Tampilkan postingan dengan label KTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KTI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Februari 2012

KATALOG BUKU

THE GREEN SCIENCE OF JAMU 
Synopsis
Buku ini membahas tentang berbagai jenis tanaman jamu yang ada di Indonesia sebagai panduan bagi para ilmuan, mahasiswa, maupun pelaku bisnis yang bergerak di bidang herbal. Hal-hal apa saja yang menjadi prinsip dasar green science dan bagaimana penerapannya di dunia praksis bisa Anda pelajari di sini. Informasi kandungan setiap tanaman obat pun disuguhkan secara lengkap dan sistematis
Table of Contents
BAB 1 Green Science _ 1
BAB 2 Kekayaan dan Keanekaragaman Hayati Indonesia _ 8
BAB 3 Kehebatan Tanaman Obat _ 20
BAB 4 Bahan Baku Alam: Budidaya, Penelitian, dan Pengembangan _ 32
BAB 5 Filosofi Jamu _ 50
BAB 6 Pendekatan Pragmatik dalam Kecantikan dan Kesehatan pada Berbagai siklus Kehidupan _ 82
BAB 7 Tanaman Obat Kosmetik dan Aromatik yang Sering Digunakan _ 116

ABSTRAK KTI AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN TAHUN 2010

ABSTRAK KTI AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN TAHUN 2011

Jumat, 06 Januari 2012

Awas,Bakteri Sudah Kebal Antibiotik

Kasus  resistensi bakteri terhadap antibiotika sudah terjadi. Bahkan beberapa bakteri mampu bertahan dari antibiotika yang dikonsumsi manusia.
Data menyebutkan, sebanyak 3.235 kasus yang dilaporkan di Jerman, 72 diantaranya menderita sindrom uremik hemolitik, penyakit yang mengancam jiwa karena mengancurkan ginjal dan sistem syaraf. Bakteri e.coli tersebut diidentifikasi sebagai E. Coli Enterohaemorhagic (EHEC) yang didalamnya mengandung gen yang kebal terhadap antibiotika.
Hal itu diungkapkan Prof. Dr. M. Kuswandi Tirtodiharjo, S.U., M.Phil., Apt., saat dikukuhkan dalam Jabatan Guru Besar pada Fakultas Farmasi UGM, Kamis (22/120 di Balai Senat Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.
“Tahun 2010 menunjukkan bahwa 79% strain E.coli resisten terhadap ampisilin, sedang 30% strain resisten terhadap siprofloksasin. Pada tahun 1999-2000 di Amerika terjadi kasus sebanyak 43% infeksi S. aureus resisten terhadap metisilin,”terangnya.
Kuswandi menyampaikan bahwa bakteri memiliki gen resisten dari hewan. Sebagian besar pemakaian antibiotika justru bukan untuk mengobati penyakit infeksi pada manusia, melainkan untuk tujuan lain.
Untuk itu, upaya yang dapat ditempuh untuk mencegah atau memperlama munculnya bakteri resisten terhadap antibiotika. “Beberapa diantaranya adalah mengontrol pasien terinfeksi dan memonitor pemakaian natibiotika, pengawasan pemakaian antibiotika di bidang pertanian dan peternakan,”ujarnya.
sumber : TRIBUNNEWS, Sleman

FORMULASI TABLET KUNYAH EKSTRAK DAGING DAUN LIDAH BUAYA (Aloe vera, L) SEBAGAI LAKSATIF

Latar Belakang
Indonesia sangat kaya akan hasil bumi khususnya tanaman obat yang jumlahnya sangat banyak, maka penelitian-penelitian yang mengarah tanaman obat yang dapat digunakan sebagai dasar pembuatan obat tradisional yang dibuat dalam bentuk dan kemasan yang menarik. Obat tradisional sudah diupayakan untuk ditingkatkan kualitasnya baik dari segi proses pembuatannya maupun dari segi bentuk sediaannya. Dampak negatif penggunaan bahan sintesis menyebabkan kecenderungan masyarakat dewasa ini untuk kembali ke bahan alami. Kecenderungan ini meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan obat tradisional sebagai alternatif utama dalam pengobatan, pemeliharaan kesehatan, maupun kosmetik. 



Selanjutnya bisa di download di bawah ini
( Full Text )
Download Text

Sabtu, 26 November 2011

Mikrobiologi Pangan Dan Lingkungan

Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Beberapa jenis mikroba yang terdapat pada bahan pangan adalah bakteri , kapang dan khamir .Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi langsung atau tidak langsungdengan sumber – sumber pencemaran mikroba, seperti tanah , udara , air , debu , saluran pencernaan , dan pernafasan manusia dan hewan . Namun demikian , hanya sebagian saja dari berbagai sumber pencemar yang berperan sebagai sumber mikroba awal yang selanjutnya akan berkembang biak pada bahan pangan sampai jumlah tertentu . Dalam batas – batas tertentu kandungan mikroba dalam bahan pangan tidak banyak berpengaruh terhadap ketahanan bahan pangan tesebut . Akan tetapi , apabila kondisi lingkungan memungkinkan mikroba untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat , maha bahan pangan akan rusak karenanya .

KAPSUL

Kapsul(FI,III) adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsulKeras dan lunak , Kapsul (FI,IV) adalah sediaan Padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut .
Cangkang dibuat dari :
  1. Gelatin
  2. Pati
  3. Bahan Lain yang cocok (FI,Ed,IV)

Kapsul memiliki nama lain :
  1. Hard Capsule atau Kapsul Keras
  2. Hard Gelatine Capsule atau Kapsul Lunak

Adapun pemerian dari kapsul adalah sedian bahan aktifnya dapat berbentuk padat atau sediaan padat dengan atau tampa bahan tambahan dan terbungkus cangkang kapsul yang keras terbuat dari gelatin .

Kapsul Brbentuk selindris dengan ukuran kapsul  bermacam – macam mulai yang terbesar 000(Untuk Hewan),00,0,1,2,3,4,dan 5.Dalam pengobatan lazim digunakan adalah 0,1,2,3 dan 4 . Kapasitas Kapsul kira – kira antara 30 mg – 600 mg dan tergantung berat jenis serbuknya.

Konsitensi obat yang dimasukan kedalam kapsul dapat berupa serbuk , zat cair , granul .
Contoh :
            Yang Berupa Serbuk                : Erythrