pasien mengenai diabetes mellitus tipe II.
Mutu Fisik Emulsi Minyak Daun Cengkeh (Eugenia Caryophyllata)
oleh: Mochammad Indra Suryana
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata kunci : , Daun Cengkeh, Emulsi, Mutu Fisik
Cengkeh adalah salah satu hasi tanaman rempah di Indonesia. Tanaman cengkah banyak dibudidayakan untuk diambil minyak dari bunganya. Tanaman cengkeh yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah daunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan daun cengkeh supaya memiliki nilai komersil.
Daun cengkeh mangandung minyak atsiri, tannin, dan berkhasiat sebagai analgesik, stimulant dan karminatif.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, pada bulan april sampai juni 2010. Penelitian terhadap pemanfaatan daun cengkeh dilakukan dengan pengambilan minyak atsiri daun cengkeh menggunakan metode destilasi uap air. Minyak tersebut akan digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan sediaan emulsi.  Adapun evaluasi yang dilakukan terhadap sediaan emulsi diantaranya uji organoleptis, uji homogenitas, uji stabilitas, uji viskositas, dan uji volunteer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan daun cengkeh sebagai obat tradisional dalam bentuk sediaan emulsi dengan mutu fisik yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa pengujian yang dilakukan terhadap emulsi daun cengkeh tersebut yakni yakni uji homogenitas dan uji homogenitas, dan pada uji volunter menunjukkan bahwa responden menyukai sediaan emulsi daun cengkeh formula I, II, III dengan prosentase sebesar 62, 23 %(suka), 64, 13 %(suka), 67,12 %(suka). Hal ini dikarenakan penambahan PGA pada formula I, II, III sebanyak 5%, 7,5%, 10% sehingga dihasilkan mutu fisik yang baik.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan adanya penelitian lebih lanjut, perlu melakukan penelitian lebih lanjut tentang efektifitas daun cengkeh sebagai analgesic, stimulant, dan karminatif, perlu melakukan penelitian tentang dosis
Pengaruh Ekstrak Daun Alpukat (Parseae americana Mill) Terhadap Aktivitas Antibakteri Bakteri Staphylococcus aureus
oleh: Anastasia Rifa
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : Aktivitas ekstrak daun alpukat, antibakteri, Staphylococcus aureus
Indonesia memiliki sekitar 30.000-40.000 jenis tumbuhan dan beberapa
diantaranya memiliki khasiat sebagai tumbuhan obat. Salah satunya tanaman alpukat.
Bagian dari tanaman alpukat yang sering dimanfaatkan sebagai obat adalah buah, biji,
dan daun. Secara tradisional, daun alpukat dapat dimanfaatkan untuk pengobatan
berbagai macam penyakit diantaranya dipakai untuk mengobati penyakit kulit atau infeksi
pada kulit akibat jamur atau bakteri patogen. Hal ini disebabkan daun alpukat
mengandung senyawa antibakteri yaitu metabolit sekunder yang dapat merusak membran
sel mikroorganisme serta mempunyai kemampuan memacu pembentukan kolagen satu
yang merupakan suatu protein yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Oleh
karena itu, dilakukan uji secara ilmiah untuk membuktikan khasiat tersebut, dengan
menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun alpukat terhadap bakteri Staphylococcus
aureus.
Ekstrak daun alpukat yang digunakan, diperoleh dari hasil ekstraksi dengan cara
perkolasi menggunakan pelarut etanol 70% yang diuapkan menjadi ekstrak kental
menggunakan rotary evaporator. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap
dengan 5 perlakuan dan 3 kali pengamatan. Dosis ekstrak yang digunakan adalah 20 g, 30
g, 40 g, 50 g, dan 60 g, dengan menggunakan kontrol media, kontrol media dan bakteri
serta kontrol ekstrak.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi Putra
Indonesia Malang pada bulan April – Juni tahun 2010. Penelitian aktivitas antibakteri
ekstrak daun alpukat terhadap Stapylococcus aureus meliputi tiga tahap kerja. Pertama,
tahap persiapan yaitu penyiapan bahan ekstrak daun alpukat dengan cara perkolasi,
persiapan media cair Nutrient Broth dan media selektif Manitol Salt Phenol red Agar,
sterilisasi alat-alat, persiapan biakan murni Staphyloccocus aureus. Kedua, tahap
pelaksanan yaitu pengujian aktivitas daun alpukat terhadap Staphylococcus aureus.
Ketiga, tahap akhir yaitu tahap pengolahan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun alpukat dapat menghambat
dan tidak dapat membunuh pertumbuhan koloni bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya daerah jernih pada uji Konsentrasi Hambat Minimum pada
dosis 60g dan masih terdapatnya koloni bakteri yang tumbuh pada media selektif saat uji
Konsentrasi Bunuh Minimum pada dosis 60 g.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan, perlu kiranya dilakukan penelitian lebih
lanjut tentang aktivitas antibakteri ekstrak daun alpukat terhadap bakteri Staphylococcus
aureus dengan peningkatan dosis yang lebih tinggi dari dosis 60 g.
Uji Aktifitas Antibakteri Ekstrak Etanol 80% Daun Beluntas(pluchea indica L) 
terhadap Bakteri sthapylococcus aureus
oleh: Eka Estuningsih
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : aktifitas antibakteri, ekstrak etanol 80% daun beluntas, sthapylococcus
aureus
pluchea indica L atau lebih dikenal dengan nama daun beluntas merupakan
salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki banyak khasiat dalam
menyembuhkan berbagai macam penyakit, misalnya menghilangkan bau badan, obat
turun panas, dan diare. Bagian yang sering digunakan adalah daunnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktifitas antibakteri ekstrak
etanol 80% daun beluntas dalam menghambat dan membunuh bakteri sthapylococcus
aureus dengan menggunakan metode dilusi.Ekstrak daun beluntas dalam penelitian ini
di buat dengan metode perkolalasi, dalam empat dosis yaitu 6,25g, 12,5g dan 18,75g.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akadem Farmasi Putra Indonesia
Malang selama bulan mei sampai bulan juni 2010.
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Dari hasil penelitian, menujukan
bahwa terdapat aktivitas penghambatan terhadap bakteri sthapylococcus aureus pada
dosis 12,5g dan 18,75g. Pada hasil uji KBM dapat disimpulkan belum adanya daya bunuh
pada ekstrak etanol 80% daun beluntas dengan dosis 6,25g, 12,5g dan 18,75g
dikarenakan masih terdapat koloni bakteri yang tumbuh. Berdasarkan hasil penelitian,
perlu dilakukan peningkatan dosis pada pnelitian selanjutnya dan perlu dilakukan
penelitian selanjutnya dengan bakteri lainnya.
Efektifitas Kayu Secang (Caesalpinia sappan. L) Sebagai Antibakteri Pada Shigella dysenteriae
oleh: Alvita Widyastuti
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : Efektivitas, Ekstrak Kayu Secang, Shigella dysenteriae.
Secang (Caesalpinia sappan. L) adalah salah satu tanaman yang digunakan
masyarakat untuk mengobati dysentri. Berdasarkan data empiris inilah maka
dilakukan penelitian tentang efektivitas ekstrak kayu secang sebagai antibakteri.
Pengujian efektivitas dilakukan dengan menggunakan metode dilusi, dimana dengan
metode ini akan diperoleh Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi
Bunuh Minimal (KBM). Tahap awal pengujian efektivitas antibakteri adalah
menentukan KHM (Konsentrasi Hambat Minimal) dengan menginkubasi suspensi
bakteri Shigella dysenteriae dalam media cair Nutrient Broth pada tabung reaksi,
bersama masing-masing dosis ekstrak kayu secang yaitu 5 g, 10 g, 15 g, 20 g, 25 g,
30 g dan 35 g, pengamatan dilakukan dengan melihat tingkat kekeruhan pada
masing-masing dosis setelah 2 x 24 jam. Dari hasil pengujian diperoleh dosis efektif
yang dapat mulai menghambat pertumbuhan Shigella dysenteriae adalah 15 g.
Tahap berikutnya adalah menentukan KBM (Konsentrasi Bunuh Minimal) dengan
menginkubasi 1 ml dilusi tabung pada pengujian KHM kedalam media padat Eosin
Methilen Blue Agar (EMB Agar), kemudian diamati jumlah koloni bakteri yang
tumbuh setelah 2 x 24 jam. Dari hasil pengujian belum diperoleh dosis yang efektif
untuk membunuh Shigella dysenteriae, karena tidak terdapat daerah bening atau
yang tidak ditumbuhi bakteri sama sekali. Terdapat keragaman data dalam
penelitian ini, keragaman data tersebut kemudian dianalisa dengan menggunakan
Analisa Varian (ANAVA), untuk menentukan perbedaan aktifitas antibakteri ekstrak
kayu secang. Setelah H0 ditolak kemudian dilakukan pengujian hipotesis. Hasil dari
pengujian hipotesis menunjukan bahwa terdapat perbedaan nyata antara nulai F
Hitung dengan nilai F Tabel 0,1%. Perlu adanya penaikan dosis ekstrak kayu secang
agar diperoleh nilai konsentrasi bunuh minimal dan untuk penelitian lebih lanjut
perlu dilakukan penelitian untuk menemukan zat aktif yang paling berperan sebagai
antibakteri pada kayu secang.

Kata Kunci : tanaman anting – anting, diabetes mellitus, pengukuran kadar gula darah, mus musculus galur balb c.
Tanaman anting–anting merupakan salah satu dari tanaman obat, tanaman ini memiliki banyak khasiat dan fungsi, salah satunya yaitu sebagai obat diabetes mellitus, fungsi dari tanaman anting – anting hanya sebatas pembuktian secara empiris. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian ilmiah yang bertujuan untuk membuktikan khasiat tanaman anting–anting dalam pengobatan diabetes mellitus.
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, yaitu dengan menggunakan hewan uji. Objek dari penelitian ini yaitu hewan uji yang menggunakan hewan mencit jantan galur balb C. Objek lain dari penelitian ini yaitu ekstrak tanaman anting–anting, dalam beberapa dosis yaitu dosis 160 mg, dosis 80 mg dan dosis 40 mg. Tanaman anting – anting diekstrak dengan mengunakan sistem infudasi, sistem ini digunakan, karena zat aktif larut dalam pelarut air atau bersifat polar dan juga zat aktif bersifat tahan panas. Sistem infudasi juga dipilih karena mendekati cara yang digunakan didalam masyarakat serta sistem infudasi hanya menggunakan peralatan yang sederhana.
Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, dan dilakukan pada bulan maret sampai dengan juni 2010. Rancangan dari penelitian ini yaitu meningkatkan kadar gula darah hewan dengan injeksi streptozotosin dan akan diturunkan dengan dosis ekstrak tanaman anting – anting. Pada perlakuan selama 14 hari, kadar gula darah mencit mengalami penurunan sebesar 15,36 % untuk dosis ektrak 40 mg, 15,64 % untuk dosis 80 mg dan 16,72 % untuk dosis ekstrak 160 mg.
Hasil penelitian yang telah dianalisa, ekstrak tanaman anting – anting memiliki pengaruh didalam penurunan kadar gula darah mencit, hal ini dikarenakan tanaman anting – anting memiliki zat aktif senyawa triterpenoid, fungsi dari senyawa ini adalah sebagai penuruan kadar gula.
Pada akhir penelitian, hasil dari penelitian ini akan ditindak lanjuti dengan kajian ilmiah dan penelitian lebih lanjut oleh peneliti. Tindak lanjut yang akan dilakukan dimungkinkan untuk lebih spesifikasi dalam pemurnian zat dan farmakologi, sehingga tanaman anting – anting bisa digunakan sebagai obat herbal anti diabetes.
Uji Kemampuan Pektin Hasil Isolasi Dari Limbah Apel Sebagai Mutu Fisik Tablet
oleh: Ika Septi Jesica Putri
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : uji kemampuan, pektin, limbah apel, mutu fisik tablet
Pektin merupakan salah satu tipe serat yang dapat memperbaiki otot pencernaan dan mendorong sisa makanan pada saluran pencernaan. Pektin ternyata dapat dihasilkan dari limbah sari apel dengan cara isolasi sederhana. Dalam dunia industri pangan pektin banyak dimanfaatkan sebagai bahan perekat atau pengental. Banyak penelitian menyatakan bahwa jenis pati dari berbagai jenis tanaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan – bahan pembantu dalam formulasi tablet. Pada penelitian ini pektin hasil isolasi dari limbah sari apel akan digunakan sebagai bahan pengikat pada mutu fisik tablet, dan attapulgit sebagai zat aktif. Untuk mengetahui kemampuan pektin sebagai bahan pengikat pada mutu fisik tablet, maka dilakukan pemeriksaan pektin dan mutu fisik tablet pada masing – masing formula untuk mengetahui formula yang paling baik dari ketiga formula. Pemeriksaan yang dilakukan pada pektin hasil isolasi dari limbah apel adalah rendemen, identifikasi dengan reaksi terbentuknya endapan, penetapan kadar dengan titrasi titrimetri. Pemeriksaan mutu fisik tablet yang dilakukan adalah keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, waktu hancur, dan kerapuhan, pada masing – masing formula. Pada pembuatan tablet ada tiga formula, dan yang membedakan ketiganya adalah konsentrasi pektin sebagai zat pengikat. Pada formula I 10%, formula II 15%, dan formula III 20%. Penelitian ini dilakukan di laboratorium farmakognosi, kimia, dan tablet di Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang. Penelitian dilakukan selama satu bulan yaitu tanggal 1 sampai 30 Juni 2010. Proses penelitian yang dilakukan meliputi tiga tahap, yaitu tahap persiapan meliputi pembuatan formula tablet, menghitung kebutuhan bahan, dan menyiapkan alat serta bahan yang dibutuhkan. Tahap pelaksanaan yang meliputi, proses isolasi pektin dari ampas apel, pemeriksaan paktin hasil isolasi, proses pembuatan tablet, dan evaluasi mutu fisik tablet Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh pektin hasil isolasi dari ampas sebesar 3,74%, yaitu 167 g dari 5000 g ampas apel. Dari hasil analisa kuantitatif didapatkan data yang menunjukkan bahwa pektin hasil isolasi adalah murni. Mengandung 13,159 % metoksi dan 75,8638 % asam galakturonat. Berdasarkan hasil pemeriksaan mutu fisik tablet, dapat disimpukan bahwa tablet pada formula I dengan prosentase pektin sebagai zat pengikat 10% mempunyai mutu fisik paling baik. Berdasarkan hasil rendemen yang diperoleh yaitu 3,74% yang kurang dari prosentase yang ditetapkan pada pustaka, maka dapat digunakan cara lain untuk isolasi pektin dari ampas apel. Pada saat proses pembuatan tablet pektin (zat pengikat) tidak dapat dibuat mucillago karena jumalah air sangat sedikit sehingga tidak cukup untuk melarutkan pektin. Sebaiknya penambahan air dilakukan setelah semua bahan tercampur.

Kata kunci : Mutu, Granul, Ekstrak, Rimpang jahe merah
Indonesia dikenal sebagai Negara yang subur, tidak heran jika berbagai
tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Seperti halnya tanaman
obat-obatan. Tanaman obat-obatan yang tumbuh baik dihutan maupun
dipekarangan rumah sering digunakan untuk pengembangan dalam pembuatan
obat tradisional, salah satunya tanaman rimpang jahe merah. Dalam pengobatan
tradisional rimpang jahe merah berkhasiat antara lain : menghangatkan badan,
mengobati mabuk kendaraan, melancarkan pencernaan, dan masuk angin. Bahan
penting yang terkandung dalam rimpang jahe merah adalah gingerol, dan minyak
atsiri.
Pada penelitian ini rimpang jahe merah diekstraksi dengan cara infundasi
dengan cairan penyari menggunakan air. Dengan cara infundasi zat yang
berkhasiat yang terkandung didalam rimpang jahe merah dapat larut.
Penelitian ini dilakukan dilaboratorium Akademi Farmasi Putra Indonesia
Malang mulai bulan mei sampai juni 2010. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa granul yang dibuat dari ekstrak rimpang jahe merah setelah dilakukan uji
mutu fisik yang meliputi uji waktu alir dengan rata-rata 8,38 detik, uji waktu larut
dengan rata-rata 25,14 detik, uji kadar air dengan rata-rata 3,23%, uji kelarutan
dengan rata-rata 94,73%, dan pada hasil uji volunter didapat sebanyak 82,17%
(sangat menyukai) sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan granul ekstrak
rimpang jahe merah memenuhi syarat dan layak untuk dikonsumsi, dan hasil uji
volunter untuk tiap pertanyaan yang banyak diminati volunter yang pertama
adalah bau 85%, warna 84,17%, bentuk 83,33%, khasiat 82,5%, dan rasa 75,83%.
Berdasarkan penelitian ini, dapat disarankan supaya dilakukan penelitian
lebih lanjut dengan penambahan zat pemanis yang lebih banyak.
Perbandingan Daya Antibakteri Ekstrak Daun Lamtoro (Leucaena Glauca [L.] Benth) dengan Tetrasiklin HCl pada Bakteri Staphylococcus aureus
oleh: Dewi Utari
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : Perbandingan Antibakteri , Ekstrak Daun Lamtoro, Tetrasiklin HCl, Staphylococcus aureus
Leucaena Glauca [L.] Benth atau lebih dikenal dengan daun lamtoro merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan dalam pengobatan oleh masyarakat. Bagian tanaman ini yang sering digunakan untuk mengobati infeksi dan sebagai antibakteri adalah daun. Pada bagian daun inilah terdapat senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, protein, lemak, kalsium, fosfor, besi, vitamin A, vitamin B dan vitamin C. Zat aktif yang diketahui bersifat antibakteri pada daun lamtoro adalah flavonoid. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh daun lamtoro dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, dilakukan uji antibakteri dengan metode cakram kertas, yaitu dengan menghitung diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri di sekitar cakram kertas pada permukaan lempeng Manitol Salt Agar. Sebagai pembanding digunakan antibiotik tetrasiklin HCl, hal ini didasarkan pada persamaan penggunaan yaitu infeksi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan daya antibakteri ekstrak daun lamtoro (Leucaena Glauca [L.]Benth) dengan tetrasiklin HCl dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Daun lamtoro (Leucaena Glauca [L.] Benth) yang digunakan dalam pengujian dibuat dalam bentuk ekstrak. Ekstrak yang diperoleh dari hasil ekstraksi dengan cara perkolasi daun lamtoro (Leucaena Glauca [L.] Benth) dengan pelarut etanol 80%. Dalam pengujian dilakukan 6 replikasi dengan dosis 20 gram. Setelah mendapatkan ekstrak kental daun lamtoro, selanjutnya cakram di rendam kurang lebih 15 menit ke dalam ekstrak. Kemudian dimasukkan dalam cawan yang berisi media yang telah di berikan suspensi bakteri. Setelah itu masukkan ke dalam inkubator dengan suhu 37ºC selama 1x24 jam kemudian diukur diameter daerah hambatan yang terbentuk di sekitar cakram dengan menggunakan jangka sorong dan masukkan data yang telah diperoleh ke dalam tabel.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi “Farmasi Putra Indonesia” Malang selama 3 bulan mulai bulan April sampai bulan Juni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diperoleh rerata diameter hambat yang terbentuk oleh ekstrak daun lamtoro sebesar 5,29mm dan Rerata diameter hambat yang terbentuk oleh tetrasiklin HCl sebesar 4,37mm.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat daya antibakteri antara ekstrak daun lamtoro dengan tetrasiklin HCl dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Berdasarkan penelitian, disarankan supaya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang daya antibakteri ekstrak daun lamtoro pada Staphylococcus aureus dengan metode selain cakram kertas.
Tingkat Pengetahuan masyarakat RW 01 kelurahan Jati Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo tentang penyakit kanker payudara.
oleh: Lucy Wahyuni
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata kunci : tingkat pengetahuan, kanker payudara
Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu,
jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Kanker payudara termasuk
diantara penyakit kanker yang paling banyak diperbincangkan karena
keganasannya yang seringkali berakhir dengan kematian.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat
tentang kanker payudara di kelurahan jati RW 01 kecamatan mayangan.
Penelitian ini menggunakan penelitian desain deskriptif, populasi dalam penelitian
ini adalah perempuan umur 17 – 55 tahun. Pengumpulan data memakai instrumen
berupa kuisioner yang dibagi dalam sub variabel, rancangan penelitian ini
meliputi tiga tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir.
Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengetahuan tentang penyakit
kanker payudara di Kelurahan Jati RW 01 adalah 75,64 termasuk kriteria baik.
Adapun analis data berdasarkan sub variabel yaitu : pengetian, gejala, penyebab,
pencegahan, pengobatan. Tentang pengertian penyakit kanker payudara adalah
25,10% termasuk kriteria kurang, sedangkan gejala adalah 68,21% termasuk
kriteria baik, sedangkan penyebab terjadinya penyakit adalah 61,12% termasuk
kriteria baik, sedangkan prosentase pencegahan adalah 61,39% termasuk kriteria
baik, dan yang terahir prosentase dari pengobatan adalah 53,69% termasuk
kriteria cukup. Dari hasil prosentase menurut sub variabel ternyata tingkat
pengetahuan masyarakat tentang ini baik.
Berdasarkan dari hasil tersebut disarankan pada petugas kesehatan
memberikan pendidikan atau penyuluhan kesehatan sehingga dapat meningkatkan
pengetahuan masyarakat.
Perbedaan Metode Ekstraksi Daun Mangkokan (Nothopanax scutellarium Merr) terhadap Aktivitas Antibakteri Staphlococus aureus.
oleh: Naning Indah Kurniawati
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : aktivitas antibakteri, ekstrak daun mangkokan,metode maserasi, infundasi dan penumbukan,Staphylococus aureus.
Daun Mangkokan (Nothopanax scutellarium Merr)
merupakan salah satu tanaman hias, selain itu, tanaman tersebut
banyak juga digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam
penyakit, misalnya radang payu dara, luka lecet,sulit kencing, dan
untuk mencegah rambut rontok. Bagian tanaman yang sering
digunakan sebagai obat adalah daunnya. Penelitian bertujuan ini
untuk mengetahui adanya perbedaan metode ekstraksi yaitu
infundasi, maserasi, dan penumbukan terhadap aktivitas antibakteri
pada Staphylococus aureus. Pengujian daya antibakteri dengan
menggunakan metode cakram kertas, yaitu dengan menghitung
diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri disekitar cakram
kertas pada permukaan medium Nutrien Agar. Daun mangkokan
yang digunakan dalam pengujian dibuat dalam dosis tunggal yaitu
4g ekstrak diperoleh dengan cara maserasi, infundasi dan
penumbukan.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi
Akademi Farmasi “ Putra Indonesia “ Malang selama Maret
sampai Juli 2010. Penelitian ini adalah penelitian bersifat
eksperimental. Analisis hasil penelitian menggunakan analisis
statistik dengan menghitung Rancangan Aral Lengkap atau RAL,
kemudian dilanjutkan dengan uji SNK.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat aktivitas
pada ekstrak daun mangkokan terhadap pertumbuhan
Staphylococus aureus. Hal ini dapat ditunjukkan karena ekstrak
mampu memberikan diameter zona hambatan. Terdapat perbedaan
daya hambat antar berbagai metode dengan control positif. Kontrol
posif yang digunakan yaitu antibiotik Amoksisilin.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan supaya dilakukan
penelitian lebih lanjut tentang dosis yang paling efektif terhadap
pertumbuhan bakteri Staphylococus aureus.
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Ceremai (Phyllanthus acidus [L.] Skeels.) 
Dengan Metode DPPH (2,2-Diphenil-1-pikrilhidrazil)
oleh: Aullia Aldilla Diasworo
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : DPPH, antioksidan, Phyllanthus acidus [L.] Skeels
Phyllanthus acidus [L.] Skeels atau lebih dikenal dengan nama ceremai merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki banyak khasiat pada setiap bagian tanaman. Salah satunya yaitu bagian daun yang mempunyai kandungan flavonoid sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan yang digambarkan dengan nilai IC50 ekstrak daun ceremai. Nilai IC50 diperoleh dengan mengunakan metode DPPH dan diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm. Adapun konsentrasi ekstrak yang diuji yaitu 16 ppm, 24 ppm, 32 ppm, 40 ppm dan 60 ppm. Hasil pembacaan pada spektrofotometer menunjukkan nilai absorbansi dan nilai peredaman dari ekstrak daun ceremai. Dalam penelitian ini diperoleh nilai IC50 yang menggambarkan konsentrasi ekstrak dapat menghambat radikal bebas 50%. Berdasarkan data yang diperoleh maka didapatkan hasil nilai IC50 sebesar 0.62 ppm. Hal ini berarti pada konsentrasi 0.62 ppm dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%.

Kata kunci : aktivitas ekstrak daun binahong, antibakteri, Pseudomonas
aeruginosa.
Anredera cordifolia (Tennore) Steen atau lebih dikenal dengan nama
binahong merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki banyak
khasiat dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit, misalnya luka luar
akibat goresan senjata tajam atau luka bakar, luka setelah operasi, meningkatkan
stamina tubuh, mengobati sakit maag, menyembuhkan memar, rematik, pegal linu
dan menghaluskan kulit. Bagian tanaman binahong yang sering digunakan
sebagai antibakteri adalah daunnya karena mempunyai kandungan kimia yang
berkhasiat sebagai antibakteri seperti saponin dan flavonoid. Untuk mengetahui
seberapa besar aktivitas daun binahong dalam menghambat dan membunuh
pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa, maka dilakukan uji antibakteri
dengan menggunakan uji Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh
Minimum (KBM), yaitu dengan melihat kondisi kekeruhan pada masing-masing
tabung untuk uji KHM dan melihat ada tidaknya pertumbuhan bakteri uji pada
masing-masing cawan petri untuk uji KBM. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia
(Tennore) Steen) dalam menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri
Pseudomonas aeruginosa pada berbagai dosis dengan menggunakan metode
KHM dan KBM.
Daun binahong yang digunakan dalam pengujian ini dibuat dalam bentuk
ekstrak yang diperoleh melalui ekstraksi dengan cara perkolasi menggunakan
pelarut etanol 70%. Dosis daun binahong yang diujikan adalah 15g, 20g, 30g,
40g, dan 50g, dengan menggunakan kontrol positif dan negatif.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang selama bulan April sampai Juni 2010. Penelitian ini
adalah penelitian eksperimental. Percobaan menggunakan Analisis Varian Satu
Arah atau ANAVA yang dilanjutkan dengan uji SNK.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil yang nyata
dari penurunan jumlah bakteri yang tumbuh tiap penambahan dosisnya terhadap
bakteri Pseudomonas aeruginosa. Tetapi hasil tersebut masih belum mencapai
kriteria suatu ekstrak dalam menghambat dan membunuh bakteri uji karena tidak
adanya peningkatan dosis yang dilakukan oleh peneliti.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan perlu kiranya dalam pengujian ini
dilakukan peningkatan dosis ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia
(Tennore) Steen) yang dapat menghambat dan membunuh bakteri Pseudomonas
aeruginosa.
Pengaruh Aktifitas Antibakteri Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) 
Terhadap Staphylococcus aureus
oleh: Deny Indra Setiawan
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : Pengaruh ekstrak daun sirih merah, antibakteri, Staphylococcus aureus.
Indonesia sebagai negara tropis memiliki beraneka ragam tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan manusia. Masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu telah mengenal tanaman yang mempunyai khasiat obat atau menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tanaman yang berkhasiat sebagai obat tersebut dikenal dengan sebutan tanaman obat tradisional. Salah satu tanaman obat tradisional tersebut ialah sirih merah. Kandungan zat yang terdapat pada sirih merah berfungsi sebagai antibakteri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara kromatografi sirih merah mengandung flavonoid, alkaloid, senyawa polifenolat, tanin, dan minyak atsiri. Senyawa-senyawa di atas di ketahui memiliki sifat antibakteri. Dimana berbagai macam kandungan di atas mampu menghambat dan membunuh bakteri yang bisa menyebabkan infeksi pada kulit. Oleh karena itu, dilakukan uji secara ilmiah untuk memberikan khasiat dengan menguji aktifitas antibakteri ekstrak daun sirih merah terhadap Staphylococcus aureus.
Ekstrak daun sirih merah diperoleh melalui ekstraksi dengan cara perkolasi menggunakan pelarut etanol 70%, yang diuapkan menjadi ekstrak kental menggunakan evaporator. Dosis ekstrak yang diujikan ialah 2,088 g, 5,11 g, 7,98 g dan Tetrasiklin HCl1g∕1ml dengan menggunakan kontrol negatif, kontrol positif, dan kontrol pembanding.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang pada bulan Juni 2010. Penelitian Pengaruh Aktifitas Antibakteri Ekstrak Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Staphylococcus aureus meliputi tiga tahap kerja, Pertama, tahap persiapan yaitu penyiapan bahan ekstrak daun sirih merah dengan cara perkolasi, persiapan media selektif Mannitol Salt Agar, sterilisasi alat-alat, dan persiapan biakan murni Staphylococcus aureus. Kedua, tahap pelaksanaan yaitu pengujian aktifitas ekstrak daun sirih merah terhadap Staphylococcus aureus. Ketiga, tahap akhir yaitu tahap pengolahan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih merah mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini ditunjukkan dengan adanya daerah hambat pada media selektif Mannitol Salt Agar.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh aktifitas ekstrak daun sirih merah terhadap mikroorganisme lain penyebab infeksi kulit ataupun terhadap hewan coba khususnya untuk pengobatan penyakit infeksi kulit.
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Keluarga Penderita Tuberculosis Dengan Penularannya di Masyarakat Kecamatan Singosari Kabupaten Malang
oleh: Hidayatin Novianing Tyas
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata kunci : pengetahuan, perilaku, tuberculosis
Tuberculosis ( TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis yang bersifat tahan asam sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA).Tuberculosis merupakan salah satu penyakit menular sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan melalui peningkatan pengetahuan tentang tuberculosis maupun melalui perilaku yang sesuai untuk mencegah penularan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat pengetahuan keluarga penderita tuberculosis terhadap penularannya dan perilaku keluarga penderita tuberculosis terhadap penularannya di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga penderita tuberculosis yang terdapat di Kecamatan singosarai Kabupaten, jumlah sampel sebanyak 78 responden.Penelitian di lakukan di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang pada bulan April sampai Mei 2010 analisis data penelitian yang dipakai adalah analisis kualitatifHasil penelitian ini ditunjukkan bahwa dari responden yang berpengetahuan tinggi sebanyak 27 sampel terdapat 5 orang (18,52 %) terjadi penularan dan sisanya 22 orang (81,48%) tidak terjadi penularan.Adapun responden yang berpengetahuan rendah sebanyak 51 orang terdiri dari 9 orang (17,65 %) terjadi penularan dan 42 orang (82,35%) tidak terjadi penularan dan dari responden yang berperilaku benar sebanyak 16 orang terdapat 2 orang (11,11%) terjadi penularan dan 14 orang (87,5%) tidak terjadi penularan.Adapun responden yang berperilaku salah sebanyak 62 orang terdapat 11 orang (17,74%) terjadi penularan dan 51 orang (82,26%) tidak terjadi penularan.Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan antara perilaku keluarga penderita tuberculosis dan penularan penyakit tuberculosis dan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan penularan penyakit tuberculosis.Berdasarkan hasil penelitian diharapkan masyarakat dan keluarga penderita tuberculosis lebih berperilaku yang benar dan sesuai untuk mencegah penularan penyakit tuberculosis.
Uji Sitotoksik Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata, Linn) BST (Brine Shrimp Lethality Test)
oleh: Amidah Candra Fitri Sari
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : sitotoksik, ekstrak daun sirsak, BST.
Beberapa jenis tanaman asli Indonesia telah diketahui secara empiris mempunyai efek antikanker, diantaranya yang telah banyak dikenal adalah keladi tikus, tapak dara, sambung nyawa, daun dewa, mengkudu, dan sirsak. Bagian dari tanaman sirsak yang digunakan sebagai antikanker adalah daunnya. Diduga acetogenin dan alkaloid murisine dalam daun dapat membunuh sel kanker. Untuk mengetahui efek antikanker daun sirsak dilakukan uji sitotoksik ekstrak terhadap larva udang menggunakan metode BST.
Ekstrak daun sirsak yang digunakan, diperoleh melalui ekstraksi dengan metode perkolasi menggunakan pelarut etanol 70% yang diuapkan menjadi ekstrak kental menggunakan evaporator.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan jumlah sampel total yang diperlukan adalah 350 ekor larva. Sepuluh ekor larva diberikan pada tiap kelompok dari 7 kelompok perlakuan dengan 5 kali pengulangan. Masing–masing kelompok diberi berturut-turut 1500, 1000, 500, 100, 10, dan 1 g/ml ekstrak daun sirsak. Sedangkan kelompok ketujuh sebagai kontrol negatif. Data diperoleh dengan menghitung jumlah larva yang mati 24 jam setelah perlakuan kemudian ditentukan LC50-nya dengan analisis probit.
Hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak daun sirsak memiliki efek sitotoksik pada konsentrasi 0,551g/ml.
Berdasarkan hasil penelitian, diharapakan masyarakat mulai membudidayakan kembali tanaman sirsak. Selain itu, disarankan untuk melakukan uji keamanan yaitu uji toksisitas kronik karena digunakan untuk pengobatan jangka panjang.
Tingkat kompetensi Asisten Apoteker dalam pelayanan kefarmasian 
di apotek Rumah Sakit Ngudi Waluyo Wlingi – Blitar
oleh: Ariyus Wira Dewati
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci      : Kompetensi Asisten Apoteker, Pelayanan kefarmasian
            Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggungjawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Dalam hal ini asisten apoteker harus memberikan pelayanan yang bermutu kepada pasien dengan melaksanakan tugas profesinya secara professional dan berdasarkan kompetensi yang ada dalam standar profesi  asisten apoteker . Namun kenyataan di lapangan, dari data yang masuk ke salah satu dinas kesehatan tercatat ada lima puluh kasus salah obat yang terletak pada tidak profesionalnya apotek dalam memberikan obat yang pada umumnya  dilakukan oleh asisten apoteker yang merupakan ujung tombak dari pelayanan farmasi yang ada di apotek. Hal ini terlihat bahwa asisten apoteker pada umumnya belum memiliki kompetensi  yang optimal.
Dengan latar belakang tersebut peneliti ingin mengetahui tingkat kompetensi asisten apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek RSUD Ngudi Waluyo Wlingi-Blitar.
Jenis penelitian yang digunakan deskriptif guna mengkaji variabel kompetensi asisten apoteker  berdasarkan standar profesi asisten apoteker dengan melakukan observasi langsung  terhadap  10 responden pada periode 20 desember 2009 – 20 januari 2010 dan menggunakan analisa prosentase skoring,  hasil penelitian berupa tabel disajikan dalam bentuk diagram .
Hasil penelitian adalah kompetensi asisten apoteker secara umum dikategorikan cukup baik (69,76 %), meliputi penerimaan dan penilaian resep cukup baik (67%), peracikan sediaan farmasi kurang baik (54,33%), kalkulasi resep sangat baik (82,25%), penyiapan sediaan farmasi sangat baik (75,44%), hal ini dimungkinkan karena peracikan sediaan farmasi yang hanya dilakukan oleh orang tertentu serta kurangnya keikutsertaan dalam seminar atau pelatihan kefarmasian dan belum maksimalnya peningkatan pendidikan formal yang dimiliki oleh masing-masing individu AA yang mayoritas lulusan Sekolah Menengah Farmasi (70%).  

Stabilitas Vitamin C dalam Sediaan Permen Jelly
oleh: Ummu Jamilah
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : Stabilitas. Vitamin C
Vitamin C merupakan vitamin yang memiliki banyak sekali manfaat bagi tubuh kita, salah satunya adalah membantu tubuh memproduksi sel darah lebih banyak sebagai anti bodi dan menjaga tubuh dari serangan virus. 
Vitamin C ini tidak dapat dibuat sendiri oleh sel tubuh sehingga dalam pemenuhannya diperoleh dari luar, diantaranya melalui mengkonsumsi suplemen.Sampel dalam penelitian ini adalah permen jelly yang menggandung vitamin C 500 mg dan dibuat sendiri, kemudian di uji stabilitasnya selama 0 hari, 15 hari hingga 30 hari dengan tiga kali ulangan menggunakan metode eksperimen.Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan permen jelly hingga waktu penyimpanan 30 hari masih stabil secara organoleptis dengan bentuk bulat, rasa manis asam anggur, bau aroma anggur, warna ungu. 
Secara kimia kadar vitamin C dalam permen jelly mengalami penurunan yang bermakna, antara waktu penyimpanan 0 hari, 15 hari hingga 30 hari. Pada waktu penyimpanan 0 hari kadar vitamin C mencapai 83,5%, mengalami penurunan pada waktu penyimpanan 15 hari menjadi 83,1% dan semakin rendah pada waktu penyimpanan 30 hari yaitu 82,%.Setelah dilakukan penelitian terhadap stabilitas vitamin C dalam permen jelly hingga 30 hari dan hasilnya menunjukkan vitamin C dalam keadaan tidak stabil, maka vitamin C tidak dapat dibuat suplemen dalam bentuk sedian permen jelly. Sehingga perlu ada kajian lebih lanjut agar diperoleh inovasi bentuk sediaan lain yang lebih tepat.
Perbedaan Mutu Fisik Sediaan Krim Minyak Atsiri Daun Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia, Swingle) Basis Vanishing Cream dan Cold Cream
oleh: Robertildis Sunarti Latu
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : mutu fisik, minyak atsiri daun jeruk nipis, vanishing cream, cold cream.
Daun jeruk nipis mempunyai kandungan minyak atsiri yang bekhasiat sebagai obat jerawat, yakni untuk mengurangi bakteri penyebab infeksi jerawat. Zat aktif dalam daun jeruk nipis diperoleh dengan cara penyulingan uap air, kemudian kompenen minyak atsiri dipisahkan menggunakan pelarut petroleum eter. Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan minyak atsiri sebagai pengobatan dibuat formulasi sediaan krim. Krim adalah sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai, krim digunakan untuk pemakaian obat pada kulit. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu fisik sediaan krim bergantung pada zat pembawa, cara pembuatan, suhu penyimpanan, kontaminasi mikroorganisme, dan lain-lain Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mutu fisik sediaan krim minyak atsiri daun jeruk nipis dalam basis vanishing cream dan cold cream. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang pada bulan April – Juni 2010. Pelaksanaan penelitian meliputi tiga tahap. Tahap pertama menentukan formulasi, menyusun prosedur kerja, dan menyiapkan alat serta bahan. Tahap kedua adalah proses pembuatan krim minyak atsiri daun jeruk nipis, pengujian sediaan krim meliputi, uji organoleptis, uji homogenitas, uji viskositas, uji tipe emulsi, uji pH, uji sentrifugasi, dan uji cycling. Tahap akhir menganalisa data hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan sediaan krim basis vanishing cream dan cold cream belum memenuhi syarat pH dan mengalami perubahan fisik pada perubahan uji cycling dan proses sentrifugasi. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai formulasi krim yang memenuhi syarat.
Perbandingan Daya Hambat Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata, Linn.) dengan Tetrasiklin HCl Pada Bakteri Staphylococcus aureus
oleh: Dwiana Putri Lestari
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata kunci : Perbandingan aktivitas, daun sirsak, Tetrasiklin HCl, Stapylococcus aureus.
Annona muricata, Linn. atau lebih dikenal dengan daun sirsak merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki khasiat antara lain sebagai obat batu empedu, bisul, antikanker, antisembelit, asam urat dan meningkatkan nafsu makan. Daun sirsak secara empiris dapat menyembuhkan penyakit infeksi kulit seperti halnya bisul, yang disebabkan bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbandingan daun sirsak (Annona muricata, Linn.) dengan antibiotik Tetrasikli HCl dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus sebagai antibakteri penyebab infeksi kulit maka dilakukan uji antibakteri dengan menggunakan metode cakram kertas yaitu dengan mengukur diameter daerah pertumbuhan bakteri disekitar cakram kertas pada permukaan lempeng Manitol Salt Agar.
Daun sirsak (Annona muricata, Linn.) yang digunakan sebanyak 10 gram dalam pengujian dibuat dalam bentuk ekstrak. Ekstrak yang diperoleh dari hasil ekstraksi dengan cara perkolasi daun sirsak (Annona muricata, Linn.) dengan pelarut etanol 80% dan pembanding antibiotik Tetrasiklin HCl.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi “Putra Indonesia” Malang selama 3 bulan mulai bulan April sampai bulan Juni 2010. Penelitian ini menggunakan uji t yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan daya hambat antara ekstrak daun sirsak (Annona muricata, Linn.) dengan Tetrasiklin HCl terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.
Hasil penelitian menunjukkaan bahwa terdapat perbedaan aktivitas antibakteri ekstrak daun sirsak (Annona muricata, Linn.) dengan Tetrasiklin HCl terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Efek antibakteri antara ekstrak daun sirsak (Annona muricata, Linn.) dengan Tetrasiklin Hcl terdapat perbedaan. Karena daerah diameter daya hambat antibiotik Tetrasiklin HCl lebih besar dibandingkan ekstrak daun sirsak.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar dilakukan peningkatan dosis sebagai antibakteri serta perlu penelitian lebih lanjut tentang efek antimikroba ekstrak daun sirsak (Annona muricata, Linn.) dengan fungi dan bakteri selain Staphylococcus aureus.

Kata kunci :     uji penerimaan volunter, permen jelly, Phillanthus niruri.
Uji penerimaan volunter permen jeli meniran adalah pengujian yang dilakukan terhadap volunter sehingga volunter dapat memberikan tanggapan mengenai permen jeli meniran yang telah dihasilkan peneliti. Pada masa anak-anak merupakan masa yang masih rentan terserang berbagai macam penyakit. Apalagi dimasa ini anak-anak cenderung untuk ngemil dan nafsu makan berkurang, sehingga asupan gizi tidak seimbang serta daya tahan tubuh pun ikut menurun. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diperlukan pola hidup sehat. Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah mengkonsumsi suplemen makanan peningkat daya tahan tubuh. Oleh karena itu, timbul pemikiran membuat suplemen makanan penambah daya tahan tubuh yang berupa jajanan, yaitu permen jeli meniran.
Permen jeli meniran adalah suatu jenis permen lunak berbahan dasar gelatin yang mengandung sari meniran, diolah dengan campuran gula dan sirup gula hingga tercapai suatu sediaan dengan tekstur dan kekenyalan tertentu.
Penelitian ini dilakukan di labolatorium farmasetika Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang selama bulan mei hingga selesai. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yaitu dengan membuat permen jeli yang mengandung meniran dengan berdasarkan formula standar permen jeli yang sudah dilakukan observasi sebelumnya. Permen jeli yang sudah jadi selanjutnya dilakukan penetapan organoleptis, kemudian dilakukan uji penerimaan volunter dengan variabel bentuk, rasa, warna, bau, serta kekenyalan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa volunter memberikan tanggapan yang baik terhadap sediaan permen jeli meniran. Hal ini dapat dilihat dari prosentase rata-rata yang didapat yaitu sebesar 88.8 % yang termasuk dalam kriteria “baik”.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan supaya dilakukan uji persyaratan mutu sehingga permen jeli meniran tidak hanya dapat diterima namun juga dapat memenuhi standar mutu yang ada,  mengganti cara penyarian untuk memperoleh kandungan filantin yang tinggi, serta dilakukan dekomposisi bahan tambahan permen jeli sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih memuaskan.

Kata Kunci : Penerapan Keselamatan Kesehatan Kerja, alat pelindung diri, jaminan sosial, karyawan perusahaan rokok tingkat menengah.
Perusahaan merupakan tempat dimana karyawan melakukan aktivitas pekerjaannya sehari-hari. Oleh karena itu keselamatan kesehatan kerja di tempat kerja wajib diperhatikan, karena berhubungan langsung oleh tenaga kerja yang merupakan faktor pendukung dalam menciptakan suatu produksi.
Keselamatan kesehatan kerja adalah suatu upaya untuk menekan atau mengurangi resiko kecelakaan akibat kerja agar pekerja mendapatkan derajat setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif dan kuratif terhadap gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor atau lingkungan kerja. keselamatan kesehatan kerja diantaranya alat pelindung diri, pelatihan kerja dan jaminan sosial tenaga kerja.
Penelitian ini dilaksanakn di perusahaan rokok tingkat menengah di kota Malang pada bulan April-Mei 2010. Metode yang digunakan adalah survey dengan kuesioner dan wawancara. Populasi dan sampel penelitian ini adalah karyawan perusahaan rokok tingkat menengah di kota Malang. Penelitian dilakukan tiga tahap yaitu tahap persiapan dengan menentukan lokasi penelitian, waktu penelitian dan penyusunan angket. Kedua, tahap pelaksanaan yaitu menyebarkan angket dan pengumpulan data. Ketiga, yaitu tahap akhir penyimpulan data.
Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan keselamatan kesehatan kerja pada karyawan perusahaan rokok tingkat menengah di kota Malang ditinjau dari alat pelindung diri, pelatihan kerja dan jaminan sosial dapat dikategorikan tidak tahu atau tidak puas dengan kata lain belum menerapkan keselamatan kesehatan kerja.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disarankan perusahaan lebih meningkatkan lagi kepedulian terhadap tenaga kerja dengan menerapkan keselamatan kesehatan kerja di perusahaannya. Dan pemerintah lebih memperhatikan lagi kesejahteraan dari karyawan perusahaan rokok dengan membuat kebijakan yang lebih menjamin kehidupan karyawan.

Kata Kunci : DPPH, Potensi antioksidan, Phyllanthus niruri Linn.
Indonesia mempunyai beraneka ragam tanaman obat salah satunya adalah
tanaman meniran. Tanaman meniran dipercaya bisa digunakan sebagai
pengobatan diare, radang ginjal dan meningkatkan daya tahan tubuh, selain itu
dalam tanaman meniran mengandung senyawa triterpenoids, flavonoid dan tanin.
Senyawa flavonoid diketahui mempunyai khasiat sebagai antioksidan dengan
menghambat berbagai reaksi oksidasi. Oleh karena itu dilakukan pengujian
potensi ekstrak daun meniran dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-
2-picrylhydrazil).
Penelitian ini betujuan untuk mengetahi potensi antioksidan ekstrak daun
meniran yang digambarkan dengan nilai IC50. Ekstrak daun meniran diperoleh
dengan metode perkolasi menggunakan pelarut etanol dan kemudian dipekatkan
dengan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak daun meniran di uji terhadap
DPPH(1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil) yang merupakan radikal bebas. Pengujian
dilakukan dengan beberapa konsentrasi yaitu 16 ppm, 24 ppm, 32 ppm, 40 ppm,
dan 60 ppm dengan menggunakan alat spektrofotometer UV-VIS dengan panjang
gelombang 520 nm.
Hasil penelitian ekstrak daun meniran (Phyllanthus niruri L)
menggunakan spektrofotometer UV-VIS pada panjang gelombang 520 nm pada
menit ke- 5’, 10’, 15’ dapat disimpulkan bahwa nilai IC50 di dapatkan pada menit
ke 5 sebesar 0,65 ppm. Hal ini berarti pada konsentrasi 0,65 ppm dapat menangkal
radikal bebas sebesar 50%.
Berdasarkan penelitian diatas maka disarankan kepada peneliti selanjutnya
agar melakukan uji potensi antioksidan daun meniran dengan menggunakan
pelarut lain dan melakukan pengujian menggunakan hewan uji.

Kata Kunci   : basis oleum cacao, basis gelatin gliserin,  uji mutu fisik supositoria.
            Supositoria Bismut subnitrat merupakan sediaan per rektal yang berkhasiat sebagai obat antihemoroid. Penggunaan basis akan memberikan pengaruh terhadap waktu lebur dan keseragaman bobot dalam pembuatan supositoria Bismut subnitrat. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan uji mutu fisik supositoria Bismut subnitrat dengan menggunakan Oleum Cacao dan Gelatin gliserin sebagai bahan dasar sehingga dapat memperoleh keseragaman bobot dan waktu lebur yang sesuai.
            Penelitian dilakukan di laboratorium Farmasetika Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang. Rancangan penelitian meliputi tiga tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap penelitian. Analisis yang dipakai adalah analisis koefisien variansi.
            Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan tehadap bobot serta waktu lebur supositoria Bismut subnitrat yang menggunakan basis Oleum cacao dan Gelatin gliserin. Untuk waktu lebur supositoria yang menggunakan basis Oleum cacao rata-ratanya adalah 29.3 menit, sedangkan yang menggunakan basis Gelatin gliserin adalah 40 menit. Sedangkan untuk bobot yang menggunakan basis Oleum cacao rata-ratanya adalah 2.018g dan yang menggunakan basis Gelatin gliserin adalah 2.017 g.
            Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan supaya dilakukan penelitian tehadap penggunaan basis supositoria lain yang lebih tepat digunakan pada supositoria Bismut subnitrat.

Kata kunci : Aktivitas Antibakteri, Ekstrak Kayu Secang, Staphylococcus aureus.
Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan salah satu bahan alam
yang memiliki banyak khasiat antara lain untuk mengobati diare, disentri, TBC,
sifilis, darah kotor, muntah darah, berak darah, malaria, luka bakar, luka lecet,
luka berdarah maupun tetanus. Kayu secang mengandung senyawa brasilin yang
merupakan senyawa golongan fenolik yang dapat membunuh bakteri.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kayu
secang dengan dosis 3 gram, 6 gram dan 9 gram dalam sediaan cold cream
terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, untuk mengetahui dosis
efektif antara ekstrak kayu secang dengan dosis 3 gram, 6 gram atau 9 gram dalam
sediaan cold cream dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus, serta untuk mengetahui perbedaan aktivitas antibakteri antara ekstrak kayu
secang dengan dosis 3 gram, 6 gram atau 9 gram dalam sediaan cold cream.
Kayu secang yang digunakan yaitu kayu secang kering. Proses pembuatan
ekstrak dilakukan dengan cara maserasi kemudian dievaporasi sehingga
didapatkan ekstrak kental. Hasil ekstrak kemudian dibuat sediaan cold cream
dengan berbagai variasi dosis yaitu dosis 3 gram, 6 gram dan 9 gram. Penelitian
ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi “Putra Indonesia”
Malang selama bulan April sampai bulan Juni 2010. Penelitian ini adalah
penelitian eksperimental.
Hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas antar
berbagai dosis. Terdapat perbedaan daya hambat antar berbagai dosis dengan
kontrol negatif. Terdapat perbedaan daya hambat antar berbagai dosis dengan
kontrol positif. Kontrol positif yang digunakan yaitu antibiotik Tetrasiklin HCl.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut tentang aktivitas antibakteri ekstrak kayu secang dalam sediaan cold cream
terhadap bakteri selain Staphylococcus aureus dan juga dengan hewan uji lain,
perlu dibuat desain formula untuk meningkatkan performa serta Masyarakat
menggunakan ekstrak kayu secang dengan dosis 6 gram untuk menyembuhkan luka.

Kata kunci : Aktivitas, ekstrak jamur dewa (Agaricus blazei Murril), Tekanan
Darah
Beberapa bahan alam seperti tanaman Jamur Dewa (Agaricus blazei
Murril) yang berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah dapat digunakan
sebagai alternatif pengobatan. Tekanan Darah Tinggi dapat disebabkan karena
kekakuan pada pembuluh arteri. Tanaman Jamur Dewa mempunyai senyawa asam
linolik dan senyawa tirosin yang belum diketahui prosentase kandungan senyawa
aktif yang bersifat menurunkan tekanan darah.Penelitian ini dilakukan melalui
pengujian aktivitas jamur dewa, dimana dalam penelitian ini menggunakan
metode maserasi-perkolasi untuk mendapatkan ekstrak Jamur Dewa dan untuk
pengujiannya meggunakan metode tensimeter. Hasil dari uji aktivitas ekstrak
Jamur Dewa dengan perbandingan dosis 9 mg dan dosis 18 mg dengan captopril
dan Aquades menunjukkan prosentase penurunan tekanan darah sebesar (4,77),
(4,19), (11,19), (0,69).

Kata Kunci : Aktifitas ekstrak daun sambiloto, antibakteri, Staphylococcus
aureus, , Tetrasiklin Hcl.
Indonesia memiliki jenis tanaman obat yang banyak ragamnya. Jenis
tanaman yang termasuk dalam kelompok tanaman obat mencapai lebih dari 1000
jenis, salah satunya yaitu sambiloto (Andrographis paniculata Nees). Bagian dari
tanaman sambiloto yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya. Secara
tradisional, daun sambiloto dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam
penyakit diantaranya dipakai untuk mengobati penyakit kulit atau infeksi pada
kulit akibat jamur atau bakteri patogen. Hal ini dikarenakan daun sambiloto
(Andrographis paniculata Nees) mengandung senyawa antibakteri. Oleh karena
itu, dilakukan uji secara ilmiah untuk membuktikan khasiat tersebut, dengan
menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun sambiloto terhadap salah satu bakteri
penyebab infeksi yaitu bakteri Staphylococcus aureus.
Ekstrak daun sambiloto yang digunakan, diperoleh melalui ekstraksi
dengan cara perkolasi menggunakan pelarut etanol 80% yang diuapkan menjadi
ekstrak kental menggunakan rotary evaporator. Percobaan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali pengamatan. Dosis
ekstrak yang diujikan adalah 10 g, 15 g, 20 g dan Tetrasiklin Hcl.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang pada bulan April – Juni. Penelitian aktivitas antibakteri
ekstrak daun sambiloto terhadap Stapylococcus aureus dengan pembanding
Tetrasiklin Hcl meliputi tiga tahap kerja. Pertama, tahap persiapan yaitu
penyiapan bahan ekstrak daun sambiloto dengan cara perkolasi, persiapan media
selektif Manitol Salt Agar, sterilisasi alat-alat, persiapan biakan murni
Staphyloccocus aureus. Kedua, tahap pelaksanan yaitu pengujian aktivitas daun
sambiloto terhadap Staphylococcus aureus dengan pembanding Tetrasiklin Hcl.
Ketiga, tahap akhir yaitu tahap pengolahan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sambiloto dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini ditunjukkan
dengan adanya zona bening disekitar cakram kertas pada dosis 10g, 15g dan 20g.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan, perlu kiranya dilakukan penelitian
lebih lanjut tentang aktivitas antibakteri ekstrak daun sambiloto dengan dosis di
lebih besar lagi atau lebih dari dosis 20g.

Kata Kunci : Aktifitas ekstrak daun sambiloto, antibakteri, Staphylococcus
aureus, , Tetrasiklin Hcl.
Indonesia memiliki jenis tanaman obat yang banyak ragamnya. Jenis
tanaman yang termasuk dalam kelompok tanaman obat mencapai lebih dari 1000
jenis, salah satunya yaitu sambiloto (Andrographis paniculata Nees). Bagian dari
tanaman sambiloto yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya. Secara
tradisional, daun sambiloto dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam
penyakit diantaranya dipakai untuk mengobati penyakit kulit atau infeksi pada
kulit akibat jamur atau bakteri patogen. Hal ini dikarenakan daun sambiloto
(Andrographis paniculata Nees) mengandung senyawa antibakteri. Oleh karena
itu, dilakukan uji secara ilmiah untuk membuktikan khasiat tersebut, dengan
menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun sambiloto terhadap salah satu bakteri
penyebab infeksi yaitu bakteri Staphylococcus aureus.
Ekstrak daun sambiloto yang digunakan, diperoleh melalui ekstraksi
dengan cara perkolasi menggunakan pelarut etanol 80% yang diuapkan menjadi
ekstrak kental menggunakan rotary evaporator. Percobaan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali pengamatan. Dosis
ekstrak yang diujikan adalah 10 g, 15 g, 20 g dan Tetrasiklin Hcl.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang pada bulan April – Juni. Penelitian aktivitas antibakteri
ekstrak daun sambiloto terhadap Stapylococcus aureus dengan pembanding
Tetrasiklin Hcl meliputi tiga tahap kerja. Pertama, tahap persiapan yaitu
penyiapan bahan ekstrak daun sambiloto dengan cara perkolasi, persiapan media
selektif Manitol Salt Agar, sterilisasi alat-alat, persiapan biakan murni
Staphyloccocus aureus. Kedua, tahap pelaksanan yaitu pengujian aktivitas daun
sambiloto terhadap Staphylococcus aureus dengan pembanding Tetrasiklin Hcl.
Ketiga, tahap akhir yaitu tahap pengolahan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sambiloto dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini ditunjukkan
dengan adanya zona bening disekitar cakram kertas pada dosis 10g, 15g dan 20g.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan, perlu kiranya dilakukan penelitian
lebih lanjut tentang aktivitas antibakteri ekstrak daun sambiloto dengan dosis di
lebih besar lagi atau lebih dari dosis 20g.

Kata Kunci: daun ceremai, sitotoksik, BST, LC50.
Phyllanthus acidus [L.] Skeels. atau lebih dikenal dengan nama ceremai merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang mempunyai khasiat sebagai peluruh dahak, pencahar (purgatif), mual, kanker, dan sariawan, asma, sakit kulit, sembelit dan mual. Bagian tanaman yang sering digunakan dalam pengobatan adalah daun. Salah satu kandungan daun ceremai yaitu flavonoid yang mempunyai efek antikanker. Untuk mengetahui efek antikanker daun ceremai dilakukan uji pendahuluan antikanker pada larva udang dengan metode BST (Brine Shrimp Lethality Test) untuk mengetahui efek sitotoksiknya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas sitotoksik ekstrak daun ceremai pada larva udang dengan melihat nilai LC50 (Lethality Concentration 50%). Daun ceremai yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun segar yang diekstraksi dengan metode maserasi. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan menjadi ekstrak kental yang selanjutnya dibuat menjadi larutan induk dengan konsentrasi 10 mg/ ml. Larutan induk dibagi ke dalam berbagai konsentrasi yaitu 1, 10, 100, 500, 1000 dan 1500 μg/ml yang dimasukkan ke dalam vial-vial. Ekstrak di dalam vial diuapkan hingga tidak terdapat pelarutnya, kemudian 10 ekor larva udang dimasukkan ke dalam masing-masing vial yang telah berisi ekstrak kering. Pengujian dilakukan selama 24 jam dan diamati jumlah kematian larva udang pada masing-masing perlakuan.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi dan Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang yang dilaksanakan antara bulan Mei dan Juni 2010. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun ceremai mempunyai aktivitas sitotoksik karena dapat membunuh larva udang yang diasumsikan sama dengan sel kanker. Nilai LC50 diperoleh sebesar 11,8952 μg/ml. Dalam BST, ekstrak dikatakan toksik jika dapat menyebabkan kematian 50% hewan uji pada konsentrasi kurang dari 1000 μg/ml. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kecil konsentrasi yang dapat membunuh 50% hewan uji, ekstrak dikatakan semakin efektif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa daun ceremai mempunyai aktivitas sitotoksik karena dapat membunuh larva udang dengan nilai LC50 sebesar 11,8952 μg/ml.
Disarankan agar pada pengujian selanjutnya dilakukan pengujian tentang aktivitas antikanker ekstrak daun ceremai secara in vitro terhadap kultur sel kanker.

Kata Kunci : Efektifitas, Tragacantha, Mutu Fisik, Amoxicillin.
Suspensi kering adalah campuran serbuk atau granul kering yang akan didispersikan dengan pembawa atau pelarut yang sesuai pada saat akan digunakan. Suspensi kering biasanya dibuat karena zat aktif dalam bentuk sediaan suspensi mempunyai stabilitas fisik dan kimia yang terbatas. Tragakan merupakan bahan tambahan pada sediaan suspensi yang berfungsi sebagai suspending agent untuk meningkatkan viskositas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas konsentrasi tragakan terhadap waktu rekonstitusi, volume sedimentasi dan waktu redispersi suspensi kering Amoxicillin dan diharapkan dapat memberikan informasi tentang konsentrasi tragakan yang paling efektif sebagai suspending agent dalam sediaan suspensi kering Amoxicillin. Konsentrasi Tragakan yang digunakan pada sediaan suspensi kering Amoxiiicillin dalam penelitian ini adalah 1%, 1,5%, dan 2%.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi Tragakan 1%, 1,5%, dan 2% sebagai suspending agent mempunyai efektifitas yang berbeda terhadap waktu rekonstitusi, volume sedimentasi, dan waktu redispersi, dan diperoleh kesimpulan bahwa konsentrasi Tragacantha 1% sebagai suspending agent yang paling efektif digunakan pada suspensi kering Amoxicillin.
Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan supaya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang uji mutu sediaan tentang penentuan parameter stabilitas fisik suspensi kering seperti viskositas, ukuran partikel, dan laju sedimentasi.

Kata kunci: ekstrak, bawang lanang, bawang putih, antikolesterol, kolesterol total,
Mencit.
Kolesterol merupakan jenis lemak normal yang terdapat di dalam darah, namun kolesterol dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis yang akhirnya akan berdampak pada penyakit jantung koroner. Salah satu alternatif menurunkan kadar kolesterol adalah dengan pemanfaatan bawang putih dan bawang lanang.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan aktivitas ekstrak bawang putih dan bawang lanang dalam menurunkan kadar kolesterol. Hewan coba yang digunakan sebanyak 24 ekor dibagi menjadi 8 kelompok masing-masing 3 ekor, yaitu kelompok bawang putih dosis 0,0455 g/20 g bb, kelompok bawang putih dosis 0,091 g/20 g bb, kelompok bawang putih dosis 0,1365 g/20 g bb, kelompok bawang lanang dosis 0,0455 g/20 g bb, kelompok bawang lanang dosis 0,091 g/20 g bb, kelompok bawang lanang dosis 0,1365 g/20 g bb, kontrol positif degan pemberian gemfibrozil dan kontrol negatif dengan pemberian aquadest.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih dan ekstrak bawang lanang pada dosis 0,0455 g/20 g bb; 0,091 g/20 g bb dan 0,1365 g/20 g bb dapat menurunkan kadar kolesterol darah mencit. Pada ekstrak bawang putih diketahui dosis yang paling tinggi kecenderungannya untuk meningkatkan kadar kolesterol darah adalah dosis II yaitu 0,091g/20 g bb sedangkan pada ekstrak bawang lanang dosis yang paling tinggi kecenderungannya untuk menurunkan kadar kolesterol darah adalah dosis I yaitu 0,0455g/20g bb. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekstrak bawang lanang lebih baik daripada ekstrak bawang putih dalam menurunkan kadar kolesterol.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan supaya masyarakat dalam memilih dosis untuk terapi bawang putih dan bawang lanang sebagai penurun kadar kolesterol tidak hanya mempertimbangkan tingkat keaktifannya saja akan tetapi juga perlu memperhatikan tingkat keefektivan dosis yang dipilih.

Kata Kunci : DPPH, antioksidan, Phyllanthus acidus [L.] Skeels.
Phyllanthus acidus [L.] Skeels atau lebih dikenal dengan nama ceremai merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki banyak khasiat pada setiap bagian tanaman. Salah satunya yaitu bagian daun yang mempunyai kandungan zat aktif tannin, saponin, polifenol dan flavonoid serta berkhasiat sebagai antioksidan. Untuk mengetahui daun ceremai sebagai antioksidan maka, diperlukan penelitian lebih lanjut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas yang digambarkan dengan nilai IC50 ekstrak daun ceremai. Untuk mendapatkan ekstrak dari daun ceremai digunakan metode ekstraksi perkolasi. Nilai IC50 diperoleh dari Pengujian mengunakan metode DPPH dan alat spektrofotometer pada panjang gelombang 520 nm. Adapun konsentrasi yang diukur yaitu 16 ppm, 32 ppm, 40 ppm dan 60 ppm.
Hasil pembacaan pada spektrofotometer menunjukkan nilai absorbansi dan nilai peredaman dari ekstrak daun ceremai. Dalam penelitian ini diperoleh nilai IC50 yang menggambarkan 50% ekstrak dapat menghambat radikal bebas.
Berdasarkan data yang diperoleh maka didapatkan hasil nilai IC50 pada menit ke-60 pada konsentrasi 0.62 ppm. Hal ini berarti pada konsentrasi 0.62 ppm dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%.
Disarankan untuk cukup membuat satu konsentrasi terlebih dahulu kemudian dianalisa, jika hasil analisa tersebut kurang baik dapat memakai nilai konsentrasi yang lainnya.

Kata kunci : Infus,  Rhizoma Binahong, Asam Urat
Asam urat merupakan hasil pemecahan purin atau produk sisa dalam tubuh. Pada keadaan normal asam urat larut dalam darah dan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui urin. Jika produksi asam urat meningkat atau ginjal tidak mampu mengeluarkan asam urat dari dalam tubuh, maka kadar asam urat dalam darah akan meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh infus rhizoma binahong terhadap kadar asam urat darah mencit putih yang diinduksi dengan jus hati ayam dengan dosis 97,5 mg/20gBB. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 7 macam perlakuan, setiap perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Perlakuan pada kelompok I sebagai kontrol diberi aquadest. Kelompok II-IV masing-masing diberi perlakuan infus rhizoma binahong dengan berbagai dosis, yaitu 0,026 g, 0,052 g dan 0,078 g secara peroral. Sedangkan kelompok V-VII diberi allopurinol dengan dosis berturut-turut 0,026 g, 0,052 g dan 0,078 g. Pengujian aktivitas penurunan kadar asam urat dalam darah dilakukan secara eksperimental menggunakan alat pengukur kadar asam urat (uric test) terhadap mencit. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Varians (ANAVA) dua arah dilanjutkan dengan uji SNK pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan infus rhizoma binahong dosis 0,026 g, 0,052 g dan 0,078 g mampu menurunkan kadar asam urat darah mencit putih yang hiperurisemia. Infus rhizoma binahong dosis 0,078 g memiliki pengaruh yang tidak berbeda secara bermakna dengan allopurinol dosis 0,026 g terhadap penurunan kadar asam urat darah mencit.

Kata Kunci : Hubungan antara sikap dan motivasi, jumlah pasien drop out,
penderita tuberkulosis.
Jumlah penderita TBC di Indonesia menempati urutan ke 3 setelah India
dan China. Untuk menanggulangi permasalahan tesebut dilakukan program TBC,
yaitu penemuan dan penyembuhan penderita TBC secara gratis selama 6 bulan.
Akan tetapi yang menjadi permasalahan dalam penyembuhan adalah pasien drop
out. Banyak faktor yang menyebabkan pasien drop out diantaranya sikap dan
motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sikap dan
motivasi dengan jumlah pasien drop out pada penderita tuberkulosis di puskesmas
Arjuno Kota Malang.
Sikap dan motivasi penderita merupakan faktor yang mendasar untuk
menuntaskan pengobatan. Sikap adalah penilaian penderita TBC atau kesiapan
berperilaku terhadap terapi pengobatan yang akan dilakukan. Sedangkan motivasi
adalah dorongan dari diri penderita dan orang lain untuk menuntaskan
pengobatan.
Penelitian ini di lakukan di wilayah kerja puskesmas Arjuno pada tanggal
1 april sampai 30 juni. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi
dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Adapun populasi dari penelitian
ini adalah semua penderita TBC yang melakukan pengobatan di puskesmas
Arjuno pada tahun 2005-2009 sebanyak 145 orang dan sampelnya sebanyak 94
orang yang memenuhi kriteria inklusi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara sikap dan
motivasi dengan jumlah pasien drop out pada penderita TBC di puskesmas Arjuno
Kota malang. Adanya hubungan antara variabel ditunjukkan oleh nilai χ2 hitung >
χ2 tabel. Nilai χ2 tabel 3,84 sedangkan nilai χ2 hitung untuk variabel sikap adalah
31,507 dan variabel motivasi adalah 48,331. Derajat hubungan yang signifikan
antara variabel ditunjukkan oleh perbandingan nilai Cmax (0,707) dengan nilai Cc
dari sikap (0,501) dan nilai Cc motivasi (0,582).
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan petugas puskesmas pemegang
program TBC melakukan pendekatan emosional dengan semua penderita dan
melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap pola pengobatan, pola hidup
dan perilaku penderita melalui koordinasi orang – orang terdekatnya guna
meningkatkan sikap dan motivasi menuntaskan pengobatan. Dengan begitu
diharapkan dapat menunjang keberhasilan pengobatan TBC.

Kata kunci : Efektifitas, CMC Na, volume sedimentasi, waktu redispersi, suspensi asam mefenamat.
Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel yang tidak larut tetapi terdispersi dalam dalam fase cair.. Asam mefenamat digunakan sebagai obat analgesik antipiretik. Dalam sediaan suspensi ini Asam mefenamat digunakan karena bahan obat tidak larut dalam air tetapi masih diinginkan dalam bentuk sediaan cair. Pada penilitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi yang efektif pada sediaan suspensi Asam mefenamat dengan menggunakan suspending agent CMC Na. CMC Na merupakan suspending agent yang berfungsi meningkatkan viskositas suatu sediaan sehingga dapat digunakan untuk menstabilkan partikel padat yang tidak larut dalam medium pendispersinya.
Konsentrasi CMC Na yang di gunakan pada penelitian ini adalah konsentrasi 0,5% , 1,5% , 2%. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Putra Indonesia Malang, Pada bulan juni 2010. Ada 3 tahap dalam rancangan penelitiaan ini antara lain tahap persiapan ( pengumpulan data), tahap pelaksaan ( praktikum) dan tahap akhir (evaluasi dan kesimpulan). Pada evaluasi sediaan dilakukan uji volume sedimentasi dan waktu redispersi.Untuk analis penelitian ini menggunakan blok random.
Hasil penelitian ini menunjukan adanya perberdaan dari ketiga konsentrasi ( 0,5%, 1,5%, 2% ) pada penggunaan suspending agent CMC Na pada suspensi Asam mefenamat terhadap volume sedimentasi dan waktu redispersi. Hasil penelitian meperoleh kesimpulan bahwa konsentrasi 0,5% yang efektif dalam penggunaan suspensi Asam mefenamat yang ditinjau dari volume sedimentasi dan waktu redispersinya.
Untuk memperoleh hasil yang maksimal disarankan dalam penelitian di perlukan uji mutu fisik suspensi lainnya misalnya uji ukuran partikel dan viskositas sediaaan.

Kata kunci: Efektifitas, ekstrak temu ireng, peningkatan nafsu makan 
Rimpang temu ireng merupakan salah satu tanaman yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai jamu cekok untuk meningkatkan nafsu makan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas dari variasi dosis 2,5 gram, 5 gram, dan 10 gram ekstrak temu ireng terhadap peningkatan nafsu makan tikus. Proses penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang mulai April 2010 sampai Juni 2010. Penelitian ini bersifat eksperimental yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama yaitu tahap persiapan alat, bahan dan sampel. Disiapkan sebanyak 25 ekor tikus putih yang telah dipilih secara randominasi untuk masing-masing perlakuan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok dengan pengulangan sebanyak 5 kali. Tahap kedua yaitu tahap pelaksanaan. Tahap pelaksanaan merupakan tahap pengujian efek peningkatan nafsu makan ekstrak temu ireng pada tikus putih. Sebelum perlakuan diadaptasikan terlebih dahulu selama 1 minggu. Tahap ketiga yaitu tahap perhitungan data dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji SNK. Berdasarkan perhitungan statistik menunjukkan bahwa terdapat peningkatan nafsu makan dari ekstrak temu ireng pada tikus putih. Dan dari konsentrasi dosis ekstrak temu 2,5 gram, 5 gram, dan 10 gram dapat diketahui bahwa konsentrasi dosis 10 gram merupakan dosis efektif yang mempunyai efek peningkatan nafsu makan mendekati kontrol positif. Dari hasil penellitian menunjukkan bahwa konsentrasi dosis berbanding lurus dengan efektifitas. Dalam pemberian konsentrasi dosis yang tinggi akan memberikan efek peningkatan nafsu makan yang mendekati kontrol positif. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disarankan supaya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai isolasi curcumin yang terdapat dalam rimpang temu ireng sehingga zat-zat lainya tidak ikut tersari dan pada akhirnya dapat memaksimalkan pengobatan untuk meningkatkan nafsu makan terutama pada anak - anak. Selain itu, hendaknya dilakukan penelitian lanjutan mengenai uji volunter.

Kata Kunci : tanaman pare, diabetes mellitus, pengukuran kadar gula darah, mus musculus galur balb C.
Pare merupakan salah satu tumbuhan herbal dan tergolong dalam buah, secara turun temurun pare digunakan sebagai berbagai macam pengobatan, salah satu fungsi dari buah pare yaotu sebagai obat anti diabetes mellitus. Pada penelitian ini, dimaksudkan untuk menguji efektifitas buah pare terhadap penurunan kadar gula darah.
Uji efektifitas dalam penelitian yang dilakukan, perlu adanya metode baku yang bisa digunakan sebagai dasar dari pelaksanaan penelitian. Metode yang digunakan yaitu metode eksperimental. Objek penelitian yang digunakan yaitu ekstrak tanaman buah pare yang diperoleh dengan cara maserasi dengan berbagai tingkat dosis terapi, dosis terapi yang digunakan yaitu dosis 0,5gr, 1 gr, dan 1,5 gr. objek yang kedua yaitu hewan uji yang digunakan sebagai variabel kontrol dalam pengukuran kadar gula darah mencit.
Penelitian dilakukan di Labolatorium Farmakognosi Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, dan dilakukan pada bulan maret sampai dengan juni 2010. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu meningkatkan dan menurunkan kadar gula darah. Meningkatkan kadar gula darah pada mencit menggunakan injeksi streptozotosin dengan dosis 0,15 mg/bb mencit, sedangkan penurunan akan menggunakan ekstrak buah pare dan kontrol sebagai pembanding. Hasil dari penurunan kadar gula darah pada mencit setelah perlakuan selama 14 hari yaitu dosis 0,5 gr mengalami penurunan kadar gula sebesar 16 mmhg/dl, dosis 1 gr menurunkan kadar gula sebanyak 29 mmhg/dl dan dosis 1,5 gr sebesar 52,2 mmhg/dl.
Hasil akhir penelitian, ekstrak buah pare positif menurunkan kadar gula darah pada mencit, dan dari variasi dosis, dosis 1,5g merupakan dosis efektif menurunkan kadar gula darah hal ini dikarenakan buah pare memiliki zat karantin yang berfungsi sebagai anti diabetes. Zat karantin bekerja menstimulus sel beta pancreas sehingga produktifitas hormon insulin dapat meningkat Sehingga kadar gula darah pada mencit bisa mengalami penurunan
Kesimpulan dari penelitian yaitu buah pare bisa menurunkan kadar gula dalam darah mencit. Besar harapan dari penelitian ini, untuk dilakukan tindakan lebih lanjut dalam proses penelitian , sehingga hasil dari penelitian ini bisa berguna bagi masyarakat.

Kata Kunci : Respon Klinis, Epilepsi Grand Mall, Lansia, Fenitoin
Saat ini Jumlah penderita epilepsi di Indonesia diperkirakan 1-1,5 juta orang, jumlah ini meningkat setiap tahunnya. Hal ini berarti perlu ada perhatian khusus untuk terapi penyembuhannya. Epilepsi grand mal lebih banyak di derita oleh sebagian penderita epilepsi. Jumlahnya mencapai 60% dari jumlah keseluruhan penderita epilepsi. Salah satu obat antiepilepsi adalah fenitoin. Fenitoin memiliki range terapi yang sempit. Obat ini termasuk obat dengan jarak antara MTC (Minimum Toxic Consentration) dan MEC (Minimum Effectif Consentration) yang sempit artinya rentang antara kadar efek terapi adan efek toksik pendek atau sempit. Sehingga kadar obat dalam plasma harus tepat agar tidak melebihi batas MTC yang dapat menimbulkan efek toksik.Manajemen terapi pada lansia dengan epilepsi memerlukan perhatian khusus terutama karena perubahan terkait usia dalam hal farmakokinetika dan farmakodinamika obat antiepilepsi. Selain itu kemundururan fungsi organ pada lansia mempengerahui kerja obat dalam tubuh. Respon klinis merupakan jawaban yang terjadi pada masing individu setelah mengkonsumsi suatu obat. Dalam hal ini respon klinis yang perlu dipantau adalah respon toksik yang ditimbulkan dari penggunaan obat fenitoin pada penderita epilepsi tipe grend mall lansia.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana respon klinis yang terjadi pada pemakaian fenitoin oleh penderita epeilepsi grand mall lansia yang meliputi hiperplasia gusi, ruam kulit, vertigo, nistagmus, mual, sukar berbicara, ataksia.
Penelitian ini dilakukan di Apotek Rawat Jalan RSSA Malang. Penelitian pemantauan respon klinis fenitoin pada penderita epeilepsi grand mall lansia ini dapat digolongkan dalam penelitian deskriptif. Jumlah sampelnya adalah 18 orang. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 04 Mei sampai 25 Mei 2010 dengan kuesioner yang diisi langsung oleh responden sekaligus wawancara untuk meyakinkan jawaban tersebut.
Hasil penelitian ini adalah 27,8 % pasien mengalami hiperplasia gusi,11,1 % mengalami ruam kulit, 66,7 % mengalami vertigo, 38,9 % mengalami nistagmus, 77,8 % mengalami mual, 22,2 % mengalami sukar berbicara, 66,7 % mengalami ataksia setelah 3 jam mengkonsumsi obat fenitoin.
Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa secara umum efek toksik pada pemakaian fenitoin terjadi pada penderita epilepsi grand mall lansia.
Berdasarkan penelitian diharapkan dokter dan paramedis dapat meningkatkan pelayanan secara prima. Pasien juga diharapkan untuk lebih aktif mencari info tentang obat fenitoin dan mengkonsumsi obatnya secara teratur sehingga keberhasilan terapi dapat diperoleh.

Kata kunci : Perbedaan Uji Aktivitas Antibakteri, Perasan Bawang Lanang dan
Amoksisilin, Staphylococcus aureus.
Bawang lanang (Allium sativum linn) merupakan salah satu tanaman obat
tradisional yang memiliki banyak khasiat dalam menyembuhkan berbagai
macam penyakit. Banyak yang memperikarakan alisin dalam bawang lanang
mempunyai khasiat sebagai antibiotik alami yang sangat kuat, bahkan dua belas
kali dibandingkan antibiotik penisilin.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi bunuh minimum dari
perasan bawang lanang dan amoksisilin terhadap Staphylococcus aureus serta
untuk mengetahui perbedaan aktivitas antibakteri perasan bawang lanang dan
amoksisilin dalam menghambat dan membunuh Staphylococus aureus.
Bawang lanang yang digunakan dalam penelitian ini berupa bawang segar
yang dibuat dalam bentuk perasan. Proses pemerasan dilakukan dengan cara
menggunakan juicer. Perasan diuji spesifikasi yaitu uji berat jenis. Uji berat jenis
perasan bawang lanang pada suhu 20°C adalah 1,361 gram/ml. Selanjutnya
perasan dibuat dalam beberapa konsentrasi yaitu 0%, 3%, 6%, 9% dan 12%
dengan menggunakan aquadest steril sebagai pelarut. Sedangkan antibiotik yang
digunakan berupa sirup kering amoksisilin yaitu 0%, 3%, 6%, 9%, dan 12%
dengan pelarut dan cara yang sama seperti perasan bawang lanang.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Akademi Farmasi “Putra
Indonesia” Malang selama bulan Mei sampai Juni 2009. Penelitian ini adalah
penelitian eksperimental.
Hasil penelitian, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan konsentrasi
hambat minimum dan konsentrasi bunuh minimum antara perasan bawang lanang
dan amoksisilin terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Dari beberapa
konsentrasi tersebut pada konsentrasi 12% perasan bawang lanang dapat
menghambat pertumbuhan dan mempunyai daya bunuh terhadap Staphylococcus
aureus. Konsentrasi 12% setara dengan 1,02 gram bawang lanang segar (0,5 siung
bawang lanang segar dengan ukuran yang sama). Sedang amoksisilin hanya
mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus pada 12% dan belum
diperoleh daya bunuhnya.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan perlu dilakukan peningkatkan
dosis untuk uji konsentrasi bunuh minimum dari amoksisilin dan perlu dilakukan
uji aktivitas antibakteri untuk amoksisilin dengan menggunakan pelarut lain.

Kata Kunci : Efek Anthelmintik, Seduhan Rimpang Temu Hitam , Ascaris suum.
Anthelmintik adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan berbagai
jenis penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing .Masyarakat menggunakan 25
gram rimpang Temu hitam yang diseduh dengan 100 ml air panas sebagai obat cacing
Ascaris lumbricoides .Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah
seduhan rimpang temu hitam 0,194%, 0,97% ,1,75 % dapat membunuh Ascaris suum.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Yayasan Putra
Indonesia Malang tanggal 16 Juni 2009 .Penelitian ini terdiri dari 3 tahap ,yaitu :
tahap pendahuluan , tahap pelaksanaan dan tahap akhir .Tahap pendahuluan berupa
pengujian NaCl 0,9 % sebagai media .Tes media bertujuan untuk mengetahui
lamanya waktu pengamatan dan kesuaian media dengan kondisi hewan coba . Tahap
pelaksanaan berupa pengujian efek anthelmintik seduhan rimpang Temu hitam
0,194%, 0,97% ,1,75 % dan Pirantel pamoat 0,015 % sebagai pembanding
.Sedangkan tahap akhir adalah analisis data .
Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa jumlah cacing Ascaris suum
yang mati setelah perendaman dengan larutan uji. Rancangan yang digunakan adalah
rancangan acak kelompok dengan 4 replikasi dan 4 perlakuan.Jika ada seduhan
rimpang temu hitam yang dapat membunuh Ascaris suum yang sama atau lebih besar
dari Pirantel pamoat 0,015 % maka dilakukan analisis dengan uji statistik Z.
Hasil penelitian seduhan rimpang Temu hitam 0,194% tidak dapat membunuh
Ascaris suum sedangkan pada 0,97% masing – masing replikasi dapat mematikan
Ascaris suum 1,0,0,0 ekor dan seduhan rimpang Temu hitam 1,75 % masing – masing
replikasi dapat mematikan 2,3,3 dan 3 Ascaris suum .Sedangkan sebagai pembanding
Pirantel pamoat 0,015 % dapat mematikan Ascaris suum masing – masing sebanyak
3,4,4,3 ekor Ascaris suum . Sehingga dapat disimpulkan bahwa seduhan rimpang
Temu hitam 0,194% dan 0,97%, belum mempunyai kemampuan membunuh Ascaris
suum .Sedangkan berdasarkan uji statistik Z ,seduhan rimpang Temu hitam 1,75 %
sudah mempunyai kemampuan membunuh .Ini berarti Seduhan rimpang temu hitam
yang digunakan oleh masyarakat belum mempunyai kemampuan membunuh Ascaris
suum.
Berdasarkan hasil penelitian ,diharapkan ada penelitian lanjutan tentang dosis
efektif rimpang Temu hitam yang membunuh Ascaris suum .Pada penggunaan
seduhan rimpang temu hitam oleh masyarakat untuk mengobati ascariasis perlu
ditingkatkan dosisnya dan digunakan dengan cara merebus rimpang temu hitam .
Pengaruh Ekstrak Rimpang Lempuyang Gajah (Zingiber
zerumbet Smith) terhadap Aktivitas Antibakteri pada Bakteri
Staphylococcus aureus
oleh: Agustina 
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang 
Kata Kunci : Aktivitas ekstrak rimpang lempuyang gajah, antibakteri,
Staphylococus aureus
Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman
tanaman terutama hasil pertanian dan rempah-rempah, salah satunya yaitu
lempuyang gajah (Zingiber zerumbet Smith). Bagian dari tanaman lempuyang
gajah yang sering digunakan sebagai obat adalah rimpangnya. Secara tradisional,
rimpang lempuyang gajah dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam
penyakit diantaranya dipakai untuk mengobati penyakit kulit atau infeksi pada
kulit akibat jamur atau bakteri patogen misalnya bisul. Hal ini dikarenakan
rimpang lempuyang gajah (Zingiber zerumbet Smith) mengandung senyawa
antibakteri yaitu minyak atsiri yang dapat merusak membran sel mikroorganisme
dan denaturasi protein. Selain itu rimpang lempuyang gajah juga mengandung
flavonoid dan saponin yang diyakini mengandung senyawa antibakteri. Oleh
karena itu, dilakukan uji secara ilmiah untuk membuktikan khasiat tersebut,
dengan menguji aktivitas antibakteri ekstrak rimpang lempuyang gajah terhadap
salah satu bakteri penyebab infeksi yaitu bakteri Staphylococcus aureus.
Ekstrak lempuyang gajah yang digunakan, diperoleh melalui ekstraksi
dengan cara perkolasi menggunakan pelarut etanol 70% yang diuapkan menjadi
ekstrak kental menggunakan rotary evaporator. Percobaan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dan 3 kali pengamatan. Dosis
ekstrak yang diujikan adalah 5 g, 10 g dan 15 g, dengan menggunakan kontrol
positif dan negatif.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang pada bulan April – Juni. Penelitian aktivitas antibakteri
ekstrak rimpang lempuyang gajah terhadap Stapylococcus aureus meliputi tiga
tahap kerja. Pertama, tahap persiapan yaitu penyiapan bahan ekstrak rimpang
lempuyang gajah dengan cara perkolasi, persiapan media cair Nutrient Broth dan
media selektif Manitol Salt Phenol red Agar, sterilisasi alat-alat, persiapan biakan
murni Staphyloccocus aureus. Kedua, tahap pelaksanan yaitu pengujian aktivitas
rimpang lempuyang gajah terhadap Staphylococcus aureus. Ketiga, tahap akhir
yaitu tahap pengolahan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak lempuyang gajah dapat
menghambat pertumbuhan koloni bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya luas daerah hambat atau zona bening pada ketiga
dosis yaitu 5 g, 10 g dan 15 g sebesar 67,93 mm2, 124,83 mm2 dan 180,73 mm2.

Kata kunci : Daya Hambat, Ekstrak Daun Binahong, Ampisilin, Staphylococcus aureus.
Di negara kita Indonesia angka kematian akibat penyakit infeksi dapat dikatakan cukup tinggi, hal ini ditunjang dengan kondisi iklim Indonesia yang memiliki udara cukup lembab, akan berbahaya apabila tidak di tangani dengan tepat, karena air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Untuk mengobati infeksi dapat dilakukan dengan terapi obat-obat antibiotik, namun seringkali efek samping dari antibiotik dapat merugikan tubuh, untuk menghindari dampak buruk dari antibiotik adalah dengan memanfaatkan bahan-bahan alam yang dapat menyembuhkan infeksi, salah satu dari beragam bahan alam yang dapat menyembuhkan infeksi adalah binahong, dalam daun binahong terkandung asam askorbat, antioksidan dan kandungan fenol yang cukup tinggi. Asam askorbat dan antioksidan berguna untuk mempercepat penyembuhan luka, sedangkan fenol berfungsi sebagai anbakteri. Berdasar pengalaman, daun binahong digunakan masyarakat sebanyak lima lembar, kemudian ditumbuk dan ditempelkan di tempat yang luka.
Agar diketahui besar potensi antibakteri pada daun binahong maka dalam penelitian ini akan dibandingkan aktifitas antibakteri lima lembar ekstrak daun binahong dengan antibiotik ampisilin yang sudah teruji secara klinis dan keduanya sama-sama dapat membunuh bakteri (bakterisid)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya, ampisilin memiliki aktifitas antibakteri yang lebih baik daripada ekstrak daun binahong. Salah satu faktornya adalah ekstrak yang didapatkan dari daun binahong bukan merupakan isolat murni fenol yang dicurigai sebagai antibakteri, sehingga kita tidak dapat mengetahui berapa jumlah senyawa antibakteri yang didapatkan. Diharapkan pada penelitian selanjutnya yang serupa agar digunakan isolat murni senyawa yang diinginkan agar didapat hasil yang lebih baik.

Kata Kunci : Diversifikasi, minyak atsiri rimpang kencur, analgesik, sediaan gel.
Dalam pengobatan tradisional rimpang kencur atau kaempferiae rhizoma
mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan, salah satunya adalah sebagai anti
nyeri atau analgesik. Selama ini rimpang kencur banyak digunakan untuk
pengobatan tradisional dalam bentuk jamu dan serbuk instan, oleh karena itu
untuk meningkatkan nilai ekonomis dari rimpang kencur maka rimpang kencur di
diversifikasi dengan cara mengambil minyak atsirinya yang berfungsi sebagai
analgesik dan kemudian dibuat dalam bentuk sediaan gel.
Minyak atsiri rimpang kencur yang digunakan, diperoleh melalui isolasi
dengan metode destilasi uap air yang dipisahkan dengan Petroleum Eter dan
diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator. Percobaan di lakukan dengan
membedakan konsentrasi minyak atsiri rimpang kencur dalam tiga formula, yaitu
formula I, II, dan III. konsentrasi minyak atsiri dalam ketiga formula tersebut
yaitu formula I sebanyak 14 %, formula II sebanyak 16 %, dan pada formula III
sebanyak 18 %.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmasetika Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang pada bulan April – Juni 2010. Penelitian optimalisasi
minyak atsiri rimpang kencur dalam bentuk sediaan gel meliputi tiga tahap kerja.
Pertama, tahap persiapan yaitu menentukan bahan dan alat – alat yang akan
digunakan untuk penelitian. Kedua, tahap pelaksanaan yaitu proses pembuatan
minyak atsiri rimpang dan pembuatan sediaan gel, serta pengujian sediaan gel.
Ketiga, tahap akhir yaitu tahap pengolahan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri rimpang kencur dapat
dibuat dalam bentuk sediaan gel dengan mutu fisik gel yang baik, pada formula III
dengan penambahan minyak atsiri sebanyak 18 % lebih disukai oleh responden
karena lebih terasa hangat dibanding formula I dan formula II.

Kata Kunci: Aktivitas Ekstrak Kayu Secang, Menghambat Pertumbuhan,
Escherrichia coli.
Kayu secang merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak
khasiat dalam penyembuhan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah
penyakit diare. Diare merupakan buang air dengan banyak cairan (mencret) dan
merupakan gejala dari penyakit tertentu lainnya. Adapun cara pengobatannya
dapat menggunakan obat sintetis maupun tradisional. Pengobatan tradisional ini
berdasarkan pengalaman empiris yang penggunaannya dalam bentuk seduhan.
Didalam kayu secang mengandung zat antibakteri yaitu resorsin dan delta-alfaphelandrean..
Kayu secang yang digunakan ini diperoleh dari pasar Prambon
Kec.Prambon Kab.Sidoarjo. kayu secang yang digunakan adalah serutan dari
tanaman kayu secang.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi
Putra Indonesia Malang pada bulan April-Juni 2010. Penelitian ini adalah
penelitian experimental yang dilakukan secara mikrobiologi dengan metode difusi
menggunakan cakram kertas. Hambatannya ditandai dengan adanya zona bening
disekitar cakram kertas dan dapat diketahui dengan zona yang tidak ditumbuhi
bakteri. Adapun analisa data yang digunakan adalah standart deviasi dan
koevisien varian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kayu secang dari
konsentrasi 3 gram, 6 gram, 9 gram menghasilkan hambatan yang ditandai zona
bening disekitar cakram kertas terhadap pertumbuhan bakteri Escherrichia coli.
pada ekstrak 3 gram menghasilkan rata-rata hambatan sebesar 7,83 mm, ekstrak 6
gram menghasilkan rata-rata sebesar hambatan 9,3 mm dan ekstrak 9 gram
menghasilkan rata-rata hambatan sebesar 10,9 mm.
Berdasarkan hasil penelitian ini, ekstrak kayu secang dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Escherrichia coli yang ditandai dengan zona bening disekitar
cakram kertas.

Kata kunci : aktivitas antibakteri, ekstrak daun pandan wangi, Staphylococcus aureus, doksisiklin HCl. Pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 
Merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk menggobati infeksi luka. Daun pandan mengandung saponin, tanin, flavonoid, polifenol, alkaloid serta zat warna dan yang diperkirakan mempunyai daya antibakteri yaitu saponin, tanin, flavonoid dan polifenol. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun pandan wangi terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus serta mengetahui daerah hambatan yang dihasilkan oleh ekstrak daun pandan dengan dosis 5,16 gr, 15,19 gr dan 23,42 gr terhadap pertumbuhan bakteri Staphylocoocus aureus. Daun pandan wangi yang digunakan yaitu daun segar yang kemudian dikeringkan. Proses pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara perkolasi kemudian dievaporasi sehingga didapatkan ekstrak kental. Hasil ekstrak kemudian dikonversikan dalam berbagai dosis yaitu 5,16 gr, 15,19 gr dan 23,42 gr. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Akademi Farmasi “Putra Indonesia” Malang selama bulan April sampai bulan Juni 2010. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pandan wangi belum mempunyai aktivitas antibakteri dikarenakan besar daerah hambatan ekstrak daun pandan wangi lebih kecil dibandingkan dengan doksisiklin (kontrol positif). Sedangkan dari hasil perhitungan, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang besar antar berbagai dosis. Terdapat perbedaan yang besar antar berbagai dosis dengan kontrol positif. Kontrol positif yang digunakan yaitu antibiotik doksisiklin HCl kapsul.Berdasarkan hasil penelitian, disarankan perlu dilakukan peningkatan dosis untuk aktivitas antibakteri, serta perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.


Kata kunci: tingkat pengetahuan, keluarga balita, penyakit ISPA
ISPA merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan balita di negara berkembang, khususnya Indonesia, yaitu sebesar 28%. Hambatan yang dihadapi masyarakat antara lain berupa pengetahuan dan perilaku. Tahun 2003 sebanyak 5 dari 1000 balita meninggal karena ISPA, artinya 300 balita setiap hari. Setelah berlangsung 2 tahun diharapkan angka kematian Balita karena ISPA menurun sesuai dengan target milleneum goals menjadi 2 per 1000. Penyakit ISPA di Jombang masih menempati posisi pertama dari 10 penyakit terbanyak yaitu 33,02. Bulan Juli 2009 di Puskesmas Bareng tercatat 2304 kasus ISPA dan Agustus naik menjadi 2351 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan keluarga balita tentang penyakit ISPA di Desa Banjaragung Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, populasi sebanyak 35 orang, pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen pengumpulan data adalah kuesioner, data dianalisis dan disajikan dalam bentuk grafik dan tabel.Hasil penelitian diperoleh tingkat pengetahuan keluarga balita tentang penyakit ISPA 85,1% baik sekali.Kesimpulan dari penelitian perlunya peningkatan perilaku hidup sehat seperti tidak merokok baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat dan peningkatan kegiatan penyuluhan oleh petugas kesehatan kepada masyarakat mengenai syarat rumah sehat sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan.

Kata kunci : Efektivitas, Metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA), pengetahuan dan
ketrampilan pemilihan obat, kader.
Tujuan pembangunan dibidang kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat
bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Salah satu
upaya yang dilakukan adalah dengan swamedikasi yang benar. Dengan swamedikasi
masyarakat dapat menghemat tenaga, waktu dan biaya. Namun swamedikasi yang dilakukan
dengan tidak benar bukan hanya suatu pemborosan, melainkan hal yang berbahaya karena
obat selain mempunyai khasiat juga mempunyai efek samping dan kontraindikasi.
Pengetahuan dan ketrampilan dalam memilih obat sangatlah mendukung keberhasilan
swamedikasi. Metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA) adalah suatu metode pembelajaran bagi
ibu-ibu kader agar lebih aktif mencari informasi mengenai kandungan, manfaat, khasiat obat,
efek samping dan kontraindikasi. Dengan adanya metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA) bagi
ibu-ibu kader tujuan dari swamedikasi tercapai secara optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode Cara Belajar Ibu Aktif
(CBIA) terhadap peningkatan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu kader di wilayah kerja
Puskesmas Kecamatan Lamongan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2009 –
Januari 2010. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu deskriptif, tahap-tahap
penelitian penelitian terdiri dari persiapan, menetapkan sampel, menyebarkan kuesioner dan
analisa data untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA)
efektif terhadap peningkatan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu kader dalam memilih obat
di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Lamongan. Berdasarkan hasil kuesionar ibu-ibu
kader menunjukkan adanya peningkatan prosentase jumlah skor jawaban responden
dibandingkan skor total yang diharapkan antara pretes dan postes.
Dengan berhasilnya metode Cara Belajar Ibu Aktif (CBIA) diharapkan bagi Dinas
Kesehatan Kabupaten Lamongan, ke depannya dapat dijadikan salah satu program kerja
puskesmas. Memperluas pelaksanaan metode CBIA kepada para kader lain yang belum
mendapatkan juga masyarakat luas. Sehingga tujuan dari program ini dapat tercapai secara
optimal.


Kata Kunci : Inkompatibilitas, penambahan, injeksi, infus intravena.
Inkompatibilitas terjadi karena interaksi beberapa macam obat yang diberikan secara bersamaan pada pola multiple drug therapy. Terapi farmakologi dengan obat di Rumah sakit banyak melakukan tindakan sediaan injeksi yang dimasukkan ke dalam larutan infus intravena (iv admixture). Perubahan yang terjadi pada pola multiple drug therapy di kasus iv admixture diawali dengan perubahan secara fisika dan kimia yang mengakibatkan perubahan pada efek farmakokinetik dan farmokodinamik suatu obat dalam tubuh pasien. Penelitian ini bertujuan mengungkap Inkompatibilitas penambahan sediaan injeksi dalam larutan infus intravena di Rumah Sakit “X” di Kabupaten Jombang.
Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Inap rumah Sakit “X” di Kabupaten Jombang bulan Mei sampai September 2009. Penelitian terhadap Inkompatibilitas penambahan sediaan injeksi dalam larutan infus intravena dilakukan dengan metode survei dari Data Rekam Medik pasien rawat inap. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah sediaan injeksi yang dimasukkan dalam larutan infus intravena. Analisis data dilakukan dengan cara identifikasi kasus penambahan sediaan injeksi dalam larutan infus intravena dan perhitungan jumlah kasus yang bersifat Inkompatibel dan yang Kompatibel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus Inkompatibilitas sebanyak 15% dari kasus iv admixture di Rumah Sakit “X” di Kabupaten Jombang ditandai dengan adanya kabut, kekeruhan dan perubahan warna dari jernih menjadi ungu.
Berdasarkan hasil penelitian perlu dilakukan pemberian informasi tentang efek Inkompatibilitas iv admixture kepada Direktur dan dokter di Rumah Sakit “X” di Kabupaten Jombang, edukasi Kompatibilitas dan informasi tentang efek Inkompatibilitas iv admixture kepada tenaga kasehatan di Rumah Sakit “X”, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan identifikasi hasil reaksi obat injeksi dengan larutan infus intravena serta perhitungan penurunan kadar obat yang dimasukkan dalam larutan infus intravena, dan penelitian perlu dilakukan pada ruang rawat inap lain, seperti pada ruang rawat inap bagian bedah dan ruang rawat inap bagian kebidanan dan kandungan.


Kata kunci : Tingkat Kepuasan, Pelayanan kefarmasian, Apotek
Pelayanan merupakan suatu kegiatan yang terjadi dalam interaksi
langsung antara seseorang dengan orang lain. Pelayanan kefarmasian termasuk
pelayanan publik yang perlu diperhatikan sebab pelayanan kefarmasian
mempunyai keterkaitan erat dengan masyarakat. Salah satu jenis pelayanan yang
menjadi sorotan bagi masyarakat sekarang ini yaitu pelayanan yang bermutu
dibidang kesehatan. Pelayanan yang bermutu dapat dilihat, salah satunya dengan
melihat dati tingkat kepuasan konsumen atau pasien. Kepuasan pasien menjadi
bagian yang integral dan menyeluruh dan kegiatan kegiatan jaminan mutu
pelayanan kesehatan artinya, kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang tidak
dapat dipisahkan dari mutu pelayanan kesehatan. Jika kita akan melakukan upaya
peningkatan mutu pelayanan maka mutlak perlu dilakukan analisa dari tingkat
kepuasan pasien.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana tingkat
kepuasan pasien terhadap pelayanan obat di Apotek “WR.SUPRATMAN” Kota
Malang terhadap cara kejelasan petugas dalam memberikan informasi obat kepada
pasien, kecepatan pelayanan obat, kesopanan dan keramahan petugas pelayanan
obat, kewajaran harga obat, kenyamanan lingkungan ruang tunggu obat, serta
kelengkapan obat. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan
responden sebanyak 129 responden yang mendapatkan pelayanan obat di Apotek
“WR.SUPRATMAN” Kota Malang pada bulan Januari 2010 mulai tanggal 4-10
Januari 2010.
Dari penelitian ini didapatkan nilai Kejelasan petugas pelayanan obat,
prosentase 61.43% termasuk kategori puas. Kecepatan pelayanan obat, prosentase
48.44% termasuk kategori cukup puas. Kesopanan dan keramahan petugas
pelayanan obat, prosentase 72.67% termasuk kategori puas. Kewajaran harga
obat, prosentase yaitu 62.01% termasuk kategori puas. Kenyamanan lingkungan
ruang tunggu, prosentase 47.48% termasuk kategori cukup puas. Kelengkapan
obat, prosentase yaitu 62.79% termasuk kategori puas.
Hasil penelitian dapat disarankan menambah petugas racik obat untuk
membantu petugas pelayanan obat yang sudah ada sehingga pelayanan obat dapat
memenuhi target waktu pelayanan yang telah ditentukan dan petugas pelayanan
obat lebih memperhatikan untuk selalu memberikan informasi mengenai fungsi
dari masing-masing obat yang diberikan kepada pasien serta peningkatan sumber
daya manusia yang sesuai dengan job deskription yang jelas pada masing-masing
bagian di apotek tersebut serta menambahkan ruang konseling untuk Apoteker.


Kata kunci : Hubungan sikap Ibu tentang personal hygiene, kejadian diare pada balita
Diare merupakan penyakit yang menjadi masalah dalam masyarakat karena angka kesakitan yang cukup tinggi ,diare ini lebih sering terjadi pada balita. Diare dibedakan menjadi diare spesifik dan diare non spesifik. Diare spesifik disebabkan oleh kuman khusus mapun parasit dan biasanya berkaikat dengan sikap personal hygiene seseorang. Diare non spesifik disebabkan oleh makanan yang merangsang atau yang tercemar, stress, penyakit tertentu dan lain-lain biasanya tidak berkaitan dengan sikap personal hygiene.

Tujuan pada penelitian ini yaitu mengetahui hubungan sikap ibu tentang personal hygiene  dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Gending Gresik .
           Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan metode cross sectional, populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak balita sakit diare yang berobat ke puskesmas Gending Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik  dengan jumlah sampel   25  responden ,dengan alat bantu berupa kuesioner, kemudian data dianalisis dengan uji chi square.
          Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  c2  hitung  8,75  >  c2  tabel  3,94 sehingga H diterima yang artinya ada hubungan antara sikap ibu tentang personal hygiene dengan kejadian diare pada balita di  Puskesmas Gending  Gresik.
Hasil penelitian ini diharapkan khususnya ibu semakin meningkatkan  personal hygiene sehingga angka kejadian diare pada balita di masyarakat menurun.

Kata kunci : kepuasan pasien, pelayanan obat, Puskesmas
Puskesmas adalah salah satu instansi pemerintah yang merupakan sarana
kesehatan tingkat pertama yang memberikan pelayanan publik kepada masyarakat
di sekitarnya, juga merupakan satuan organisasi fungsional yang bertanggung
jawab serta mempunyai wewenang atas pemeliharaan kesehatan secara
menyeluruh. Salah satu yang menjadi tolok ukur keberhasilan puskesmas dalam
menjalankan fungsinya adalah apabila masyarakat atau pasien yang berkunjung
merasakan kepuasan setelah berobat di Puskesmas. Untuk itu, perlu adanya
pemeriksaan secara berkala terhadap tingkat kepuasan pasien yang datang untuk
berobat di Puskesmas, terutama di Puskesmas Karanggeneng Kecamatan
Karanggeneng Kabupaten Lamongan sebagai tempat pengabdian peneliti selama
ini.
Penelitian ini menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif dengan
responden sebanyak 100 pasien yang datang untuk berobat dan mendapatkan
pelayanan obat di Puskesmas Karanggeneng Kecamatan Karanggeneng
Kabupaten Lamongan.
Dari hasil penelitian didapatkan nilai indeks kepuasan pasien sebesar 3,10
sehingga angka tingkat kepuasan pasien adalah 77,58. Angka ini apabila
diinterpretasikan ke dalam mutu pelayanan masuk dalam kategori B. kategori ini
apabila diinterpretasikan ke dalam kinerja maka menunjukkan kinerja unit
pelayanan dengan hasil Baik.
Berdasarkan penelitian tentang Tingkat Kepuasaan Pasien terhadap mutu
pelayanan obat di Puskesmas Karanggeneng Kecamatan Karanggeneng
Kabupaten Lamongan, hendaknya perlu memperhatikan beberapa hal yang
dimungkinkan dapat digunakan sebagai langkah untuk lebih meningkatkan lagi
kepuasan pasien, yaitu dilakukannya evaluasi secara berkesinambungan, dan
menindaklanjuti hasil evaluasi serta meningkatkan pengetahuan petugas
pelayanan obat tentang manajemen kepuasan konsumen dengan cara
mengikutsertakan pada berbagai kegiatan yang terkait.

Kata kunci : evaluasi, tingkat kepuasan, pelayanan,
Apotek adalah suatu tempat tertentu dimana dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran obat pada masyarakat. Tugas  dan fungsi apotek adalah sebagai tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan, sarana farmasi yang melaksanakan peracikan, pengobatan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat dan sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlikan masyarakat secara meluas dan merata. Dalam melakukan pengelolaan apotek, kepuasan pasien harus mendapatkan porsi perhatian yang tinggi karena kepuasan pasien dapat mempengaruhi minat pasien untuk kembali ke apotek yang sama.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan di apotek RSD Dr. SOEGIRI LAMONGAN terhadap 4 Dimensi yaitu Responsiveness (ketanggapan), Reliability (kehandalan), Assurance (jaminan), Emphaty (kepedulian), Tangibles (bukti langsung). Desain yang digunakan studi  korelasional dengan pendekatan cross sectional dengan teknik simple random sampling sampel dalam penelitian ini adalah  keluarga  pasien atau  pasien sendiri yang datang di RSD Dr. SOEGIRI LAMONGAN sebanyak 100 responden.
Hasil penelitian menunjukan bahwa  responden pada dimensi mutu dimensi responsiveness menjawab (2,54) tidak memuaskan, pada dimensi mutu reliability
responden menjawab (2,30) tidak memuaskan,pada dimensi mutu assurance responden menjawab cukup memuaskan (3,39), pada dimensi mutu emphaty responden menjawab (3,83), pada dimensi mutu tangible responden menjawab (3,21), sedangkan pada dimensi kepuasan pelanggan didapatkan nilai (4305) cukup memuaskan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah  tingkat kepuasan pasien dapat  dipengaruhi oleh beberapa faktor. oleh karena itu hendaknya pada pihak manajemen RS maupun dari pihak interen dari apotek itu sendiri meningkatkan pelayanan kepada pelanggan agar tidak lari ke apotek luar sehingga akan mengurangi pendapatan

Kata kunci : Analisis, Pola peresepan, Pasien jamkesmas rawat inap, RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik
Rumah sakit umum daerah Ibnu Sina Kabupaten Gresik merupakan Rumah sakit umum yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat miskin melalui program Jamkesmas. Pelayanan pada pasien Jamkesmas meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap, serta pelayanan penunjang yang salah satunya pelayanan dibidang farmasi.
Pelayanan farmasi pada pasien Jamkesmas rawat inap dilayani didepo farmasi rawat inap yang berdasar pada pedoman pelaksanaan Jamkesmas yang ditetapkan oleh menkes. Namun penulisan resep pada pasien Jamkesmas rawat inap terdapat penyimpangan diluar pedoman pelaksanaan yang ada. Sehingga pelayanan terhadap pasien Jamkesmas rawat inap menjadi terhambat. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan mengetahui pola peresepan pada pasien jamkesmas rawat inap di Rumah sakit Ibnu Sina kabupaten Gresik.
Penelitian ini dapat digolongkan kedalam penelitian deskriptif dimana data disajikan dalam bentuk tabel prosentase yang kemudian diambil kesimpulan.
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa analisis pola peresepan pada pasien Jamkesmas rawat inap di RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik terdapat sebagian penulisan resep diluar pedoman pelaksanaan Jamkesmas pada jenis antibiotika.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan adanya pedoman pembantu dan pada penulisan resep pasien Jamkesmas mengikuti pedoman pelaksanaan yang telah ada, sehingga dapat mempercepat pelayanan farmasi pada pasien Jamkesmas yang rawat inap di RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik

Kata Kunci : Sistem Distribusi, Gudang Farmasi, Instalasi Farmasi, RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik.
                              Periode bulan Oktober  – Desember 2009.
            RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik merupakan sarana kesehatan yang memberikan pelayanan masyarakat umum baik dari ekonomi rendah, cukup, sedang sampai dengan ekonomi menengah keatas, yang beragam mulai dari balita sampai dengan usia lanjut, wanita hamil sampai melahirkan.Baik itu dari pasien umum, askes, gakin, astek dan dari perusahaan. Untuk memenuhi pelayanan diatas kebutuhan obat-obatan pasien yang ada di RSUD Ibnu Sina Kabupaten Gresik menggunakan sisten distribusi yang dimulai dari pengecekkan stock barang yang ada di gudang farmasi atas dasar stock gudang dibuatlah suatu daftar permintaan obat.
            Dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit salah satunya adalah gudang farmasi sebagai penyimpanan dan pengeluaran obat. Pelayanan yang dilakukan oleh gudang instalasi sebagai pendistribusian obat ke depo farmasi serta untuk menunjang pelayanan kesehatan.
            Penelitian ini dapat digolongkan kedalam penelitihan Diskriptif dimana data disajikan dalam bentuk tabel lembar permintaan obat yang kemudian diambil kesimpulan
            Dalam penelitian ini, yang dilakukan selama 3 bulan dapat ditarik kesimpulan kebutuhan obat yang terlayani berdasarkan lembar permintaan dari gudang farmasi hampir memenuhi kebutuhan obat di masing-masing depo, baik depo rawat inap, depo rawat jalan, depo IBS, Depo IGD.
            Berdasarkan penelitihan seharusnya untuk memenuhi kebutuhan oleh depo farmasi sampai kebutuhan maksimal, mungkin dengan cara mengajukan usulan obat yang fast-moving lebih banyak dibanding dengan yang slow-moving, sehingga dapat memberikan pelayanan  secara maksimal.

Kata kunci : harapan konsumen, pelayanan, kepuasan, apotek.
            Apotek merupakan tempat dilakukannya usaha-usaha dalam bidang farmasi dan pekerjaan kefarmasian khususnya penyaluran obat dan perbekalan farmasi secara meluas dan merata kepada masyarakat. Sebagai apotek yang pertama kali ada di Kota Gresik maka Apotek Semen Gresik selalu mengutamakan kepuasan masyarakat atau konsumen yang datang untuk membeli obat. Untuk mencapai hal tersebut maka diperlukan upaya untuk mengetahui gambaran harapan konsumen yang sebenarnya dan pelaksanaan pelayanan yang selama ini dilakukan oleh Apotek Semen Gresik. Gambaran yang didapatkan akan dapat digunakan sebagai dasar dalam mengambil langkah untuk perbaikan layanan dimasa yang akan datang.
            Penelitian ini dilaksanakan di Apotek Semen Gresik. Populasi penelitian ini adalah semua konsumen yang datang untuk membeli obat di Apotek Semen Gresik, sedangkan sampelnya adalah konsumen yang datang minimal kedatangan yang kedua untuk membeli obat di Apotek Semen Gresik dalam Bulan November – Desember 2009. Sampel yang sudah menjadi responden tidak dijadikan responden lagi. Jumlah sampel yang diambil adalah 100. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari dua macam kuesioner, satu berisi pertanyaan – pertanyaan yang menunjukkan harapan konsumen dan satunya lagi berisi tentang pernyataan – pernyataan yang menunjukkan pelaksanaan pelayanan.
            Hasil penelitian menunjukkan tentang gambaran yang sebenarnya yaitu konsumen berharap pada semua sub variabel yang telah dibuat untuk dapat dilaksanakan oleh Apotek Semen Gresik, kecuali pada sub variabel harga obat, kenyamanan ruang tunggu dan layanan antar jemput yang dianggap cukup penting, tidak penting, atau sangat tidak penting untuk diberikan pada konsumen. Disamping itu konsumen menilai pelaksanaan pelayanan yang dilakukan oleh Apotek Semen Gresik hampir semuanya sangat baik atau baik, kecuali pada sub variabel informasi, edukasi, kenyamanan ruang tunggu, layanan antar jemput, dan keamanan parkir, masih ada dan lebih banyak menilai cukup baik, tidak baik, atau bahkan sangat tidak baik. Langkah – langkah yang harus segera dilaksanakan oleh pihak Apotek Semen Gresik adalah petugas apotek memberitahukan larangan yang harus dipatuhi selama minum obat kepada pasien, petugas apotek memberi penjelasan kepada pasien, mengapa larangan – larangan tersebut harus dipatuhi selama minum obat dan petugas apotek mengingatkan, mengapa pasien harus selalu mematuhi aturan pakai obat.
            Berdasarkan hasil penelitian maka yang dapat disarankan oleh peneliti adalah sub variabel yang dirasakan tidak penting oleh pasien beserta keluarganya hendaknya tidak perlu dilaksanakan sehingga menghemat energi petugas Apotek Semen Gresik dan selalu mencari variabel – variabel yang dapat meningkatkan kepuasan pasien beserta keluarganya untuk dijadikan bahan penelitian internal Apotek Semen Gresik dalam upaya meningkatkan kepuasan konsumen.


Kata Kunci : kepuasan pasien, pelayanan kefarmasian/R/, Apotek Rumah Sakit Lavalette Malang 
Perkembangan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat serta semakin ketatnya persaingan antar rumah sakit mengakibatkan tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan semakin meningkat. Untuk memenuhi tuntutan tersebut dilakukan upaya perbaikan secara terus menerus dan berkelanjutan atau disiplin berinovasi, Apotek sebagai salah satu unit penunjang medis dalam rumah sakit berinovasi dalam  memberikan pelayanan  yang optimal kepada pasien yang membeli obat. Selain itu tingkat kepuasan pasien harus menjadi prioritas utama dan berdampak pada pendapatan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan resep di Apotek Rumah Sakit Lavalette.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2009. Populasi penelitian ini adalah pasien yang datang di Apotek Rumah Sakit Lavalette dan sampel yang digunakan sebanyak 240 orang berdasarkan rata-rata pasien dalam setiap harinya. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang terdiri dari enam belas pertanyaan, dimana pertanyaan berkisar tentang tingkat kepuasan pasien yang terdiri dari beberapa sub variabel yang telah dijalankan petugas apotek Lavalette, sehingga dari hasil jawaban kuesioner bisa diketahui variabel mana yang harus diperbaiki atau ditingkatkan.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan pelayanan, harga obat, pelayanan Komunikasi Informasi dan Edukasi perlu ditingkatkan dan diperbaiki karena masih ada responden yang tidak puas dengan pelayanan apotek, sedangkan keramahan dan kesopanan, ketersediaan obat, kemasan, letak apotek  kebersihan dan kenyamanan sudah dilakukan baik sekali sehingga harus selalu dipertahankan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hasil keseluruhan tingkat kepuasan terhadap pelayanan resep di apotek Lavalette 69,829% adalah  baik, maka dapat disarankan kepada apotek Lavalette agar meningkatkan kecepatan pelayanan,  kompetisi harga serta pelayanan Komunikasi Informasi Edukasi  sehingga tingkat kepuasan pasien terpenuhi.

Kata kunci  :  Tingkat kompetensi,  Asisten Apoteker,  Apotek, Profesi
Persaingan SDM (Sumber Daya Manusia) secara global telah mulai memasuki profesi di Indonesia. Tuntutan profesionalisme didalam melaksanakan pekerjaan kefarmasian di Apotek harus dimiliki oleh seorang Asisten Apoteker / Tenaga Teknis Kefarmasian, dan salah satu cara menjadi tenaga profesionalisme harus melalui uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikasi Asisten Apoteker / Tenaga Teknis Kefarmasian.


Tujuan khusus penelitian ini untuk mengetahui rata-rata tingkat kompetensi Asisten Apoteker dan mengetahui variabel-variabel kompetensi yang menjadi titik lemah. Desain penelitian ini cross sectional, dan menggunakan elemen dari Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 573/MenKes/SK/VI/2008. Populasi sebanyak 132 responden, penelitian ini seluruh Asisten Apoteker yang bekerja di Apotek wilayah kabupaten gresik. Sampel penelitian ini terdiri 85 responden dari 85 Apotek. Variabel Independennya penguasaan kompetensi yang dimiliki Asisten Apoteker di Apotek dan variabel dependennya persiapan menghadapi uji kompetensi.
Pengumpulan data dilakukan peneliti datang ke setiap Apotek dengan membawa surat pengantar dari organisasi PAFI Gresik dan melakukan wawancara, pengamatan langsung dan chek list  kepada responden.
 Analisa data menggunakan data skore dengan jumlah soal 30, total skore 2038, rata-rata skore 67,93 dan variabel kompetensi yang menjadi titik lemah didapatkan 3 poin soal no.28 skore 14, soal no.29 skore 0 dan soal no.30 skore 0. 
Pada penelitian ini rata-rata tingkat kompetensi Asisten Apoteker dengan katagori cukup tinggi 67,93 dan variabel kompetensi yang menjadi titik lemah dengan katagori sangat rendah. Saran kepada Apotek: mempunyai protap, dan dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi tenaga Asisten Apoteker untuk melaksanakan kegiatan di Apotek sesuai kompetensinya. Asisten Apoteker: selalu meningkatkan pengetahuan kompetensi yang dituntut dalam profesi dan selalu mengikuti perkembangan ilmu. Lembaga Pendidikan: dimasukkannya kurikulum dalam melaksanakan prosedur pelayanan pengobatan mandiri / swamedikasi yaitu KIE, membuat laporan, dan pendokumentasian.
 PAFI: untuk melakukan pembinaan kepada anggotanya melalui seminar yang bertemakan pelatihan pengobatan mandiri / swamedikasi serta memberikan informasi sesuai perkembangan ilmu.  



Kata kunci : Evaluasi, Perencanaan dan Pendistribusian obat, Rumah Sakit Petrokimia Gresik, periode bulan April 2009 – Juni 2009.
                                          Sistem perencanaan dan pendistribusian  obat merupakan salah satu fungsi yang penting dalam pengelolaan obat. Untuk itu sektor obat memerlukan pengelolaan yang professional untuk mendukung pelayanan kefarmasiaan yang bermutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses perencanaan dan pendistribusian obat di gudang farmasi Rumah Sakit Petrokimia Gresik pada periode bulan April 2009,Mei 2009 dan Juni 2009, untuk melihat dan menilai prosentase dana,penyimpangan persediaan,prosentase obat kadaluarsa,prosentase stok obat mati dan prosentase obat yang terlayani.
                                          Penelitian ini merupakan jenis penelitian diskriktif . Data penelitian diperoleh dari data sekunder yaitu data yang sudah tersedia dari kegiatan perencanaan dan pendistribusian obat di gudang farmasi Rumah Sakit Petrokimia Gresik selama periode bulan April 2009,Mei 2009 dan Juni 2009.
                                          Hasil yang di dapat dari penelitian ini adalah data – data sebagai berikut: prosentase dana pada bulan April 2009 89%,Mei 2009 87%  dan Juni 2009 105%.Prosentase penyimpangan persediaan pada bulan April 2009 83%,Mei 2009 84% dan Juni 2009 77%.Prosentase obat kadaluarsa paba bulan April 2009 0%,Mei 2009 0,2% dan Juni 2009 0,1%.Prosentase stok obat mati pada bulan April 2009 1,1%,Mei 2009 1,5% dan Juni 2009 2%.Prosentase obat yang terlayani pada bulan April 2009 73%,Mei 2009 78% dan Juni 2009 70%.
                                          Berdasar hasil penelitian ini diharapkan sistem perencanaan dan pendistribusian obat di gudang farmasi Rumah Sakit Petrokimia Gresik lebih ditingkatkan, sehingga dapat menunjang pelayanan farmasi dengan melayani semua resep yang masuk.

Kata Kunci  :   Mutu Pelayanan, Pelayanan Obat Dosis Sehari ( PODS ), Paviliun    Kelas III, RSUD Dr Soegiri Lamongan.
              DalamDalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, maka RSUD Dr Soegiri Lamongan telah menerapkan sistem pelayanan obat dosis sehari terhadap pasien di ruang rawat inap paviliun kelas III. Dengan persyaratan antara lain melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian sesuai standart yang sudah ditentukan, tenaga pelaksana / SDM menjalankan tugasnya dengan maksimal, sarana dan prasarana yang tersedia sesuai dengan yang dibutuhkan dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian sistem pelayanan obat dosis sehari. Pada kenyataanya, selama ini yang terlihat di RSUD Dr Soegiri Lamongan dalam penerapan sistem PODS belum sepenuhnya terlaksana dengan baik sehingga diperlukan sebuah evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan.
             Dalam melaksanakan penelitian ini digunakan metode observasi dan wawancara. Dari hasil analisis tentang pelaksanaan sistem PODS di RSUD Dr Soegiri Lamongan menggambarkan mutu pelayanan dengan prosentase 92,86 % untuk SDM yang berperan, 51,28 % untuk pelaksanaan kegiatan, dan 70 % untuk ketersediaan sarana dan prasarana, dan didapatkan rata-rata prosentase 71,38 % yang tergolong pada kategori cukup.
             Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan untuk dilakukan penambahan tenaga yang berperan dalam penerapan kegiatan, penambahan sarana dan prasarana, dan meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dalam penerapan sistem PODS di Paviliun Kelas III RSUD Dr Soegiri Lamongan. 

Kata Kunci : evaluasi ; mutu pelayanan kefarmasian; sistem Unit Dose
Dispensing ; pasien rawat inap paviliun I.
Mutu pelayanan kefarmasian Sistem Unit Dose Dispensing dapat diamati
dari optimalnya tugas-tugas yang harus dilaksanakan serta sarana yang harus
disediakan. Rumah Sakit Semen Gresik telah melaksanakan pelayanan
kefarmasian Sistem Unit Dose Dispensing. Dimana sebagai pelaksana adalah
tenaga farmasi yaitu Apoteker dan Asisten Apoteker. Pelayanan kefarmasian
Sistem Unit Dose Dispensing adalah sistem penyaluran obat pada pasien rawat
inap, yaitu obat disiapkan dalam dosis tunggal sesuai aturan pakai (biasanya
disiapkan untuk 24 jam).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan mutu pelayanan
kefarmasian Sistem Unit Dose Dispensing di ruang paviliun I Rumah Sakit Semen
Gresik.
Penelitian dilakukan di Ruang Pavliun I Rumah Sakit Semen Gresik
tanggal 16 November - 16 Desember 2009. Penelitian terhadap mutu pelayanan
kefarmasian Sistem Unit Dose Dispensing dilakukan dengan metode observasi
terhadap tugas-tugas yang dilaksanakan. Adapun populasi dan sampel dalam
penelitian ini adalah farmasis yang bertugas di ruang rawat inap paviliun I
Rumah Sakit Semen Gresik. Pada analisis data digunakan kriteria kualitas untuk
menyatakan mutu dari pelaksanaan sistem Unit Dose Dispensing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu pelayanan kefarmasian Sistem
Unit Dose Dispensing di ruang rawat inap paviliun I Rumah Sakit Semen Gresik
mempunyai skor 84%. Dengan demikian, dapat dikategorikan dalam kriteria baik
sekali.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan rumah sakit memberikan
sosialisasi secara berkala kepada tenaga farmasi tentang petunjuk teknis
pelaksanaan Sistem Unit Dose Dispensing. Disamping itu, diperlukan adanya
pendidikan dan pelatihan khsusus mengenai pelayanan farmasi klinik pada Sistem
Unit Dose Dispensing sehingga tujuan dari pengobatan pasien dapat tercapai.

Kata Kunci : Tingkat Kepuasan Pasien, Pelayanan Farmasi
Instalasi Farmasi merupakan salah satu bagian dari Rumah Sakit yang bertugas melayani masyarakat dalam bidang kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat.Tugas dan fungsi Instalasi Farmasi adalah sebagai tempat pengabdian profesi asisten apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan,untuk melaksanakan peracikan,perubahan bentuk,pencampuran dan penyerahan obat atau sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara meluas dan merata (Anonim,1980).
Pasien dalam hal ini adalah sebagai pelanggan berperan penting dalam penilaian kepuasan terhadap kinerja petugas farmasi.Untuk itu perlu dilakukan observasi untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien melalui penyebaran angket.Dan dari hasil data yang diperoleh,nantinya akan digunakan sebagai pedoman untuk dapat memenuhi harapan pasien terhadap kinerja petugas farmasi untuk bisa menjadi lebih baik.
Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien berharap pada semua sub variable yang telah dibuat untuk bisa dilaksanakan dengan baik oleh petugas farmasi.Dan layanan yang menurut pasien tidak diharapkan maka tidak perlu mendapatkan prioritas untuk segera dilaksanakan.
Sedangkan saran dalam penelitian ini adalah harus dipertahankan hasil yang telah diperoleh tentang tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan farmasi di Instalasi Farmasi RSD Mardi Waluyo Blitar yang hasilnya sudah baik menurut pasien.Serta perlu dilakukan penelitian lanjut untuk mengembangkan variable-variable dalam kepuasan pasien terhadap pelayanan farmasi.

Kata kunci: evaluasi, kadar, vitamin B1, nasi, tradisional, modern.
Nasi merupakan makanan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia. Mereka mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari-hari. Nasi merupakan makanan yang berasal dari beras yang diproses sedemikian rupa sehingga dapat dikonsumsi. Nasi merupakan sumber karbohidrat dan sumber energi. Selain itu di dalam nasi juga mengandung lemak, mineral, protein dan vitamin B1.
Dalam kehidupan sehari-hari memasak nasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu memasak nasi dengan cara tradisional dan modern. Pada proses memasak usahakan nasi yang dimakan setiap hari tetap mengandung vitamin B1, karena vitamin B1 tidak dapat disimpan di dalam tubuh dan harus tersedia setiap hari. Kebanyakan orang jaman sekarang lebih memilih memasak nasi dengan menggunakan cara modern seperti menggunakan rice cooker. Memasak nasi dengan menggunakan rice cooker cara pemakaiannya sangat mudah dan cepat, tetapi karena memasaknya dengan cara direndam dan dipanaskan sampai matang, hal itulah yang menyebabkan vitamin B1 menjadi rusak. Karena vitamin B1 larut dalam air dan dapat terurai pada proses pemanasannya.
Sedangkan memasak nasi dengan cara tradisional seperti menggunakan dandang memang cukup rumit, memasak nasi dengan cara inipun membutuhkan waktu yang lama. Tetapi memasak nasi dengan menggunakan cara ini dapat menyimpan materi bergizi di dalamnya karena uap yang digunakan tidak merusak dan menguraikan vitamin dan materi bergizi di dalamnya.
Dari penelitian yang dilakukan, yaitu mengevaluasi kadar vitamin B1 pada nasi yang dimasak secara tradisional dan modern dengan menggunakan metode spektrofotometri UV di dapat kadar rata-rata vitamin B1 pada nasi yang dimasak secara tradisional sebesar 4,89 ppm dan kadar rata-rata vitamin B1 pada nasi yang dimasak secara modern sebesar 1,39 ppm. Hasil penetapan kadar tersebut membuktikan bahwa kadar vitamin B1 pada nasi yang dimasak secara tradisional lebih besar daripada nasi yang dimasak secara modern.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Akademi Farmasi Putera Indonesia dan Laboratorium Kimia Analitik Universitas Brawijaya Malang. Adapun metode yang digunakan dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode observasi deskripsi. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diolah dengan menggunakan metode statistik uji t.

Kata Kunci : Pengaruh. Infus Putri Malu (Mimosa pudica) Pada Mencit Putih.
Putri malu merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki khasiat menurunkan demam. Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai antipiretik adalah daun dan akar. Untuk mengetahui seberapa besar khasiatnya dalam menurunkan demam, dilakukan uji antipiretik pada hewan coba mencit putih. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya khasiat antipiretik herba putri malu pada mencit putih dengan pembanding paracetamol.
Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan hewan uji mencit putih jantan galur Balb C sebanyak 15 ekor yang dipilih secara randominasi. untuk masing-masing perlakuan yang terdiri dari 5 kelompok, dan masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor mencit dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Untuk kelompok A adalah kontrol negatif dengan pemberian larutan aquades, kelompok B adalah kontrol positif dengan pemberian larutan parasetamol dengan dosis 1,3mg, sedangkan untuk kelompok C, D dan E adalah kelompok sampel infus herba putri malu (Mimosa pudica).
Lokasi penelitian dilakukan di laboratorium Farmakologi Akademi Farmasi “Putra Indonesia” Malang pada bulan Juni sampai Juli 2010. Rancangan penelitian ini yaitu meningkatkan tempratur suhu badan mencit dengan diinduksi pepton dan akan diturunkan dengan masing-masing sampel yang diberikan secara oral menggunakan jarum sonde, lalu diukur tempratur suhu badan mencit putih melalui rectal. Penelitian ini. Dari data-data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan menggunakan Analisis Varian Satu Arah (ANAVA) Satu Arah dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) kemudian dilanjutkan ke uji SNK (Student Newmans Keuls).
Berdasarkan hasil penelitian pengaruh infus herba putri malu dosis 0,026g/1ml, 0,052g/1ml dan 0,078g/1ml pada hewan uji mencit putih dapat disimpulkan bahwa ketiga dosis tersebut menunjukkan kasiat sebagai penurun demam karena dari hasil uji statistik terdapat perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif. Kontrol positif (parasetamol) mempunyai pengaruh yang lebih optimal terhadap penuruanan suhu tubuh mencit dibandingkan dengan dosis ekstrak herba putri malu.
Dari hasil penelitian yang dilakukan disarankan perlu penelitian lebih lanjut dengan menggunakan dosis yang lebih tinggi, dengan menggunakan metode ekstraksi yang berbeda, dan juga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sehubungan dengan zat aktif yang dapat berkhasiat sebagai antipiretik.

Kata Kunci  :   Mutu Pelayanan Depo Farmasi, Kualitas Layanan, Kepuasan Pasien.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut diperjelas dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Tuntutan pasien dan masyarakat akan mutu pelayanan farmasi, mengharuskan adanya perubahan pelayanan dari paradigma lama (drug oriented) ke paradigma baru (patient oriented) dengan filosofi Pharmaceutical Care (pelayanan kefarmasian). Praktek pelayanan kefarmasian merupakan kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mencegah dan menyelesaikan masalah obat dan masalah yang berhubungan dengan kesehatan.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada pasien rawat inap maupun pasien rawat jalan pada Depo Farmasi Rumah Sakit Haji.
Dari penelitian yang dilakukan di atas, skor terendah yang didapat dari penelitian responden terdapat pada tanggapan tentang responsiveness. Yaitu pada penelitian “Ketepatan karyawan Depo Farmasi Rumah Sakit Haji Surabaya dalam memberikan layanan pada pasien” yang menunjukkan jumlah prosentase 76,6% , jumlah yang lebih sedikit dari jumlah yang lainnya.
Penelitian dengan skor terendah kedua  didapat dari penelitian responden terdapat pada tanggapan tentang empathy. Yaitu pada penelitian “Karyawan Depo Farmasi Rumah Sakit Haji Surabaya yang berada di counter senantiasa selalu di tempat” yang menunjukkan jumlah prosentase 77,2 %, berada satu tingkat di atas skor yang diberikan atas penelitian tentang responsiveness.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pihak Depo Farmasi Rumah Sakit Haji hendaknya memberikan pelayanan dengan cepat dan tepat kepada pasien sehingga memberikan kepuasan kepada pasien. Petugas Depo Farmasi Rumah Sakit Haji Surabaya juga harus selalu berada di tempat kapanpun juga agar petugas tidak meninggalkan tempat secara bersamaan, sehingga selalu ada petugas yang siap melayani pasien . 

Kata kunci : Kebiasaan mencuci tangan memakai sabun, air bersih, jamban sehat, pasien diare
            Penyakit Diare adalah penyakit yang ditandai dengan tinja yang lembek dan cair, seringkali disertai kejang perut. Diare menyebabkan dehidrasi atau kehilangan ciran tubuh yang mengakibatkan kematian sekurang – kurangnya 135.000 bayi & anak balita di Indonesia. Penyebab diare dapat disebabkan oleh alergi makanan / minuman, gangguan gizi dan kekurangan enzim tertentu sebagai penyebab diare, selain itu juga kurang baiknya kebersihan perorangan dan buruknya perilaku kesehatan lingkungan, antara lain tidak disiplin dalam mencuci tangan, kurang tersedianya air bersih dan pemanfaatan jamban. Dari ringkasan tersebut, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian dengan judul “Kebiasaan Mencuci Tangan Memakai Sabun, Penggunaan Air Bersih dan Jamban yang Sehat Pada Pasien Diare di Puskesmas Lidah Kulon Kota Surabaya”, dengan tujuan untuk menilai perilaku dan unsur perilaku mencuci tangan memakai sabun, penggunaan air bersih, dan jamban yang sehat pada pasien diare. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kausal komparatif yang bersifat ex post facto. Populasinya yaitu pasien diare di Puskesmas Lidah Kulon Kota Surabaya, jumlah sampel yang di ambil 36 responden, kemudian pengumpulan data diperoleh dari kuesioner dan observasi.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku dari pasien diare yang kurang baik dan tidak baik yang dapat menyebabkan sakit diare ada 7 unsur yaitu, mencuci tangan tidak selama 15 - 20 detik, mencuci tangan tidak menggunakan sabun air yang mengalir, mencuci tangan dengan tidak membersihkan diarea bawah kuku, Membersihkan sela – sela jari saat mencuci tangan, air di rumah keruh, jarak resapan pada septictank kurang dari 10 m dari sumber air, kamar mandi khususnya jamban di rumah tidak selalu dibersihkan.
            Oleh karena itu,  perlu dilakukan perbaikan dari unsur – unsur perilaku tersebut. Upaya perbaikan dapat dilakukan dengan memberikan informasi atau penyuluhan kepada masyarakat tentang Pedoman Hidup Bersih dan Sehat.

Kata kunci : uji kemampuan, pektin, limbah apel, mutu fisik tablet
Pektin merupakan polisakarida yang dapat memperbaiki otot pencernaan, menyerap kelebihan air dalam usus, menghilangkan racun dalam usus, dan ternyata dapat diisolasi dari limbah sari apel. Dalam dunia industri pangan pektin banyak dimanfaatkan sebagai bahan perekat atau pengental. Pada penelitian ini pektin hasil isolasi dari limbah sari apel akan digunakan sebagai bahan pengikat pada mutu fisik tablet, dan attapulgit sebagai zat aktif. Dihitung rendemen akhir, identifikasi dan penetapan kadar pada pektin hasil isolasi. Pemeriksaan mutu fisik tablet yang dilakukan adalah keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan, waktu hancur, dan kerapuhan, pada masing – masing formula. Tablet dibuat tiga formula, dengan perbedaan konsentrasi pektin sebagai zat pengikat. Pada formula I 10%, formula II 15%, dan formula III 20%. Hasil penelitian diperoleh rendemen sebesar 3,74%. Dari hasil analisa kuantitatif didapatkan data yang menunjukkan bahwa pektin hasil isolasi adalah murni, dengan kadar metoksi 13,159% dan asam galakturonat 75,8638%. Berdasarkan hasil pemeriksaan mutu fisik tablet, dapat disimpukan bahwa tablet pada formula I dengan prosentase pektin sebagai zat pengikat 10% mempunyai mutu fisik paling baik.

Kata Kunci        :  tanaman anting – anting, diabetes mellitus, pengukuran kadar gula darah, mus musculus galur balb 
                          Tanaman anting–anting merupakan salah satu dari tanaman obat, memiliki banyak khasiat dan fungsi, salah satunya yaitu sebagai obat diabetes mellitus, fungsi dari tanaman anting – anting hanya sebatas pembuktian secara empiris. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian ilmiah yang bertujuan untuk membuktikan khasiat tanaman anting–anting dalam pengobatan diabetes mellitus.Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental, yaitu dengan menggunakan hewan uji. Objek dari penelitian ini yaitu hewan uji yang menggunakan hewan mencit jantan galur balb C. Objek lain dari penelitian ini yaitu ekstrak tanaman anting–anting, dalam beberapa dosis yaitu dosis 40 mg, dosis 80 mg dan dosis 160 mg. Tanaman anting – anting diekstrak dengan mengunakan sistem infudasi,. Rancangan dari penelitian ini yaitu meningkatkan kadar gula darah hewan dengan injeksi streptozotosin dan akan diturunkan dengan dosis ekstrak tanaman anting – anting. Pada perlakuan selama 14 hari, kadar gula darah mencit mengalami penurunan sebesar 15,36 % untuk dosis ektrak 40 mg , 15,64 % untuk dosis 80 mg dan 16,72 % untuk dosis ekstrak 160 mg. Hasil penelitian yang telah dianalisa, ekstrak tanaman anting – anting memiliki pengaruh didalam penurunan kadar gula darah mencit, hal ini dikarenakan tanaman anting – anting memiliki zat aktif senyawa triterpenoid,. Pada akhir penelitian, hasil dari penelitian ini akan ditindak lanjuti dengan kajian ilmiah dan penelitian lebih lanjut oleh peneliti, sehingga tanaman anting – anting bisa digunakan sebagai obat herbal anti diabetes. 

Kata Kunci : Efektivitas, Ekstrak Kayu Secang, Shigella dysenter
                          Secang (Caesalpinia sappan. L) adalah salah satu tanaman yang digunakan masyarakat untuk mengobati dysentri. Berdasarkan data empiris inilah maka dilakukan penelitian tentang efektivitas ekstrak kayu secang sebagai antibakteri. Pengujian efektivitas dilakukan dengan menggunakan metode dilusi, dimana dengan metode ini akan diperoleh Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimal (KBM). Tahap awal pengujian efektivitas antibakteri adalah menentukan KHM (Konsentrasi Hambat Minimal) dengan menginkubasi suspensi bakteri Shigella dysenteriae dalam media cair Nutrient Broth pada tabung reaksi, bersama masing-masing dosis ekstrak kayu secang yaitu 5 g, 10 g, 15 g, 20 g, 25 g, 30 g dan 35 g, pengamatan dilakukan dengan melihat tingkat kekeruhan pada masing-masing dosis setelah 2 x 24 jam. Dari hasil pengujian diperoleh dosis efektif yang dapat mulai menghambat pertumbuhan Shigella dysenteriae adalah 15 g. Tahap berikutnya adalah menentukan KBM (Konsentrasi Bunuh Minimal) dengan menginkubasi 1 ml dilusi tabung pada pengujian KHM kedalam media padat Eosin Methilen Blue Agar (EMB Agar), kemudian diamati jumlah koloni bakteri yang tumbuh setelah 2 x 24 jam. Dari hasil pengujian belum diperoleh dosis yang efektif untuk membunuh Shigella dysenteriae, karena tidak terdapat daerah bening atau yang tidak ditumbuhi bakteri sama sekali. Perlu adanya penaikan dosis ekstrak kayu secang agar diperoleh nilai konsentrasi bunuh minimal dan untuk penelitian lebih lanjut perlu dilakukan penelitian untuk menemukan zat aktif yang paling berperan sebagai antibakteri pada kayu secang.

Kata kunci: ekstrak, bawang lanang, bawang putih, kolesterol total, Mencit
Kolesterol merupakan jenis lemak normal yang terdapat di dalam darah, namun kolesterol dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan terjadinya aterosklerosis yang akhirnya akan berdampak pada penyakit jantung koroner. Salah satu alternatif menurunkan kadar kolesterol adalah dengan pemanfaatan bawang putih dan bawang lanang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan aktivitas ekstrak bawang putih dan bawang lanang dalam menurunkan kadar kolesterol. Hewan coba yang digunakan sebanyak 24 ekor dibagi menjadi 8 kelompok masing-masing 3 ekor, yaitu kelompok bawang putih dosis 0,0455 g/20 g bb, kelompok bawang putih dosis 0,091 g/20 g bb, kelompok bawang putih dosis 0,1365 g/20 g bb, kelompok bawang lanang dosis 0,0455 g/20 g bb, kelompok bawang lanang dosis 0,091 g/20 g bb, kelompok bawang lanang dosis 0,1365 g/20 g bb, kontrol positif degan pemberian gemfibrozil dan kontrol negatif dengan pemberian aquadest. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukanmenunjukkan bahwa aktivitas ekstrak bawang lanang lebih baik daripada ekstrak bawang putih dalam menurunkan kadar kolesterol.

Kata kunci : daun cengkih, emulsi, mutu fisik emulsi
Tanaman cengkeh yang belum dimanfaatkan secara optimal adalah daunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan daun cengkeh sehingga memiliki nilai komersial. Penelitian terhadap pemanfaatan daun cengkeh dilakukan dengan pengambilan minyak atsiri daun cengkeh menggunakan metode destilasi uap air. Minyak tersebut akan digunakan sebagai bahan aktif dalam pembuatan sediaan emulsi.  Adapun evaluasi yang dilakukan terhadap sediaan emulsi diantaranya uji organoleptis, uji homogenitas, uji stabilitas, uji viskositas, dan uji volunteer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan daun cengkeh sebagaiobat tradisional dalam bentuk sediaan emulsi dengan mutu fisik yang baik. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa pengujian yang dilakukan terhadap emulsi daun cengkeh tersebut yakni yakni uji homogenitas dan uji homogenitas, dan pada uji volunter menunjukkan bahwa responden menyukai sediaan emulsi daun cengkeh formula I, II, III dengan prosentase sebesar 62, 23 %, 64, 13 %, 67,12 %. Hal ini dikarenakan penambahan PGA pada formula I, II, III sebanyak 5%, 7,5%, 10% sehingga dihasilkan mutu fisik yang baik. Berdasarkan hasil penelitian disarankan adanya penelitian lebih lanjut, perlu melakukan penelitian lebih lanjut tentang efektifitas daun cengkeh sebagai analgesic. 

Kata Kunci : aktifitas antibakteri, ekstrak etanol 80%, daun beluntas, sthapylococcus aureus
Pluchea indica L atau lebih dikenal dengan nama daun beluntas merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki banyak khasiat dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit, yaitu menghilangkan bau badan, obat turun panas, diare dan dan antibakteri (anti radang). Bagian yang sering digunakan adalah daunnya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktifitas antibakteri ekstrak etanol 80% daun beluntas terhadap Sthapylococcus aureus. Ekstrak daun beluntas dalam penelitian ini di buat dengan metode perkolalasi, . dalam tiga dosis yaitu 6,25g, 12,5g dan 18,75g. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan metode dilusi untuk mengetahui KHM (Konsentrasi Hambat Minimum)  yang diketahui dengan melihat kejernihan pada tabung uji dan KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum) dengan mengamati dan menghitung jumlah koloni bakteri yang tumbuh dari hasil uji KHM.hasil penelitian, menujukan bahwa terdapat aktivitas penghambatan terhadap bakteri sthapylococcus aureus dengan nilai KHM dosis 12,5g. Pada hasil uji KBM dapat disimpulkan belum adanya daya bunuh pada ekstrak etanol 80% daun beluntas dengan dosis 6,25g, 12,5g dan 18,75g.

Kata kunci: Pengaruh infus herba putri malu sebagai antipiretik terhadap mencitputih
Demam adalah keadaan suhu tubuh meningkat di atas 370C. Suhu badan normal manusia biasanya berkisar antara 360-370C. Alat pengatur suhu tubuh berada di hipotalamus. Keseimbangan ini terganggu tetapi dapat dikembalikan kenormal dengan pemberian obat penurun panas seperti aspirin, parasetamol, asetosal dll. Penyebab dari demam pada umumnya akibat adanya infeksi pada tubuh oleh bakteri atau virus. Putri Malu merupakan, tanaman yang tumbuh di tempat-tempat terbuka yang terkena sinar matahari langsung. Tumbuh di pinggir jalan, tanah lapang, cepat berkembang biak, tumbuh tidur di tanah, kadang-kadang tegak. Batang bulat, berbulu dan berduri. Pengujian pengaruh infus Putri Malu (Mimosa pudica) dalam penelitian ini menggunakan mencit putih jantan sebanyak 15 ekor yang dipilih secara randomisasi untuk masing-masing perlakuan yang terdiri dari 5 kelompok, dan masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor mencit denagan pengulangan sebanyak 3 kali. Penelitian ini dilakukan di laboratorium farmakologi Putra Indonesia Malang pada bulan Juni sampai Juli 2010. Analisis hasil penelitian ini menggunakan Analisis Varian (ANAVA). Berdasarkan hasil penelitian pengaruh infus herba putri malu dosis 0,026g/1ml, 0,052g/1ml dan 0,078g/1ml pada hewan uji mencit putih dapat disimpulkan bahwa ketiga dosis tersebut menunjukkan kasiat sebagai penurun demam karena dari hasil uji statistik terdapat perbedaan yang bermakna dengan kontrol negatif. Kontrol positif (parasetamol) mempunyai pengaruh yang lebih optimal terhadap penuruanan suhu tubuh mencit dibandingkan dengan dosis ekstrak herba putri malu.

Kata kunci : perbandingan daya antibakteri, ekstrak daun lamtoro,  tetrasiklin HCl, Staphylococcus aureus 
Ekstrak daun lamtoro (Leucaena Glauca [L.] Benth) diketahui mengandung flavonoid yang memiliki potensi sebagai antibakteri.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan daya antibakteri ekstrak daun lamtoro (Leucaena Glauca [L.]Benth) dosis 20gram dengan tetrasiklin HCl dosis 1mg/1ml dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental. Proses pembuatan ekstrak diperoleh dengan cara perkolasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  daerah hambat ekstrak daun lamtoro dosis 20gram adalah 5,29mm sedangkan pada tetrasiklin HCl dosis 1mg/1ml adalah 4,37mm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ekstrak daun lamtoro mempunyai  daya antibakteri dibandingkan dengan tetrasiklin HCl dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.

Kata Kunci : aktivitas antibakteri, metode ekstraksi.
Daun Mangkokan (Nothopanax scutellarium Merr) adalah tanaman salah satu tanaman hias, selain itu, tanaman tersebut banyak juga digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, misalnya radang payu dara, luka lecet,sulit kencing, dan untuk mencegah rambut rontok. Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai obat adalah daunnya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui adanya perbedaan metode ekstraksi yaitu infundasi, maserasi, penumbukan dan netode mana yang paling efektif daya hambatnya terhadap aktivitas antibakteri pada Staphylococus aureus, pengujian daya antibakteri dengan menggunakan metode cakram kertas. Daun mangkokan yang digunakan dalam pengujian dibuat dalam dosis tunggal yaitu 4g ekstrak diperoleh dengan cara maserasi, infundasi dan penumbukan. Penelitian ini adalah penelitian bersifat eksperimental. Analisis hasil penelitian menggunakan analisis statistik dengan menghitung Rancangan Aral Lengkap atau RAL, kemudian dilanjutkan dengan uji SNK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat aktivitas pada ekstrak daun mangkokan terhadap pertumbuhan Staphylococus aureus. Hal ini dapat ditunjukkan karena ekstrak mampu memberikan diameter zona hambatan. Terdapat perbedaan daya hambat antar berbagai metode bila dibandingkan dengan control positif. Kontrol positif yang digunakan yaitu antibiotik Amoksisilin. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan dalam bentuk sediaan kream.

Kata kunci: Pembuatan, Jahe Merah, Obat Tradisonal, Balsem
Balsem adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Jahe merah merupakan tanaman yang mengandung lebih banyak minyak atsiri dibandingkan jahe jenis lainnya yang dimanfaatkan sebagai obat rematik, asam urat, batuk, flu, susah buang air besar, perut kembung. Rimpang jahe merah diambil minyak atsirinya dengan metode destilasi uap air yang kemudian ditambahkan kedalam sediaan pada tiga formula dengan konsentrasi yang berbeda. Evaluasi yang dilakukan terhadap sediaan balsem diantaranya uji organoleptis, uji homogenitas dan uji volunter. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pembuatan Sediaan Balsem Dalam Upaya Mengoptimalisasikan Jahe Merah ( Zingiber officinalae var. rubrum ) Sebagai Obat Tradisional menghasilkan balsem dengan mutu fisik yang baik. Hal ini ditunjukan dengan beberapa pengujian yang dilakukan terhadap sediaan balsem rimpang jahe merah yakni uji organoleptis dan uji homogenitas. Pada pengujian volunter menunjukkan bahwa responden sangat menyukai sediaan balsem rimpang jahe merah pada formula III dengan persentase sebesar 91,00 % yang disebabkan penambahan jumlah minyak pada formula III lebih banyak dibandingkan pada formula I, dan formula II.

Kata kunci: aktivitas ekstrak daun binahong, antibakteri, Pseudomonas aeruginosa
Anredera cordifolia (Tennore) Steen atau lebih dikenal dengan nama binahong
merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang memiliki banyak khasiat dalam
menyembuhkan berbagai macam penyakit salah satunya untuk luka luar akibat goresan
senjata tajam atau luka bakar. Bagian tanaman binahong yang sering digunakan sebagai
antibakteri pada luka luar adalah daunnya karena diduga mempunyai kandungan kimia
yang berkhasiat sebagai antibakteri seperti saponin dan flavonoid. Saponin bersifat
merendahkan tegangan permukaan sehingga dapat membunuh bakteri dan flavonoid
merupakan senyawa yang memiliki aktivitas sebagai anti-inflamasi, analgesik, antioksidan
dan juga sangat berperan dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun binahong (Anredera
cordifolia (Tennore) Steen) dalam menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri
Pseudomonas aeruginosa pada dosis 15g, 20g, 30g, 40g, dan 50g dengan menggunakan
metode KHM dan KBM. Daun binahong yang digunakan dalam pengujian ini dibuat
dalam bentuk ekstrak yang diperoleh melalui ekstraksi daun segar dengan cara perkolasi
menggunakan pelarut etanol 70%. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan hasil yang nyata dari penurunan jumlah bakteri yang tumbuh tiap
penambahan dosisnya terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Tetapi hasil tersebut
masih belum mencapai kriteria suatu ekstrak dalam menghambat dan membunuh bakteri
uji karena tidak adanya peningkatan dosis.

Kata kunci : pengetahuan, perilaku, tuberculosis
Tuberculosis ( TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis yang bersifat tahan asam,bersifat menular sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan melalui peningkatan pengetahuan tentang tuberculosis maupun melalui perilaku yang benar dalam pencegahan penularan.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku keluarga penderita tuberculosis terhadap penularannya di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang.Sampel penelitian diambil dari keluarga penderita tuberculosis di Kecamatan Singosari Kabupaten Malang sebanyak 78 responden.Dari uji statistic chisquare menunjukkan bahwa ada hubungan antara perilaku keluarga penderita tuberculosis dan penularan penyakit tuberculosis dan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan penularan penyakit tuberculosis.Berdasarkan hasil penelitian disarankan masyarakat dan keluarga penderita tuberculosis menerapkan perilaku yang benar dalam pencegahan penularan penyakit tuberculosis. 

Kata Kunci: Aktivitas Ekstrak Kayu Secang, Menghambat Pertumbuhan, Escherrichia coli.
Kayu secang merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki banyak khasiat dalam penyembuhan berbagai macam penyakit, salah satunya adalah penyakit diare. Diare merupakan buang air dengan banyak cairan (mencret) dan merupakan gejala dari penyakit tertentu lainnya. Adapun cara pengobatannya dapat menggunakan obat sintetis maupun tradisional. Pengobatan tradisional ini berdasarkan pengalaman empiris yang penggunaannya dalam bentuk seduhan. Didalam kayu secang mengandung zat antibakteri yaitu resorsin dan delta-alfa-phelandrean.. Penelitian ini adalah penelitian experimental yang dilakukan secara mikrobiologi dengan metode difusi menggunakan cakram kertas. Hambatannya ditandai dengan adanya zona bening disekitar cakram kertas dan dapat diketahui dengan zona yang tidak ditumbuhi bakteri. Adapun analisa data yang digunakan adalah standart deviasi dan koevisien varian. Dari Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kayu secang dari konsentrasi 3 gram, 6 gram, 9 gram menghasilkan hambatan yang ditandai zona bening disekitar cakram kertas terhadap pertumbuhan bakteri Escherrichia coli. pada ekstrak 3 gram menghasilkan rata-rata hambatan sebesar 7,83 mm, ekstrak 6 gram menghasilkan rata-rata sebesar hambatan 9,3 mm dan ekstrak 9 gram menghasilkan rata-rata hambatan sebesar 10,9 mm.
Tingkat Pengetahuan Penderita Tentang Hipertensi Di Puskesmas Kedung Kandang Malang
oleh: Laelatul Jum'atin Rahmawati
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata Kunci : Tingkat pengetahuan, penderita hipertensi, hipertensi  
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka sistolik yang melebihi 140 mmHg dan angka diastolik yang melebihi 90 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pada penderita hipertensi terhadap pengertian, gejala, penyebab, pencegahan dan pengobatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang pengertian dengan hasil prosentase 80,70% termasuk dalam kategori baik, tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang gejala hipertensi dengan hasil prosentase 57,90% termasuk dalam kategori baik, pengetahuan penderita hipertensi tentang penyebab dengan prosentase 47.37 % yang termasuk dalam kategori kurang, dan pengetahuan untuk pencegahan dengan prosentase 70,18% temasuk dalam kategori baik, sedangkan pengetahuan untuk pengobatan dengan prosentase 52,63% yang termasuk dalam kategori cukup dan kurang dengan prosentase 33,33 % dari semua responden.

Pola Peresepan Obat-Obat Modified Release di Rumah Sakit Dr.Saiful Anwar Malang
oleh: Cholifatul Nur Mufida Zahro
Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang
Kata kunci : modified release, pola peresepan, persentase
Sediaan modified release (MR) merupakan sediaan yang pelepasan zat aktifnya dimodifikasi sehingga dosis awal yang dilepaskan cukup untuk menghasilkan efek terapi yang diinginkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase lembar resep sediaan MR, sediaan MR yang diracik, dipotong, dan mengetahui jenis obat MR yang sering diracik di depo rawat jalan dan rawat inap Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada depo rawat jalan 1 jumlah lembar resep MR yang masuk sebanyak 419 lembar (8,09 %), sediaan MR yang diracik sebanyak 79 lembar (18,85 %), sedangkan yang dipotong sebanyak 9 lembar (2,15 %). Di depo rawat inap IV jumlah lembar resep MR yang masuk sebanyak 55 lembar (0,69 %), sediaan MR yang diracik sebanyak 51 lembar (92,72 %), sedangkan yang dipotong sebanyak 12 lembar (21,82 %). Di depo rawat inap pavilliun jumlah lembar resep MR yang masuk sebanyak 78 lembar (0,99 %), sediaan MR yang diracik sebanyak 7 lembar (8,97 %). Macam obat MR yang diresepkan adalah Adalat (Oros), Natrium Diklofenak (Enteric Coated), KSR ( Enteric Coated), Omeprazole dan Lanzoprazole (Enteric Coated), Aldisa ( Sustained Release), Rhinos (Sustained Release). Jenis obat MR yang sering diracik maupun dipotong yaitu KSR.

Kata kunci : Mutu, Granul, Ekstrak, Rimpang jahe merah
Indonesia dikenal sebagai Negara yang subur, tidak heran jika berbagai tanaman dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik. Seperti halnya tanaman obat-obatan. Salah satunya tanaman
rimpang jahe merah. Dalam pengobatan tradisional rimpang jahe merah berkhasiat
menyembuhkan berbagai penyakit. Bahan penting yang terkandung dalam rimpang jahe merah
adalah gingerol dan minyak atsiri. Pada penelitian ini rimpang jahe merah diektraksi dengan cara
infundasi. Dengan cara infundasi zat berkhasiat yang terkandung dalam rimpang jahe merah dapat
larut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa granul yang dibuat dari ekstrak rimpang jahe merah
setelah dilakukan uji mutu yang meliputi uji waktu alir rata-rata 8,38 detik, uji waktu larut ratarata
25,14 detik, uji kadar air rata-rata 3,23%, uji kelarutan rata-rata 94,73%, dan pada uji volunter
sebanyak 82,17% sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan granul ekstrak rimpang jahe merah
memenuhi syarat dan layak untuk dikonsumsi, dan hasil prosentase uji volunter untuk tiap
pertanyaan yang banyak diminati volunter yang pertama adalah bau 85%, warna 84,17%, bentuk
83,33%, khasiat 82,5%, dan rasa 75,83%. Berdasarkan penelitian ini, disarankan supaya dilakukan
penelitian lebih lanjut dengan penambahan zat pemanis yang lebih banyak.

 Kata Kunci : Tingkat pengetahuan, penderita hipertensi, hipertensi. 
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukkan oleh angka sistolik yang melebihi 140 mmHg dan angka diastolik yang melebihi 90 mmHg. Hipertensi adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya bahkan dapat menyebabkan kematian dan tidak dapat disembuhkan sehingga pengobatannya bersifat terus menerus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pada penderita hipertensi terhadap pengertian, gejala, penyebab, pencegahan dan pengobatannya. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kedung Kandang Malang pada bulan April sampai Juni 2010. Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif yang menggunakan metode survey. Pengumpulan data memakai instrument berupa kuesioner yang dibagi dalam lima sub variabel yaitu pengertian, gejala, penyebab, pencegahan dan pengobatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang pengertian dengan hasil prosentase 80,70% termasuk dalam kategori baik, tingkat pengetahuan penderita hipertensi tentang gejala hipertensi dengan hasil prosentase 57,90% termasuk dalam kategori baik, pengetahuan penderita hipertensi tentang penyebab dengan prosentase 47.37 % yang termasuk dalam kategori kurang, dan pengetahuan untuk pencegahan dengan prosentase 70,18% temasuk dalam kategori baik, sedangkan pengetahuan untuk pengobatan dengan prosentase 52,63% yang termasuk dalam kategori cukup dan kurang dengan prosentase 33,33 % dari semua responden. Secara umum tingkat pengetahuan penderita tentang hipertensi termasuk dalam kategori cukup dengan prosentase sebanyak 69,61%. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar petugas kesehatan memberikan penyuluhan kesehatan secara rutin dan berkala. Terutama tentang penyebab dan pengobatan hipertensi karena penderita disana pengetahuannya kurang tentang penyebab dan pengobatan.

Kata kunci : mutu fisik, minyak atsiri daun jeruk nipis, vanishing cream, cold cream 
Daun jeruk nipis mempunyai kandungan minyak atsiri yang berkhasiat sebagai obat jerawat, yakni untuk mengurangi bakteri penyebab infeksi jerawat. Zat aktif dalam daun jeruk nipis diperoleh dengan cara penyulingan uap air, kemudian kompenen minyak atsiri dipisahkan dari air menggunakan pelarut petroleum eter. Untuk meningkatkan efektivitas penggunaan minyak atsiri sebagai pengobatan dibuat formulasi sediaan krim Krim adalah sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai, krim digunakan untuk pemakaian obat pada kulit. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu fisik sediaan krim bergantung pada zat pembawa, cara pembuatan, suhu penyimpanan, kontaminasi mikroorganisme, dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan mutu fisik sediaan krim minyak atsiri dalam basis vanishing cream dan cold cream. Parameter uji mutu fisik meliputi krim meliputi, uji organoleptis, uji homogenitas, uji viskositas, uji tipe emulsi, uji pH, uji sentrifugasi, dan uji cycling test. Hasil penelitian menunjukkan sediaan krim basis vanishing cream dan cold cream belum memenuhi syarat pH dan mengalami perubahan fisik pada perubahan suhu dan uji sentrifugasi.

Kata kunci: aktivitas antibakteri, ekstrak daun sirsak, tetrasiklin HCl, Staphylococcus aures.
Secara empiris daun sirsak (Annona muricata,Linn.)merupakan salah satu tanaman yang di gunakan untuk mengobati penyakit infeksi kulit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri ekstrak daun sirsak dengan antibiotik Tetrasiklin HCl yang diujikan pada bakteri Stapylococcus aureus. Kandungan kimia daun sirsak yang diduga dapat menghambat antibakteri adalah tanin dan alkaloid murisin. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental. Pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara perkolasi kemudian dievaporasi sehingga didapakan ekstrak kental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirsak mempunyai aktivitas antibakteri yang lebih kecil dibandingkan dengan antibiotik Tetrasiklin HCl karena daerah hambatan yang dihasilkan antibiotik Tetrasiklin HCl lebih besar daripada ekstrak daun sirsak, sedangkan dari perhitungan analisa data menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang besar antara ekstrak daun sirsak dengan Tetrasiklin HCl. 

Kata Kunci : Penerapan Keselamatan Kesehatan Kerja, alat pelindung diri, jaminan sosial, karyawan perusahaan rokok tingkat menengah
Keselamatan kesehatan kerja (K3) merupakan hal yang utama untuk menekan atau mengurangi resiko kecelakaan akibat kerja agar pekerja mendapatkan derajat setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif dan kuratif terhadap gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor atau lingkungan kerja. Sebagian dari keselamatan kesehatan kerja diantaranya alat pelindung diri, pelatihan kerja, dan jaminan sosial tenaga kerja. Dari ketiga standarisasi kita dapat mengetahui apakah perusahaan rokok tingkat menengah di Kota Malang sudah menerapkan atau belum keselamatan kesehatan kerja di perusahaannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan keselamatan keselamatan kesehatan kerja pada karyawan perusahaan rokok menengah di Kota Malang ditinjau dari alat pelindung diri, pelatihan kerja dan jaminan sosial dapat dikategorikan tidak puas atau belum menerapkan keselamatan kesehatan kerja (K3).

Kata kunci : tingkat pengetahuan, kanker payudara
Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Kanker payudara termasuk diantara penyakit kanker yang paling banyak diperbincangkan karena keganasannya yang seringkali berakhir dengan kematian.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang kanker payudara di kelurahan jati RW 01 kecamatan mayangan. Penelitian ini menggunakan penelitian desain deskriptif, populasi dalam penelitian ini adalah perempuan umur 17 – 55 tahun. Pengumpulan data memakai instrumen berupa kuisioner yang dibagi dalam sub variabel, rancangan penelitian ini meliputi tiga tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir.Hasil penelitian menunjukan  bahwa tingkat pengetahuan tentang penyakit kanker payudara di Kelurahan Jati RW 01 adalah 75,64 termasuk kriteria baik. Adapun analis data berdasarkan sub variabel yaitu : pengetian, gejala, penyebab, pencegahan, pengobatan. Tentang pengertian  penyakit kanker payudara adalah 25,10%  termasuk kriteria kurang, sedangkan gejala adalah 68,21% termasuk kriteria baik, sedangkan penyebab terjadinya penyakit adalah 61,12% termasuk kriteria baik, sedangkan prosentase pencegahan adalah 61,39%  termasuk kriteria baik, dan yang terahir prosentase dari pengobatan adalah 53,69% termasuk kriteria cukup. Dari hasil prosentase menurut sub variabel ternyata tingkat pengetahuan masyarakat tentang ini baik.

Kata Kunci : DPPH, Potensi antioksidan, Phyllanthus niruri Linn
Indonesia mempunyai beraneka ragam tanaman obat salah satunya adalah
tanaman meniran. Tanaman meniran dipercaya bisa digunakan sebagai
pengobatan diare, radang ginjal dan meningkatkan daya tahan tubuh, selain itu
tanaman meniran mempunyai senyawa yang bersifat antioksidan. Oleh karena itu
dilakukan pengujian potensi ekstrak daun meniran dengan menggunakan metode
DPPH. Ekstrak daun meniran diperoleh dengan metode perkolasi menggunakan
pelarut etanol dan kemudian dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator.
Ekstrak daun meniran di uji terhadap DPPH(1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil) yang
merupakan radikal bebas. Pengujian dilakukan dengan beberapa konsentrasi yaitu
16 ppm, 24 ppm, 32 ppm, 40 ppm, dan 60 ppm dengan menggunakan alat
spektrofotometer UV-VIS dengan panjang gelombang 520 nm. Dari hasil penelitian
ekstrak daun meniran ditemukan nilai IC50 pada menit ke 5 dan pada konsentrasi
0,65 ppm. Hal ini berarti pada konsentrasi 0,65 ppm dapat menangkal radikal
bebas sebesar 50%.

Kata kunci: efektifitas, ekstrak temu ireng, peningkatan nafsu makan
Salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk meningkatkan nafsu makan adalah Curcuma aerogenoceae atau lebih dikenal dengan nama rimpang temu ireng. Berdasarkan penelitian Mathias Jatiworo (2008) menunjukkan bahwa metode infundasi rimpang temu ireng pada konsentrasi 5% sudah dapat meningkatkan berat badan dibandingkan konsentrasi 15% dan 25%. Namun, kelarutan zat aktif dengan menggunakan infundasi kurang efektif karena zat aktif yang tersari hanya zat yang dapat larut dengan air dan sampai saat ini belum terdapat penelitian tentang usaha-usaha menstandardisasi dosis untuk penggunaan dalam bentuk ekstrak temu ireng sebagai penambah nafsu makan. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas variasi dosis 2,5 gram, 5 gram, dan 10 gram ekstrak temu ireng terhadap peningkatan nafsu makan tikus dengan metode maserasi. Proses penelitian meliputi tahap persiapan hewan uji sebanyak 25 ekor tikus putih yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok dengan pengulangan sebanyak 5 kali. Dilanjutkan dengan pengujian efek peningkatan nafsu makan ekstrak temu ireng pada tikus putih selama 3 minggu. Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah jumlah makanan yang dihabiskan setiap hari dan peningkatan berat badan tikus tiap minggu. tahap perhitungan data dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji SNK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dosis 2,5 gram, 5 gram, dan 10 gram mempunyai aktifitas sebagai penambah nafsu makan pada tikus dan antara dosis 2,5 gram dan 5 gram memiliki efek yang sama sebagai penambah nafsu makan. Dari ketiga dosis yang ada, dosis 10 gram merupakan dosis efektif karena mempunyai efek peningkatan nafsu makan berbeda tidak nyata dengan kontrol positif

Kata Kunci : Aktivitas ekstrak rimpang lempuyang gajah, antibakteri, Staphylococus aureus
Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman tanaman terutama hasil
pertanian dan rempah-rempah, salah satunya yaitu lempuyang gajah (Zingiber zerumbet Smith). Bagian
dari tanaman lempuyang gajah yang sering digunakan sebagai obat adalah rimpangnya. Secara
tradisional, rimpang lempuyang gajah dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit
diantaranya dipakai untuk mengobati penyakit kulit atau infeksi pada kulit akibat jamur atau bakteri
patogen misalnya bisul. Hal ini dikarenakan rimpang lempuyang gajah (Zingiber zerumbet Smith)
mengandung senyawa antibakteri yaitu minyak atsiri yang dapat merusak membran sel mikroorganisme
dan denaturasi protein. Selain itu rimpang lempuyang gajah juga mengandung flavonoid dan saponin
yang diyakini mengandung senyawa antibakteri. Oleh karena itu, dilakukan uji secara ilmiah untuk
membuktikan khasiat tersebut, dengan menguji aktivitas antibakteri ekstrak rimpang lempuyang gajah
terhadap salah satu bakteri penyebab infeksi yaitu bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak lempuyang
gajah yang digunakan, diperoleh melalui ekstraksi dengan cara perkolasi menggunakan pelarut etanol
70%. Dosis ekstrak yang diujikan adalah 5 g, 10 g dan 15 g menggunakan metode cakram kertas,dengan
zona bening pada ketiga dosis yaitu 67,93 mm2, 124,83 mm2 dan180,73 mm2.

Kata kunci: efektifitas, ekstrak buah pare, penurunan kadar gula
Salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar gula adalah buah pare yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai salah satu bahan makanan. Berdasarkan penelitian sebelumnya dengan dosis 0,5g, 1g, 1,5g buah pare yang diekstraksi menggunakan metode infundasi dapat menurunkan kadar gula darah mencit dengan pemakaian selama 2 minggu. Namun, kelarutan zat aktif dengan menggunakan infundasi kurang efektif karena zat aktif yang tersari hanya zat yang dapat larut dengan air, sehingga untuk memperbaiki pengambilan zat aktif digunakan metode maserasi. Proses penelitian meliputi tahap persiapan hewan uji sebanyak 25 ekor mencit galur balb c yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok dengan pengulangan sebanyak 5 kali. Tahap pelaksanaan meliputi pemberian perlakuan ekstrak buah pare dengan dosis 0,5 gram, 1 gram dan 1,5 gram. Tahap pengamatan penelitian meliputi penggecekan kadar gula darah yang dicek setiap 7 hari selama 2 minggu. Kemudian tahap analisis data dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) dan dilanjutkan dengan uji SNK. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dosis 1 gram dan 1,5 gram miliki aktifitas menurunkan kadar gula darah. dosis 0,5 gram dan 1 gram memiliki aktifitas yang Sama menurunkan kadar gula darah. dosis 1,5 gram merupakan dosis efektif karena mempunyai efek penurunan kadar gula darah tidak berbeda nyata dengan kontrol positif.

Kata kunci : Daya hambat, ekstrak daun binahong, Staphylococcus aureus
Tanaman binahong merupakan bahan alam yang memiliki banyak khasiat, diantaranya mempercepat proses penyembuhan pada kulit yang terluka, pada keadaan ini kulit akan sangat rentan terinfeksi bakteri. Salah satu bakteri yang sering menginfeksi pada kulit adalah Staphylococus aureus. Masyarakat biasanya menggunakan daun binahong sebanyak lima lembar untuk mengobati luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar daya antibakteri yang dimiliki oleh daun binahong dalam dosis empiris. Pengujian daya hambat antibakteri menggunakan metode difusi (penyebaran), hasilnya dapat diketahui dari zona bening yang dihasilkan oleh cakram kertas yang sudah rendam dengan zat antibakteri. Semakin luas zona bening yang dihasilkan, maka semakin baik aktifitas antibakteri yang dimilikinya.

Kata kunci : aktivitas ekstrak daun alpukat, antibakteri, Staphylococcus aureus
Tanaman alpukat merupakan tanaman penghasil buah yang telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
Bagian dari tanaman alpukat yang sering dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan luka, infeksi pada luka
akibat jamur atau bakteri pathogen seperti panu adalah daunnya. Hal ini dikarenakan daun alpukat mengandung
saponin, flavonoid dan polifenol yang diduga mempunyai aktivitas sebagai antibakteri. Saponin mempunyai
kemampuan memacu pembentukan kolagen satu yang merupakan suatu protein yang berperan dalam proses
penyembuhan luka. Pada kosentrasi rendah saponin menyebabkan hemolisis sel darah merah sehingga berfungsi
sebagai antibakteri, flavonoid juga berkhasiat sebagai antibakteri yang memiliki berbagai bioaktifitas, termasuk
analgetik dan antiinflamasi yang juga sangat berperan pada proses penyembuhan luka. Senyawa lain yang juga berperan
sebagai antibakteri yakni polifenol yang mempunyai kemampuan menghambat dan membunuh kuman, mikroorganisme
yang bisa menyebabkan penyakit pada kulit atau infeksi kulit, dengan merusak membran sel mikroorganisme dan
mendenaturasi protein. Oleh karena itu, dilakukan uji secara ilmiah untuk membuktikan khasiat tersebut, dengan
menguji aktivitas antibakteri ekstrak daun alpukat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan menggunakan
metode KHM dan KBM. Ekstrak daun alpukat yang digunakan, diperoleh dari hasil ekstraksi dengan cara perkolasi
menggunakan pelarut etanol 70% yang diuapkan menjadi ekstrak kental menggunakan rotary evaporator. Percobaan
menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 3 kali pengamatan. Dosis ekstrak yang digunakan
adalah 20 g, 30 g, 40 g, 50 g, dan 60 g, dengan menggunakan kontrol media, kontrol media dan bakteri serta kontrol
ekstrak.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun alpukat dapat menghambat dan tidak dapat membunuh
pertumbuhan koloni bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan bakteri yang
semakin menurun pada uji Konsentrasi Hambat Minimum pada dosis 20g, 30g, 40g,50g, 60 g dan masih terdapatnya
koloni bakteri yang tumbuh pada media selektif saat uji Konsentrasi Bunuh Minimum pada dosis 60 g.


Kata Kunci: daun ceremai, sitotoksik, BST, LC50
.Phyllanthus acidus [L.] Skeels. atau lebih dikenal dengan nama ceremai merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang berkhasiat sebagai antikanker. Bagian tanaman yang sering digunakan dalam pengobatan adalah daunnya yang mengandung flavonoid diduga mempunyai efek antikanker. Untuk mengetahui efek antikanker daun ceremai dilakukan uji aktivitas sitotoksik dengan metode BST (Brine Shrimp Lethality Test). Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya aktivitas sitotoksik ekstrak daun ceremai pada larva udang dengan melihat nilai LC50 (Lethality Concentration 50%). Ekstrak daun ceremai yang digunakan dalam penelitian ini diekstraksi dengan metode maserasi. Ekstrak yang diperoleh dipekatkan menjadi ekstrak kental yang selanjutnya dibuat menjadi larutan induk dengan konsentrasi 10 mg/ ml. Larutan induk dibagi ke dalam berbagai konsentrasi yaitu 1, 10, 100, 500, 1000 dan 1500 μg/ml yang dimasukkan ke dalam vial-vial. Ekstrak di dalam vial diuapkan hingga tidak terdapat pelarutnya, kemudian 10 ekor larva udang dimasukkan ke dalam masing-masing vial yang telah berisi ekstrak kering dan ditambahkan larutan NaCl 15g/ L ad 5 ml. Pengujian dilakukan selama 24 jam dan diamati jumlah kematian larva udang pada masing-masing perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai LC50 yang diperoleh sebesar 11,8952 μg/ml. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa daun ceremai mempunyai aktivitas sitotoksik karena dapat membunuh larva udang dengan nilai LC50 sebesar 11,8952 μg/ml.

Kata Kunci : sitotoksik, ekstrak daun sirsak, BST.
Beberapa jenis tanaman asli Indonesia telah diketahui secara empiris
mempunyai efek antikanker. Salah satu diantaranya adalah sirsak (Annona muricata,
L). Bagian dari tanaman sirsak yang digunakan sebagai antikanker adalah daunnya.
Diduga, acetogenin dan alkaloid murisine dalam daun dapat membunuh sel kanker.
Untuk mengetahui efek antikanker daun sirsak dilakukan uji sitotoksik ekstrak terhadap
larva udang menggunakan metode BST. Ekstrak diperoleh dari metode perkolasi
menggunakan pelarut etanol 70% Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental
dengan jumlah hewan uji yang diperlukan adalah 350 ekor larva. Sepuluh ekor larva
diberikan pada tiap kelompok dari 7 kelompok perlakuan dengan 5 kali pengulangan.
Masing��masing kelompok diberi berturut-turut 1500, 1000, 500, 100, 10, dan 1 mg/ml
ekstrak daun sirsak. Sedangkan kelompok ketujuh sebagai kontrol negatif. Data
diperoleh dengan menghitung jumlah larva yang mati dalam 24 jam setelah perlakuan .
Kemudian ditentukan LC50-nya dengan analisis probit. Hasil penelitian membuktikan
bahwa ekstrak daun sirsak memiliki efek sitotoksik terhadap larva udang dengan LC50
sebesar 0,551 mg/ml.

Kata kunci : aktivitas antibakteri, ekstrak daun pandan wangi, doksisiklin HCl, Staphylococcus aureus
Secara tradisional daun pandan wangi dapat digunakan untuk pengobatan infeksi luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun pandan wangi dengan dosis 5,16 gr, 15,19 gr dan 23,42 gr yang diujikan ke bakteri Staphylococcus aureus. Kandungan daun pandan wangi yang diperkirakan mempunyai daya antibakteri yaitu, saponin, tannin, flavonoid dan polifenol. Penelitian ini termasuk dalam penelitian eksperimental. Proses pembuatan ekstrak dilakukan dengan cara perkolasi. Hasil penelitian menunjukkan daerah hambat dari dosis 5,16 gr yaitu 3, 272 mm, dosis 15,19 gr yaitu 3,557 mm, dosis 23,42 gr yaitu 3,693 mm dan pada kontrol positif dengan dosis 1 mg / 1 ml yaitu 8,18 mm. Kontrol positif yang digunakan yaitu antibiotik doksisiklin HCl kapsul. Hasil tersebut menunjukkan bahwa daun pandan wangi belum mempunyai aktivitas antibakteri dikarenakan besar daerah hambat ekstrak daun pandan wangi lebih kecil dibandingkan dengan doksisiklin (kontrol positif). Sedangkan dari hasil perhitungan, menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang besar antar berbagai dosis dan terdapat perbedaan yang besar antar berbagai dosis dengan kontrol positif. 

Kata kunci : Respon Klinis, Epilepsi Grand Mall, Lansia, Fenitoin
.Epilepsi ialah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya serangan, berulang-ulang. Epilepsi grand mall lebih banyak diderita oleh penderita epilepsi. Salah satu obat yang digunakan untuk terapi epilepsi grand mall adalah fenitoin. Obat ini termasuk obat dengan jarak antara MTC (Minimum Toxic Consentration) dan MEC (Minimum Effectif Consentration) yang sempit. Terapi pada lansia dengan epilepsi memerlukan perhatian khusus karena perubahan usia dan kemundururan fungsi organ. Respon klinis yang perlu dipantau adalah respon toksik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana respon klinis yang terjadi pada pemakaian fenitoin oleh penderita epeilepsi grand mall lansia. Adapun penelitian ini bersifat deskriptif. Hasil yang didapatkan adalah yang mengalami hiperplasia gusi 27,8%, ruam kulit 11,1%, vertigo 66,7%, nistagmus 38,9%, mual 77,8%, sukar berbicara 22,2%, ataksia 66,7%. Dari penelitian ini diketahui bahwa secara umum efek toksik pada pemakaian fenitoin terjadi pada penderita epilepsi grand mall lansia.

Kata kunci : efektifitas, tragakan, mutu fisik, suspensi kering Amoxicillin
.Suspensi kering adalah campuran serbuk atau granul kering yang akan didispersikan dengan pembawa atau pelarut yang sesuai pada saat akan digunakan. Tragakan merupakan bahan tambahan pada sediaan suspensi yang berfungsi sebagai suspending agent untuk mendispersikan partikel yang tidak larut dalam pembawa dan meningkatkan viskositas sehingga kecepatan pengendapan diperlambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas konsentrasi tragakan terhadap waktu rekonstitusi, volume sedimentasi dan waktu redispersi suspensi kering Amoxicillin dan diharapkan dapat memberikan informasi tentang konsentrasi tragakan yang paling efektif sebagai suspending agent dalam sediaan suspensi kering Amoxicillin. Konsentrasi Tragakan yang digunakan pada sediaan suspensi kering Amoxicillin dalam penelitian ini adalah 1%, 1,5%, dan 2%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi Tragakan 1%, 1,5%, dan 2% sebagai suspending agent mempunyai efektifitas yang berbeda terhadap waktu rekonstitusi, volume sedimentasi, dan waktu redispersi, dan diperoleh kesimpulan bahwa konsentrasi Tragacan 1% sebagai suspending agent yang paling efektif digunakan pada suspensi kering Amoxicillin

Kata kunci : Aktifitas ekstrak daun sambiloto, antibakteri, Staphylococcus aureus,
Tetrasiklin Hcl.
Daun sambiloto (Andrographis paniculata Nees) adalah salah satu tanaman
yang digunakan masyarakat untuk mengobati infeksi karena bakteri. Berdasarkan data
empiris inilah dilakukan pengujian aktifitas antibakteri ekstrak daun sambiloto terhadap
salah satu bakteri penyebab infeksi yaitu bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak daun
sambiloto yang digunakan, diperoleh melalui ekstraksi dengan cara perkolasi
menggunakan pelarut etanol 80% yang diuapkan menjadi ekstrak kental
menggunakan rotary evaporator. Dosis ekstrak yang diujikan adalah 10g, 15g, 20g
dan Tetrasiklin Hcl. Penelitian aktifitas antibakteri ekstrak daun sambiloto terhadap
Stapylococcus aureus dengan pembanding Tetrasiklin Hcl meliputi tiga tahap kerja.
Pertama, tahap persiapan yaitu penyiapan bahan ekstrak daun sambiloto dengan cara
perkolasi, persiapan media selektif Manitol Salt Agar, sterilisasi alat-alat, persiapan
biakan murni Staphyloccocus aureus. Kedua, tahap pelaksanan yaitu pengujian
aktifitas daun sambiloto terhadap Staphylococcus aureus dengan pembanding
Tetrasiklin Hcl. Ketiga, tahap akhir yaitu tahap pengolahan data. Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa ekstrak daun sambiloto dapat menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus. Hal ini ditunjukkan dengan adanya zona bening disekitar
cakram kertas pada dosis 10g, 15g dan 20g. Berdasarkan hasil penelitian disarankan,
perlu kiranya dilakukan penelitian lebih lanjut tentang aktifitas antibakteri ekstrak daun
sambiloto dengan dosis di lebih besar lagi atau lebih dari dosis 20g.

Kata Kunci : basis oleum cacao, basis gelatin gliserin, uji mutu fisik supositoria
Supositoria Bismut subnitrat merupakan sediaan per rektal berkhasiat sebagai antihemoroid. Penggunaan basis akan memberikan pengaruh terhadap waktu lebur dan keseragaman bobot supositoria Bismut subnitrat. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbandingan uji mutu fisik supositoria Bismut subnitrat dengan menggunakan Oleum Cacao dan Gelatin gliserin sebagai bahan dasar.Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan keseragaman bobot serta waktu lebur antara basis Oleum cacao dan Gelatin gliserin. Waktu lebur basis Oleum cacao rata-ratanya adalah 29.3 menit, sedangkan yang menggunakan basis Gelatin gliserin adalah 40 menit. Untuk bobot basis Oleum cacao rata-ratanya adalah 2.018g, sedangkan basis Gelatin gliserin adalah 2.017 g.

Kata kunci : Aktivitas, ekstrak jamur dewa (Agaricus blazei Murril), Tekanan Darah
Beberapa bahan alam seperti tanaman Jamur Dewa (Agaricus blazei Murill) yang berkhasiat untuk menurunkan tekanan darah dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan. Tekanan Darah Tinggi dapat disebabkan karena kekakuan pada pembuluh arteri. Tanaman Jamur Dewa mempunyai senyawa asam linolik dan senyawa tirosin yang belum diketahui prosentase kandungan senyawa aktif yang bersifat menurunkan tekanan darah.Penelitian ini dilakukan melalui pengujian efektifitas jamur dewa, dimana dalam penelitian ini menggunakan metode maserasi-perkolasi untuk mendapatkan ekstrak Jamur Dewa dan untuk pengujiannya meggunakan metode tensimeter. Hasil dari uji efektivitas ekstrak Jamur Dewa dengan perbandingan dosis 9 mg dan dosis 18 mg dengan captopril dan Aquades menunjukkan prosentase penurunan tekanan darah sebesar (4,77), (4,19), (11,19), (0,69).

Kata kunci : Aktivitas Antibakteri, Ekstrak Kayu Secang, Staphylococcus aureus.
Secara tradisional Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk pengobatan infeksi luka yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan  untuk mengetahui aktivitas ekstrak kayu secang dalam sediaan cold cream tehadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan rancangan dosis 3 gram, 6 gram dan 9 gram. Selain itu untuk mengetahui sejauh mana perbedaan aktifitas dari ke tiga rancang  dosis. Serta untuk mengetahui dosis efektif dari ke tiga rancangan dosis. Hasil penelitian, terdapat perbedaan aktivitas antar berbagai dosis, terdapat perbedaan daya hambat antar berbagai dosis dengan kontrol negatif, terdapat perbedaan daya hambat antar berbagai dosis dengan kontrol positif. Dosis 6 gram dapat digunakan sebagai dosis paling efektif dibandingkan dengan dosis yang lain, karena berdasarkan hasil perhitungan ANAVA berbeda tidak nyata yang berarti menghasilkan aktifitas yang sama dengan control positif. Kontrol positif yang digunakan yaitu antibiotik Tetrasiklin HCl.



Kata Kunci : Efektifitas, CMC Na, volume sedimentasi, waktu redispersi, suspensi asam mefenamat.   
Suspensi merupakan sediaan cair yang mengandung partikel yang tidak larut tetapi terdispersi dalam dalam fase cair. Asam mefenamat merupakan obat analgesik antipiretik. Asam mefenamat digunakan karena bahan obat tidak larut dalam air tetapi masih diinginkan dalam bentuk sediaan cair. Pada penilitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi yang efektif pada sediaan suspensi Asam mefenamat dengan menggunakan suspending agent CMC Na. CMC Na merupakan suspending agent yang berfungsi meningkatkan viskositas suatu sediaan sehingga dapat digunakan untuk menstabilkan partikel padat yang tidak larut dalam medium pendispersinya. Konsentrasi CMC Na  yang digunakan pada penelitian ini adalah konsentrasi 0,5% , 1,5% , 2%. Pada evaluasi sediaan dilakukan uji volume sedimentasi dan waktu redispersi. Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan dari ketiga konsentrasi 0,5%, 1,5%, 2% pada penggunaan suspending agent CMC Na pada suspensi Asam mefenamat terhadap volume sedimentasi dan waktu redispersi. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 0,5% yang efektif dalam penggunaan suspensi Asam mefenamat ditinjau dari volume sedimentasi dan waktu redispersinya.


Kata Kunci : Infus, Rhizoma Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis), Asam
Urat
Asam urat merupakan substansi hasil pemecahan purin atau produk sisa dalam
tubuh. Pada keadaan normal asam urat larut dalam darah dan dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui urin. Jika produksi asam urat meningkat atau ginjal tidak mampu
mengeluarkan cukup asam urat dari dalam tubuh atau keduanya, maka kadar asam
urat dalam darah akan meningkat. Hal ini merupakan suatu kondisi yang disebut
hiperurisemia.
Binahong merupakan tanaman obat tradisional yang mengandung beberapa
senyawa, salah satunya senyawa flavonoid. Beberapa senyawa flavonoid diketahui
dapat menurunkan kadar asam urat. Penelitian ini bertujuann untuk mengetahui
pengaruh pemberian infus rhizoma binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis)
secara oral terhadap kadar asam urat darah mencit putih jantan yang mengalami
hiperurisemia.
Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap dengan 7 macam
perlakuan, setiap perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Pengujian pengaruh penurunan
kadar asam urat dilakukan secara eksperimental menggunakan alat pengukur kadar
asam urat (uric test) terhadap mencit. Penelitian ini dilakukan di laboratorium
farmakologi Putra Indonesia Malang pada bulan Juni sampai Juli 2010.
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa infus rhizoma binahong
dengan berbagai dosis dapat menurunkan kadar asam urat pada mencit putih yang
hiperurisemia. Infus rhizoma binahong dengan dosis 0,078g memberikan pengaruh
yang tidak berbeda secara bermakna dengan allopurinol dengan dosis 0,026g
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan agar dilakukan
pemberian penginduksi hiperurisemia dari bahan kimia serta pengujian secara klinis.


Kata kunci : Hubungan antara sikap dan motivasi, jumlah pasien drop out, penderita  tuberkulosis. 
Jumlah penderita TBC di Indonesia menempati urutan ke 3 setelah India dan China. Untuk menanggulangi permasalahan tesebut dilakukan program DOTS, yaitu penemuan dan penyembuhan penderita TBC secara gratis selama 6-8 bulan. Akan tetapi yang menjadi permasalahan dalam penyembuhan adalah pasien yang drop out. Banyak faktor yang menyebabkan pasien drop out diantaranya sikap dan motivasi. Sikap dan motivasi penderita merupakan faktor yang mendasar untuk menuntaskan pengobatan. Sikap adalah penilaian penderita TBC atau kesiapan berperilaku terhadap terapi pengobatan yang akan dilakukan. Sedangkan motivasi adalah dorongan dari diri penderita dan orang lain untuk menuntaskan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara sikap dan motivasi dengan jumlah pasien drop out pada penderita tuberkulosis di puskesmas Arjuno Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasi dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara sikap dan motivasi dengan jumlah pasien drop out pada penderita TBC di puskesmas Arjuno Kota malang. Adanya hubungan antara variabel ditunjukkan oleh nilai χ2 hitung  χ2 tabel.  Nilai χ2 tabel 3,84 sedangkan nilai χ2 hitung untuk variabel sikap adalah 31,507 dan variabel motivasi adalah 48,331. Derajat hubungan yang signifikan antara variabel ditunjukkan oleh perbandingan nilai Cmax (0,707) dengan nilai Cc dari sikap  (0,501) dan nilai Cc motivasi (0,582). 




AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN

Kata kunci : Uji Efektivitas Antifungi, Krim Ekstrak Rimpang Lengkuas Merah
(Alpinia Purpurata S. Kchum), Candida Albicans
Salah satu pengobatan alternatif yang dilakukan dalam penanggulangan
masalah kesehatan adalah meningkatkan penggunaan tumbuhan berkhasiat obat
dikalangan masyarakat. Bahan aktif yang terkandung pada tumbuhan tersebut
dapat diproses atau bahkan secara alami dapat digunakan untuk mengobati
berbagai macam penyakit. Penyakit infeksi kulit pada manusia yang disebabkan
oleh fungi di Indonesia masih relatif tinggi sedangkan obat antifungi relatif lebih
sedikit dibandingkan dengan antibakteri. Sehingga perlu dilakukan pengembangan
obat antifungi yang berasal dari bahan alam, salah satunya adalah lengkuas merah
( Alpinia purpurata ). Secara tradisional parutan atau potongan rimpang sering
digunakan sebagai obat penyakit kulit dengan cara digosokkan atau dioleskan
terutama yang disebabkan oleh fungi seperti panu, kurap, eksim, koreng, bisul,
dan lain-lain. Agar ekstrak rimpang lengkuas merah (Alpinia purpurata) tersebut
dapat diterima, lebih efektif, dan lebih praktis untuk digunakan sebagai obat
antifungi, maka dibuat dalam sediaan topikal yaitu dalam bentuk krim.
Untuk mengetahui efektivitas Krim Ekstrak Rimpang Lengkuas Merah
(Alpinia Purpurata) sebagai antifungi terhadap Candida albicans, maka dilakukan
penelitian melalui pengujian efektivitas antifungi dengan metode hole plate
dengan cara memasukkan krim ekstrak rimpang lengkuas merah (Alpinia
purpurata) kedalam lubang pada permukaan lempeng media SDA yang sudah
dimasukkan suspensi Candida albicans dengan masing-masing dosis yaitu sebesar
(30%, 40% dan 50%) dan digunakan krim mikonazol 2% sebagai bahan
pembanding. Kemudian diinkubasi pada suhu 370 C selama 1 x 24 jam. Kemudian
diukur diameter zona bening yang terbentuk disekitar hole plate.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa krim ekstrak rimpang lengkuas merah
(Alpinia purpurata) mempunyai daya antifungi terhadap Candida albicans.
Semakin tinggi dosis maka semakin luas zona hambat yang terbentuk. Dosis yang
efektif sebagai antifungi pada penelitian ini adalah dosis 50% dengan persentase
zona hambat sebesar 91% dari zona hambat krim mikonazol.
Dari hasil penelitian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang
peningkatan dosis, dan uji efektivitas terhadap fungi penyebab penyakit kulit
lainnya. Serta pembuatan formulasi krim yang lebih baik dan pengujian mutu fisik
sediaan sehingga krim ekstrak rimpang lengkuas merah ( Alpinia purpurata )
dapat digunakan sebagai sediaan krim antifungi untuk alternatif obat infeksi
penyakit kulit akibat fungi.

Kata Kunci : aktivitas, antioksidan, ekstrak, daun bambu, pelarut alkohol, reagent
DPPH.
Di indonesia banyak sekali pemanfaatan tanaman bambu, salah satunya
daun bambu yang mempunyai khasiat sebagai peluruh dahak, herbal pencegah
penyakit, batuk, dan sesak nafas. Daun bambu kaya akan flavonoid, berdasarkan
penelitian diketahui bahwa di dalam daun bambu terkandung zat-zat seperti
flavonoid, klorofil, polisakarida, asam amino, vitamin, mikroelemen yang baik
untuk penurunan darah dan kolesterol. Penelitian ini bertujuan mengetahui
aktivitas antioksidan ekstrak daun bambu dalam pelarut alkohol yang dinyatakan
dengan prosen peredaman. Penelitian ini merupakan penelitian jenis
eksperimental karena merupakan metode pengamatan langsung dengan
spektrofotometri UV-Vis. Metode spektrofotometri UV-Vis dipilih dalam
penelitian ini karena flavonoid mempunyai sistem aromatik terkonjugasi, dan
mempunyai pita serapan pada daerah ultraviolet dan tampak sehingga perlu
diamati dengan spektrofotometri UV-Vis.
Penelitian ini dilakukan di laboratorium farmakognosi, kampus putra
indonesia malang. Adapun populasi sampel dalam penelitian ini adalah tanaman
daun bambu segar yang diekstraksi dengan menggunakan 3 pelarut alkohol (
etanol, metanol, isopropanol ). Senyawa flavonoid dapat digunakan sebagai
antiradikal bebas, yang diuji dengan reagent DPPH, dimana yang nantinya akan
menemukan IC50 dengan pembuatan konsentrasi yang lebih kecil atau pengenceran
ulang dari kelima konsentrasi tersebut, pada penelitian dibuat konsentrasi sebesar
16 ppm, 24 ppm, 32 ppm, 40 ppm, 60 ppm.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak menemukan nilai konsentrasi
IC50, kecenderungan disebabkan pada ekstrak yang terlalu pekat, tetapi ada
perbedaan ekstrak dari pelarut etanol, metanol, isopropanol.dan hanya diperoleh
hasil prosen peredaman dari masing-masing ekstrak daun bambu dalam ketiga
perlarut tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan perlu dilakukan penelitian uji
antioksidan untuk menemukan IC50 dengan melakukan pengenceran
ulang.disamping itu, perlu dilakukan uji potensi antioksidan daun bambu
menggunakan pelarut lain seperti air atau non polar

Kata kunci : eugenol, isoeugenol, isomerisasi, KOH
Lamanya mendapatkan vanili murni dari peoses fermentasi buah vanilla menjadi salah satu hambatan yang menyebabkan dibuatnya vanili sintetik dari senyawa alternatif yaitu eugenol yang sangat efektif dan ekonomis yang banyak digunakan oleh industry-industri vanili. Namun, eugenol harus terlebih dahulu mengalami proses isomerisasi menjadi isoeugenol sebagai fase antara sebelum terbentuknya vanili sintetik.
Isomerisasi pada eugenol adalah reaksi yang penting, karena produknya, yaitu isoeugenol digunakan pada aplikasi farmasi, industri parfum, dan industri perasa pada makanan dan minuman. Reaksi isomerisasi membutuhkan energi aktivasi yang tinggi, sehingga diperlukan katalis karena dengan adanya katalis, energi aktivasi yang dibutuhkan tidak terlalu tinggi. Katalis yang biasa digunakan dalam reaksi isomerisasi adalah larutan alkali kuat (KOH atau KOtBu) sebagai katalis homogen.
Pada penelitian ini, dilakukan reaksi isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol menggunakan katalis basa KOH. Basa KOH terlebih dahulu dilarutkan dengan pemanasan menngunakan dietilen glikol, setelah itu dicampur dengan eugenol dan direflux dengan suhu 150oC selama 6 jam (suhu dan waktu reflux sama untuk semua perbandingan). Penambahan eugenol dan KOH dilakukan dengan perbandingan mol yang bervariasi mulai dari 1:1, 1:2, 1:3 hingga 1:4 (dimana jumlah basa KOH yang bervariasi sedangkan untuk eugenol tetap).
Dari hasil isomerisasi, diperoleh kondisi optimum, yaitu pada penambahan basa KOH sebesar 20g yang dilarutkan dengan 40g dietilen glikol dan dicampur dengan 10g eugenol yang adalah perbandingan antara eugenol dan basa KOH 1:2, menghasilkan presentase kadar isoeugenol sebesar 0.86%

Kata Kunci : Pulp, Bahan Baku Alkohol.
Produksi alkohol yang umum digunakan adalah dengan cara fermentasi
menggunakan sejenis ragi Saccharomyces cerevisiae. Dalam proses ini
menggunakan bahan baku hasil pertanian yang banyak mengandung karbohidrat
termasuk cairan limbah pabrik kertas atau pulp yang banyak mengandung selulosa
dan molase yang merupakan limbah hasil produksi gula. Pulp adalah hasil
pemisahan serat dari bahan baku berserat yang terdiri dari serat - serat ( selulosa
dan hemiselulosa ). Dalam pembuatan kertas menghasilkan hasil samping atau
limbah berupa limbah pulp. Molase mengandung sejumlah besar gula baik
sukrosa maupun gula pereduksi. Limbah pulp dan molase mempunyai persamaan
dalam hal sebagai bahan baku pembuatan alkohol, karena kedua bahan ini
memiliki kandungan yang dapat diuraikan menjadi alkohol dengan metode
fermentasi. Selama ini molase sudah banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku
alkohol sedangkan limbah pulp belum dimanfaatkan secara efektif.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti ingin melakukan penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui mutu fisika-kimia alkohol hasil fermentasi limbah
pulp dan molase serta mengetahui seberapa jauh perbedaan mutu antara alkohol
hasil fermentasi limbah pulp dengan molase. Mutu fisika dan kimia adalah suatu
penilaian tentang sesuatu yang baik dan buruk dimana yang baik dan yang buruk
tersebut memiliki suatu parameter ukur fisika dan kimia yang memenuhi standart.
Metode yang digunakan dalam pengujian mutu fisika dan kimia alkohol adalah
dengan bobot jenis, indeks bias dan penetapan kadar alkohol menggunakan
destilasi kemudian ditetapkan dengan metode piknometer.
Penelitian ini dilakukan di laboratorium farmakognosi Putra Indonesia
Malang tanggal 23 mei sampai 22 juni 2009. Penelitian ini untuk mengetahui
seberapa jauh perbedaan mutu fisika kimia alkohol hasil fermentasi limbah pulp
dengan alkohol hasil fermentasi molase.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa alkohol hasil fermentasi limbah pulp
yang mengandung selulosa memiliki mutu lebih rendah dari pada alkohol hasil
fermentasi molase dilihat dari bobot jenis, indeks bias dan kadar alkoholnya.
Berdasarkan hasil penelitian disarankan penelitian-penelitian berikutnya
mampu memperbaiki metode maupun prosedur pembuatan alkohol yang berbahan
dasar limbah pulp agar hasilnya semakin bermutu tinggi.

Kata kunci : modifikasi pati, perbedaan konsentrasi asam, FTIR, edible film
Pati banyak dimanfaatkan pada industry makanan maupun farmasi.
Sumber pati beragam, salah satunya bisa berasal dari jagung. Penggunaan pati
jagung jarang digunakan dalam industry pangan karena memiliki kendala pada
proses pengolahan antara lain adalah pasta yang dihasilkan tidak jernih,
membutuhkan waktu yang lama saat dimasak. Untuk mengatasi kendala tersebut
pati jagung dapat dimodifikasi sehingga diperoleh pati dengan karakteristik kimia
yang lebih baik dari pati alami. Proses modifikasi pati ada tiga yaitu modifikasi
dengan hidrolisis, modifikasi secara kimia, dan modifikasi secara fisika. Pada
penelitian ini dilakukan modifikasi secara kimia yaitu asetilasi.
Tujuan penelitian ini secara umum adalah mengetahui pengaruh perbedaan
konsentrasi asam asetat (6%, 9%, dan 12%) pada proses modifikasi pati jagung
terhadap karakteristik pati dan aplikasinya sebagai edible film. Dalam penelitian
ini dilakukan determinasi terhadap tanaman jagung yang kemudian diisolasi untuk
memperoleh pati alami sederhana. Selanjutnya dilakukan modifikasi terhadap
pati. Pati yang diperoleh selanjutnya dilakukan pengamatan organoleptis, serapan
infra merah dengan spektrofotometer FTIR dan dipalikasikan sebagai edible film.
Hasil penelitian menunjukan bahwa perbedaan konsentrasi asam asetat
menghasilkan pati dengan karakteristik yang lebih baik. Dapat dilihat dari hasil
pengamatan berupa uji organoleptis yang meliputi bentuk, warna dan bau.
Pengamatan menggunakan spektrofotometer FTIR menunjukan bahwa,
penambahan asam asetat konsentrasi 6%, 9%, dan 12% menunjukan perbedaan
intensitas pita serapan pada bilangan gelombang tertentu. Terjadi penambahan
gugus pada pati modifikasi yaitu gugus OCOCH3 pada bilangan gelombang
1700cm-1. Aplikasi pati modifikasi dengan penambahan asam asetat konsentrasi
6%, 9%, dan 12% menghasilkan organoleptis edible film dengan kejernihan pasta
yang lebih baik dari pati jagung alami.
Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penambahan asam asetat
dengan konsentrasi yang berbeda terhadap karakteristik pati, organoleptis,
serapan infra merah dan organoleptis pati setelah diaplikasikan sebagai edible
film. Dari hasil penelitian ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap
prosedur proses modifikasi yang lebih baik dengan dilakukan pemanasan dan
pengamatan organoleptis edible film menggunakan mikroskop.

Kata Kunci : Isolasi, Pati Sederhana, Pati Modifikasi enzimatis, Amilosa,
Amilopektin.
Pemanfaatan buah durian selama ini hanya terbatas pada daging buah
duriannya saja, sedangkan biji durian masih belum dimanfaatkan secara optimal
sehingga pada musim durian bijinya menjadi berlimpah. Padahal biji durian
memiliki kandungan pati yang cukup tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan
alternative pemanfaatan biji durian menjadi pati yang nantinya dapat dijadikan
sebagai pengganti bahan makanan dan bahan baku pengisi farmasetik.Pati juga
memiliki kegunaan dalam bidang farmasi terutama formula sediaan tablet, yang
berfungsi sebagai bahan pengisi, penghancur maupun sebagai pengikat.
Kandungan pati terdiri dari dua penyusun utama yaitu amilosa dan amilopektin,
yang diketahui bahwa kandungan amilosa dalam pati dapat menjadikan tablet
hancur tepat ketika berada didalam tubuh. Kadar amilosa dalam tablet yang besar
akan mempunyai sifat sebagai penghancur. Untuk memperoleh pati yang
mengandung amilosa lebih banyak dari pada amilopektin maka dilakukan
pengisolasian pati dengan penambahan enzim pullulanase sebagai pemecah rantai
amilopektin (pati modifikasi)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi
enzim pulullanase terhadap kadar amilosa dan amilopektin pada pati biji durian.
Dalam penelitian ini dilakukan determinasi sampel buah durian yang kemudian
dilakukan isolasi hingga diperoleh pati sederhana. Selanjutnya pati hasil isolasi
pati sederhana diberi perlakuan dengan penambahan enzim pulullanase dengan
konsentrasi 240 μl, 340 μl dan 440 μl. Pati yang diperoleh selanjutnya dilakukan
penetapan kadar amilosa dengan spektrofotometri UV pada panjang gelombang
622,70 nm.
Penetapan kadar amilosa pada pati hasil isolasi sederhana dan
modifikasi.Diperoleh kadar amilosa dan amilopektin pati biji durian hasil isolasi
sederhana amilosa 23,19% dan amilopektin 76,80%, pati modifikasi 240 μl
amilosa 31,23% dan amilopektin 68,77%; kadar amilosa pati modifikasi 340 μl
35,14% dan amilopektin 64,85 dan kadar amilosa pati modifikasi 440 μl 41,22%
dan kadar amilopektin 58,78 %.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa perlakuan pati dengan metode
modifikasi memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap uji organoleptis
meliputi bentuk, warna, bau dan hasil uji dengan Anava satu arah diperoleh nilai
signifikan ( p = 0,001 ) < α (0,05 ) yang artinya terdapat pengaruh konsentrasi
enzim pulullanase terhadap kadar amilosa dan amilopektin pada pati biji durian.
Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi enzim
pulullanase terhadap kadar amilosa dan amilopektin pada pati biji durian . Dari
hasil penelitian ini perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan pati
modifikasi pada formulasi tablet untuk mengganti amilum yang biasanya
digunakan dalam pembuatan tablet.

Kata kunci : pengaruh penggunaan, umbi sarang semut, penurunan kadar gula darah,
mencit
Pola hidup yang keliru dapat memicu timbulnya berbagai penyakit, salah
satunya yang harus diwaspadai adalah Diabetes Mellitus (DM), sebab sangat
disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya
mengidap DM. Selain pengendalian berat badan, olahraga dan diet seimbang
diberikan pula terapi sulih insulin dan obat hipoglikemik oral sebagai terapi dibetes.
Namun penggunaan obat-obat terapi tersebut dapat menimbulkan efek samping
sehingga digunakanlah bahan alam sebagai alternatif terapi diabetes. Salah satunya
adalah sarang semut (Myrmecodia pendens) yang memiliki kandungan aktif senyawa
flavonoid yang dipercaya dapat menurunkan kadar gula darah.
Bahan yang akan diuji adalah umbi sarang semut (Myrmecodia pendens) yang
diperoleh dari kabupaten Pegunungan Jayawijaya Papua yang kemudian dibuat
ekstrak dengan cara maserasi. Hewan uji yang digunakan adalah mencit jantan yang
berumur 2-3 bulan dengan bobot 20-25 gram.
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi Akademi Analis
Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang selama bulan Juni 2009. Dilakukan
secara eksperimental. Rancangan penelitian ini meliputi tiga tahapan kerja. Pertama,
tahap persiapan meliputi penentuan objek penelitian, proses pembuatan prosedur,
persiapan alat dan bahan. Kedua, tahap pelaksanaan yang merupakan tahap pengujian
dan pengamatan kadar gula darah kepada mencit selama seminggu setelah diberikan
sampel. Ketiga, merupakan tahap akhir yaitu analisis data yang diperoleh dengan
menggunakan metode Analisis Varian (ANAVA) dalam bentuk Rancangan Acak
Lengkap (RAL) dilanjutkan dengan uji SNK untuk mengetahui perbedaan antar
perlakuan.
Dari hasil analisa data diketahui rerata penurunan kadar gula darah mencit
dari yang terbesar hingga terkecil yaitu kelompok B yaitu sebesar 117,3 mg/dl,
kemudian kelompok C sebesar 78,3 mg/dl, kelompok D sebesar 42 mg/dl, kelompok
A sebesar 38,3 mg/dl dan kelompok E hanya sebesar 4,7 mg/dl. Setelah dilakukan
analisis data, diperoleh nilai F hitung sebesar 36,805, dan F tabel 5% 3,48, artinya
bahwa ekstrak umbi sarang semut berpengaruh pada penurunan kadar gula darah.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari
penggunaan ekstrak umbi sarang semut dalam penurunan kadar gula darah dengan
dosis efektif sebesar 26 mg. Dari penelitian ini disarankan dilakukannya isolasi
senyawa aktif dari tumbuhan sarang semut.

Kata Kunci : Kepala Ikan Tongkol, Serbuk Perisa
Serbuk perisa merupakan penyedap rasa berbentuk serbuk yang berasal dari alam
yang dikhususkan untuk memberikan cita rasa pada makanan. Selama ini sediaan
penyedap rasa masih dalam bentuk yang diambil bahan aslinya contoh : terasi, bumbu
instant misalnya : produk merk masako. Kemudian mulai dikembangkan sediaan
penyedap rasa dalam bentuk serbuk yang digunakan sebagai cita rasa makanan yaitu
serbuk perisa. Sejalan dengan perkembangan jaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ada beberapa penelitian yang telah memanfaatkan limbah kepala udang
sebagai serbuk perisa (Ambarwati, 2007). Selain kepala udang, kepala ikan tongkol
juga dapat digunakan sebagai alternative yang dapat dibuat sebagai serbuk perisa.
Tujuan penelitian ini adalah membuat serbuk perisa kepala ikan tongkol dengan
perbandingan antara air : kepala ikan tongkol dan konsentrasi bahan pengisi. Dan
dilakukan uji mutunya, yaitu uji organoleptis, uji daya serap uap air, kadar air, kadar
protein dan perlu dilakukan uji volunter terhadap masyarakat untuk mengetahui
kesukaan masyarakat dari perbandingan antara air : kepala ikan tongkol dan
konsentrasi bahan pengisi. Pada pembuatan serbuk perisa ini dibuat 3 formulasi yaitu
pada formulasi 1( perbandingan air : kepala ikan (1:1) ), formulasi 2 ( perbandingan
air : kepala ikan (1:2) ) dan formulasi 3 ( perbandingan air : kepala ikan (2:1) ).
Pembuatan serbuk perisa hingga didapatkan ekstrak kental dilakukan di aboratorium
Farmakognosi Putra Indonesia Malang. Setelah didapatkan ekstrak kental, ekstrak
dioven dengan menggunakan vocum dyring yang dilakukan di Laboratorium Sentral
Ilmu Hayati Universitas Brawijaya Malang, lalu diblender hingga menjadi serbuk dan
diayak. Kemudian serbuk perisa dilakukan uji mutu. Uji yang dilakukan yaitu uji
organoleptis, daya serap uap air, kadar air yang dilakukan di Laboratorium
Farmakognosi dan Laboratorium Mikrobiologi Putra Indonesia Malang dan dilakukan
uji protein di Laboratorium THP Universitas Brawijaya Malang. Untuk uji volunter,
responden diperolah dari pedagang pasar mergan.
Hasil yang diperoleh dari uji organoleptis, daya serap uap air, kadar air dan kadar
protein, urutan formulasi yang terbaik ditinjau dari perbandingan bahan baku dalam
air adalah formulasi 1 (1:1), formulasi 2 (1:2) dan formulasi 3 (2:1). Dan ditinjau dari
konsentrasi bahan pengisi, dari uji daya serap uap air dan kadar air konsentrasi 5%
lebih baik dari 15% sedangkan kadar protein konsentrasi 15% lebih baik dari 5%.
Untuk hasil uji volunteer, responden menyukai formula 3. Penelitian tentang serbuk
perisa kepala ikan tongkol ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap
formulasi serbuk perisa dan untuk menentukan standart mutu serbuk perisa.

Kata Kunci : Uji Penerimaan Volunteer, permen jelly mengkudu
Uji penerimaan volunter permen jeli mengkudu merupakan pengujian
yang dilakukan terhadap volunter sehingga volunter dapat memberikan tanggapan
mengenai permen jelly mengkudu yang telah dihasilkan peneliti. Pemanfaatan
buah mengkudu sebagai produk kesehatan dipasaran sangat diminati karena secara
empiris buah mengkudu dipercayai memiliki banyak khasiat untuk kesehatan.
Namun, produk mengkudu mempunyai beberapa kekurangan diantaranya memiliki
aroma dan rasa yang kurang enak sehingga konsumen kurang menyukai produk
mengkudu. Selain itu, buah mengkudu memiliki kandungan pektin sebesar
0,8047% sehingga memenuhi persyaratan minimal untuk dapat dibuat permen jelly.
Oleh karena itu timbul pemikiran membuat makanan herbal berkhasiat berupa
permen jelly mengkudu.
Permen jeli mengkudu adalah suatu jenis permen lunak berbahan dasar
gelatin yang mengandung sari mengkudu, diolah dengan campuran gula dan sirup
gula hingga tercapai suatu sediaan dengan tekstur dan kekenyalan tertentu.
Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium kimia Akademi Analis Farmasi
dan Makanan Putra Indonesia Malang pada bulan Juni 2010. Penelitian Ini
menggunakan metode eksperimen yaitu dengan membuat permen jeli yang
mengandung mengkudu dengan berdasarkan formula standar permen jeli yang
sudah dilakukan observasi sebelumnya. Permen jeli yang sudah jadi selanjutnya
dilakukan penetapan organoleptis, kemudian dilakukan uji penerimaan volunter
dengan variabel bentuk, rasa,tekstur, warna, dan bau. Untuk analisis data
digunakan kriteria kualitas berdasarkan hasil data penelitian yang diperoleh
melalui uji volunteer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa volunter memberikan tanggapan
yang baik terhadap sediaan permen jeli mengkudu. Hal ini dapat dilihat dari
prosentase rata-rata yang didapat yaitu sebesar 78,99 % yang termasuk dalam
kriteria “baik”.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa permen jelly buah
mengkudu dapat diterima oleh volunteer. Dan disarankan pada pembuatan permen
jelly selanjutnya dilakukan uji kuantitatif dan menambahkan essens untuk
menghilangkan bau dari buah mengkudu yang kurang disukai.


Kata Kunci : Kadar, Etanol, Asam Asetat, Kombucha tea, Gula aren
Teh kombucha merupakan minuman tradisional hasil fermentasi larutan teh
dan gula dengan menggunakan starter mikroba kombucha (Acetobacter xylinum dan
beberapa jenis khamir) dan difermentasi selama 8 hari. Teh ini sudah lama digunakan
sebagai salah satu minuman kesehatan. Namun BPOM telah mengumumkan bahwa
berdasarkan penelitian kadar etanol dan asetat yang dihasilkan cukup tinggi, sehingga
dapat membahayakan kesehatan.
Oleh karena itu pada penelitian ini dibuat kombucha tea dengan mengganti
gula pasir yang pada umumnya digunakan sebagai pemanis dengan gula aren, dengan
dua konsentrasi yang berbeda. Fermentasi dilakukan selama 8 hari dan setelah itu
larutan kombucha tea tanpa jamur disimpan dalam lemari es selama 5 hari yang
bertujuan untuk menghentikan fermentasi agar didapat kadar etanol dan asam asetat
yang lebih rendah sehingga aman bagi kesehatan.
Rancangan penelitian ini meliputi tiga tahapan kerja. tahap persiapan meliputi
persiapan sampel kombucha tea dengan penambahan gula aren 75 gr dan 100 gr.
Kedua, tahap pelaksaan meliputi analisa kadar etanol yang dilakukan di Laboratorium
Kimia Politeknik Negeri Malang dengan Kromatografi gas dan Laboratorium
Mikrobiologi Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang
dengan metode titrasi Alkalimetri untuk analisa kadar asam asetat selama bulan Juni
2010. Ketiga, merupakan tahap akhir yaitu analisa data.
Dari hasil analisa pada fermentasi selama 8 hari, dengan penambahan gula
aren 75 gr dan 100 gr, kadar etanol 0,10% dan 0,06% sedangkan asam asetat 0,02%
dan 0,0192%. Untuk yang penyimpanan 5 hari dalam lemari es, dengan penambahan
gula aren 75 gr dan 100 gr, kadar etanol 0,02% dan 0,02% sedangkan asam asetat
0,0133% dan 0,0128%. Dengan menggunakan metode statistik ANAVA. F hitung
lebih kecil dari F tabel maka dapat disimpulkan ada perbedaan nyata dibandingkan
dengan Gula Pasir. Dari hasil penelitian ini disarankan untuk melanjutkan analisa zat
aktif lain yang bermanfaat bagi kesehatan.


Kata kunci: pengaruh ekstrak daun sirih merah, antibakteri, Staphylococcus aureus

Kandungan zat yang terdapat pada sirih merah berfungsi sebagai antibakteri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan secara kromatografi sirih merah mengandung flavonoid, alkaloid, senyawa polifenolat, tanin, dan minyak atsiri. Senyawa-senyawa di atas di ketahui memiliki sifat antibakteri. Dimana berbagai macam kandungan di atas mampu menghambat dan membunuh bakteri yang bisa menyebabkan infeksi pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antibakteri ekstrak daun sirih merah terhadap Staphylococcus aureus. Ekstrak daun sirih merah diperoleh melalui ekstraksi dengan cara perkolasi menggunakan pelarut etanol 70%, yang diuapkan menjadi ekstrak kental menggunakan evaporator. Dosis ekstrak yang diujikan ialah 2,088 g, 5,11 g, 7,98 g dan Tetrasiklin HCl1g/1ml dengan menggunakan kontrol negatif, kontrol positif, dan kontrol pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih merah mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Hal ini ditunjukkan dengan adanya daerah hambat pada media selektif Mannitol Salt Agar.

Kata Kunci : Aktivitas antioksidan, DPPH, Ekstrak tomat                                                                                                    
                               Di dalam tubuh kita terdapat senyawa yang disebut antioksidan yaitu senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas. Antioksidan juga dapat diperoleh dari asupan makanan yang banyak mengandung vitamin C, misalnya buah tomat. Khasiat dari buah tomat diantaranya dapat menyembuhkan gusi berdarah, mengatasi sakit perut, dan menghaluskan wajah.  Keisitimewaan lain buah tomat adalah tingginya kandungan likopen. Selain memberikan warna merah pada buah tomat, likopen terbukti efektif sebagai zat antioksidan. Likopen juga dapat menurunkan risiko terkena kanker, terutama kanker prostat, lambung, tenggorokan dan usus besar.
Buah tomat (Lycopersicum escolentum Mill) mengandung banyak senyawa yang bersifat antioksidan antara lain vitamin C dan likopen yang dapat di tentukan dengan metode peredaman radikal bebas (1,1-Diphenyl-2-Picrylhidrazil). Dalam rangka meningkatkan pemanfaatan antioksidan alami dari makanan, telah dilakukan penelitian uji aktivitas antioksidan dari ekstrak buah tomat
Tomat segar sebanyak 250 g diekstraks secara maserasi dengan pelarut etanol. Selanjutnya ekstrak dipekatkan dengan alat rotary evaporator. Ekstrak diuji terhadap DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhidrazil) dengan berbagai konsentrasi 16 ppm, 24 ppm, 32 ppm, 40 ppm, 60 ppm. Sebagai radikal bebas dengan mengukur absorbansi DPPH pada panjang gelombang 520 nm, menggunakan spektrofotometri UV-Visibel. Penelitian ini dilakukan di laboratorium farmakologi Akafarma Putra Indonesia Malang selama Juli 2010.
Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa ekstrak buah tomat (Lycopersicum escolentum Mill) memiliki kemampuan meredam radikal bebas DPPH. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa % peredaman ekstrak etanol buah tomat (Lycopersicum escolentum Mill) segar 83,94 %
Dari hasil penelitian ini disarankan untuk melanjutkan aktivitas antioksidan dan pengujian antioksidan dengan metode atau pelarut yang lain.    

Kata Kunci : daun sirih merah (Piper crocatum L), antioksidan, DPPH
Tanaman sirih merah ( Piper betle L. var Rubrum ) sering ditemukan
sebagai tanaman hias di sekitar rumah. Selain digunakan sebagai hiasan, sirih
merah digunakan dalam upacara adat pada sebagian besar penduduk Jawa.
Biasanya yang digunakan adalah daunnya. Daun Sirih mengandung senyawasenyawa
fitokimia yaitu alkaloid, saponin, tannin, dan flavonoid. Tujuan
dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas
antioksidan senyawa-senyawa ekstrak daun sirih merah yang larut dalam pelarut
alkohol.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan alat spektrofotometri UVVIS.
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Perum Jasa Tirta Malang.
Populasi sampel yang digunakan adalah ekstrak daun sirih merah yang diekstrak
dengan 3 pelarut yaitu methanol, etanol, dan isopropanol. Masing-masing ekstrak
diuji dengan reagen DPPH (2,2-Diphenyl-1-picrilhydrazil) sebagai uji radikal
bebas dengan mengukur absorbansi DPPH pada panjang gelombang 516 nm
untuk methanol, 518 nm untuk etanol, dan 518,7 nm untuk isopropanol sesuai
hasil pengukuran panjang gelombang maksimal dengan menggunakan
spektrofotometri UV-Visibel.
Hasil penelitian dalam penentuan IC50 didapat % perendam pada ekstrak
methanol menit ke-10 dengan konsentrasi 40,23 ppm yaitu sebesar 62,52%
didapatkan nilai r = 0,8504, pada ekstrak etanol menit ke-10 dengan kosentrasi
24,0318 ppm yaitu sebesar 56,22% didapatka9n nilai r = -0,4319, pada ekstrak
isopropanol menit ke-10 dengan kosentrasi 32,06 ppm dengan kosentrasi 55,77%
didapatkan nilai r = 0,3297.
Hasil penelitian tersebut belum diperoleh nilai IC50 dari ekstrak daun sirih
merah karena harga r dan rentang prosen inhibisi belum memenuhi persyaratan.
Saran dalam penelitian ini supaya dilakukan penelitian ulang sehingga
mendapatkan nilai IC50.

Kata Kunci : DPPH, aktivitas antioksidan, o.sanctum L.
Tanaman kemangi (o. sanctum L.) digemari masyarakat sebagai sayuran.
Daun kemangi diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yang salah
satunya disumbangkan oleh senyawa flavonoid.Senyawa flavonoid merupakan
sumber antioksidan alami yang biasanya terdapat dalam tumbuhan.Adanya
kandungan flavonoid dalam kemangi tersebut mendorong untuk melakukan
pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH (2,2
diphenyl-1-picrylhydrazil). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas
antioksidan ekstrak daun kemangi yang digambarkan dengan nilai IC50 . Untuk
mendapatkan ekstrak daun kemangi maka dilakukan prosesekstraksi dengan
menggunakan maserasi selama 5x24 jam dan kemudian di perkolasi sampai
diperoleh hasil jernih. Selanjutnya ekstrak dipekatkan dengan menggunakan alat
rotary evaporator. Ekstrak daun kemangi diuji dengan menggunakan reagen
DPPH (2,2-Difenil-1-pikrilhidrazil) sebagai radikal bebas secara spektrofotometri
yang diukur absorbansi DPPH pada panjang gelombang 520 nm, diperoleh pada
menit ke-5, 30, 45, dan 60, sedangkan pada panjang gelombang 518 nm diperoleh
pada menit ke-15. Pengujian sampel dan DPPH digunakan pada panjang
gelombang 519 nm. Hasil penelitian didapatkan % peredaman pada kosentrasi
32,1536 ppm yaitu sebesar 81,0% pada menit ke-5, pada kosentrasi 24,1152 ppm
yaitu sebesar 79,7% pada menit ke-15,pada konsentrasi 60,288 ppm yaitu sebesar
79,7% pada menit ke-30, pada konsentrasi 60,288 yaitu sebesar 79,7% pada menit
ke-45,dan pada konsentrasi 16,0768 sebesar 79,7% pada menit ke-60. Dari hasil
penelitian tersebut tidak didapat nilai IC 50 dari ekstrak daun kemangi.
Berdasarkan Hasil penelitian di atas, maka disarankan melakukan penelitian
aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode lain, antara lain metode
linoleat-tiosianat.

Kata Kunci : Nata, Nata Ubi Jalar Ungu, Acetobacter xylinum, Mutu.
Ubi jalar merupakan salah satu jenis bahan makanan yang sudah sangat merakyat dan keberadaannya melimpah di Indonesia. Salah satu jenis ubi jalar yang terdapat di Indonesia adalah ubi jalar ungu (Ipoema batatas varietas Ayamurasaki). Salah satu upaya untuk meningkatkan citra ubi jalar ungu yaitu dengan membuat produk makanan dan minuman dari ubi jalar ungu tersebut. Produk yang dapat dibuat dari ubi jalar ungu adalah nata. Nata adalah jenis makanan yang dibuat dengan cara memfermentasi sari buah dengan bantuan Acetobacter xylinum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu fisik, kimia, dan volunter nata ubi jalar ungu (Ipoema batatas varietas Ayamurasaki).
Penelitian ini dilakukan di kampus Akafarma Putra Indonesia Malang dan laboratorium Pengujian Mutu dan Keamanan Pangan Universitas Brawijaya Malang, pada bulan Juni-Juli. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental. Adapun populasi dari penelitian ini adalah ubi jalar ungu yang dibudidayakan di Balitkabi Malang, sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah nata ubi jalar ungu yang diperoleh dari pengolahan ubi jalar ungu. Untuk analisis data yang digunakan yaitu menghitung standart deviasi dan koevisien variasi.
Hasil penelitian mutu fisik menunjukkan bahwa Mutu fisik nata ubi jalar ungu baik, nata yang dihasilkan berwarna ungu muda, rasa normal, tekstur normal, dan aroma normal. Tebal rata-rata nata 1,267 cm dan berat rata-rata nata 230 gram. Mutu kimia nata ubi jalar ungu baik, nata memiliki kadar serat rata-rata 2,93 %. Hasil uji volunter nilai N yang didapat 69,75%, hal ini berarti nata ubi jalar ungu yang dibuat oleh peneliti disukai dan diterima oleh masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pada saat proses perebusan jangan terlalu lama karena dapat mempengaruhi tekstur nata, saat proses fermentasi sebaiknya tidak menggunakan koran sebagai penutup, karena didalam koran terdapat kandungan Pb yang berasal dari tinta dan pada saat penelitian sebaiknya mengukur kadar glukosa sebelum dan sesudah fermentasi. Disamping itu, sebaiknya dilakukan penelitian selanjutnya dengan menggunakan beberapa variabel yang berbeda, seperti: perbedaan glukosa, pH, dan ammonium phospat

Kata Kunci : Kadar protein, Pengaruh pengolahan daging, Metode Kjeldahl.
Daging merupakan bahan pangan yang mengandung protein hewani tinggi
yang berfungsi sebagai zat pembangun dalam tubuh dan dapat meningkatkan
kecerdasan otak. Nilai protein daging yang tinggi disebabkan oleh kandungan
asam amino esensialnya yang lengkap dan seimbang. Daging memiliki banyak
jaringan ikat yang menentukan tingkat kekerasan atau kealotan daging. Oleh
karena itu banyak orang mengolah daging dengan berbagai macam cara agar
daging lunak dalam waktu singkat seperti perebusan tanpa penambahan enzim
papain, dan penambahan enzim papain. Penggunaan enzim papain merupakan
suatu enzim protease yang mampu memecah protein menjadi asam amino. Protein
dalam daging sangat erat kaitannya dengan zat gizi, protein akan terdenaturasi
apabila melalui proses pemanasan, penambahan bahan kimia. Oleh karena itu
dilakukan penelitian untuk mengetahui nilai gizi dalam daging yang melalui
beberapa macam metode pengolahan.
Dalam penelitian ini daging sebagai sampel diambil secara acak di pasar
tradisional kota Malang sebanyak 900 gram yang sebelumnya dicuci lebih dahulu.
Dari 900 gram tersebut dibagi untuk pengolahan yang berbeda. Dan hasil dari
olahan itu, dianalisa menggunakan metode Kjeldahl yang dilanjutkan dengan
spektrofotometri untuk mengetahui kadar protein dari masing-masing sampel.
Hasil analisa kadar protein pada daging yang diolah perebusan tanpa
penambahan enzim papain sebesar 26,80%, dan penambahan enzim papain
sebesar 25,80%.
Hasil analisa data menunjukkan bahwa pengolahan daging dengan
perebusan tanpa penambahan enzim papain, dan penambahan enzim papain,
memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap uji organoleptis meliputi
bentuk, warna, bau dan hasil uji dengan Uji T diperoleh nilai signifikan ( p =
0,001 ) < α (0,05 ) yang artinya terdapat perbedaan kadar protein pada daging
yang diolah dengan perebusan tanpa penambahan enzim papain, dan penambahan
enzim papain. Disarankan untuk penelitian lebih lanjut menggunakan metode dan
enzim proteolitik yang lain.

Kata kunci : Akurasi, Presisi, Alkalimetri, Natrium Benzoat
Telah dilakukan penelitian tentang penetapan kadar natrium benzoat secara
alkalimetri. Hal ini berdasarkan pada perubahan natrium benzoat menjadi zat
aktifnya yaitu asam benzoat. Penambahan HCl pada proses ekstraksi akan
mengoptimalkan proses perubahan tersebut. Asam benzoat yang tersari oleh
pelarut yang digunakan yaitu kloroform inilah yang akan dititrasi dengan titran
NaOH. Sehingga preparasi sampel yang rumit dapat dihindari.
Pada penelitian ini terdapat dua parameter yang dilakukan pengujian yaitu
akurasi dan presisi. Pada parameter akurasi diuji dengan menggunakan 5
konsentrasi yang berbeda, dimana setiap konsentrasi direplikasi sebanyak 5 kali.
Sedangkan pada uji parameter presisi dilakukan dengan menggunakan satu
konsentrasi. Satu konsentrasi tersebut dibuat sampel sebanyak 7 sampel. Masingmasing
sampel direplikasi sebanyak 1 kali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode alkalimetri pada parameter
akurasi valid. Dari kelima konsentrasi tersebut memenuhi persyaratan yang
ditentukan yaitu antara 80%-120%. Tetapi untuk harga KV dari tiap konsentrasi
memiliki nilai ≥ 3% dimana lebih dari persyaratan yang ditentukan yaitu ≤ 2%.
Sedangkan hasil presisi yang diperoleh menunjukkan harga KV 1,012%. Dalam
hal ini metode alkalimetri mempunyai tingkat presisi yang memenuhi syarat yaitu
harga KV ≤ 2%.
Berdasarkan penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian tentang
penentuan kondisi optimum untuk merubah natrium benzoat menjadi bentuk
aktifnya yaitu asam benzoat. Selain itu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan
membandingkan penetapan kadar natrium benzoat dengan menggunakan metode
lain. Juga dilakukan penelitian terhadap sampel produk makanan atau minuman
yang mengandung natrium benzoat dengan menggunakan metode alkalimetri.

Kata Kunci : efektivitas, ekstrak, Jamur dewa (Agaricus blazei Murril/ABM),
Diabetes mellitus, kadar glukosa darah
Diabetes mellitus atau kencing manis merupakan penyakit yang terjadi
akibat kelainan fungsi kerja pankreas dalam menghasilkan insulin. DM juga
terjadi karena fungsi sistem imun yang terganggu akibat adanya autoantibodies.
Penderita DM ditandai dengan seringnya buang air kecil (poliurea), banyak
minum (polidipsia), banyak makan (polifagia), dan kadar glukosa darah melebihi
kadar glukosa darah normal serta timbulnya komplikasi pada organ lain.
Mengingat akibat penyakit DM yang sangat berbahaya, sebaiknya DM
ditanggulangi sedini mungkin. Penggunaan ekstrak jamur dewa dinilai efektif
sebagai alternative pengobatan DM. Zat aktif pada jamur dewa berupa asam
linoleat dan polisakarida β D glucan pada jamur dewa akan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh. Kandungan protein pada jamur dewa berperan dalam
meregenerasi sel beta pankreas sehingga produksi insulin meningkat. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak jamur dewa (Agaricus blazei
Murill / ABM) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada mencit (Mus
Musculus).
Penelitian ini dilakukan di laboratorium farmakognosi Putra Indonesia
Malang.selama bulan juni2010. Penelitian terhadap efektivitas ekstrak jamur dewa
dilakukan dengan jenis penelitian eksperimental terhadap hewan uji mencit yang
mengalami DM. Adapun populasi pada penelitian ini adalah jamur dewa yang
dibudidayakan oleh PT. ASIMAS Malang, sedangkan sampelnya adalah hasil
ekstraksi jamur dewa dengan menggunakan pelarut alkohol 50%. Analisa data
yang digunakan pada hasil penelitian yaitu analisa data ANAVA untuk
mengetahui pengaruh ekstrak jamur dewa terhadap penurunan kadar glukosa
darah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak jamur dewa
(Agaricus Blazei Murril ) dapat menurunkan glukosa darah pada objek penelitian
dengan dosis efektif dari ekstrak jamur dewa (Agaricus Blazei Murril ) sebesar
400 mg.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan Jangka waktu penggunaan ekstrak
jamur dewa (Agaricus Blazei Murril) pada penelitian terhadap objek penelitian
ditambah agar diperoleh penurunan kadar glukosa darah mendekati normal. Perlu
dilakukan penelitian lanjutan terhadap jamur dewa sebagai antidiabetes melitus
dengan metode lain yang kemudian membandingkan hasil yang diperoleh agar
penggunaan jamur dewa dapat dikembangkan.

Kata kunci : pembuatan nata de pina, perbedaan lama fermentasi dan pH, karakteristik nata de pina 
Buah nanas merupakan jenis buah musiman, pada waktu musim panen banyak buah nanas yang menumpuk dipasar. Buah nanas juga termasuk komoditas buah yang rentan terhadap benturan sehingga buah yang mudah rusak, susut, dan cepat busuk. Selain itu, bagi yang alergi mengosumsi nanas dapat menyebabakan gatal pada lidah. Oleh karena itu, setelah panen diperlukan penanganan pasca panen. Salah satunya dengan pengolahan yang tahan lama dan praktis, serta bagi siapapun yang membutuhkan buah nanas tidak tergantung pada musimnya. Pemanfaatan untuk mengurangi dampak seperti di atas yaitu mengolah menjadi produk nanas fermentasi yang disebut nata. Faktor – faktor yang mempengaruhi proses fermentasi antara lain substrat dari nanas, pH, konsentrasi stater, suhu, dan lama proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi 7 hari, 14 hari, dan 21 hari serta pH nata de pina dikondisikan pada pH 3, 4 ,dan 5 terhadap mutu fisik (bobot, kadar serat, kekenyalan nata de pina). Manfaat dalam penelitian ini adalah untuk memberikan informasi tentang lama fermentasi dan pH dalam pembuatan nata de pina. PH dan lama fermentasi dalam uji organoleptis tidak mempengaruhi sifat organoleptis. Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian pengaruh lama fermentasi dan pH terhadap karakteristik organoleptis nata de pina mendapat hasil yang berwarna putih, kenyal dan bau khas nanas. Pada uji bobot mendapatkan bobot optimal 430g pada lama fermentasi 14 hari dengan pH 4,kemudian uji kadar serat mendapatkan hasil yang optimal sebesar 3.97% dan hasil uji kekenyalan yang optimal pada lama fermentasi 14 hari dengan pH 4 sebesar 29.6 N .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Narsizzz..... ^_^

You Love Me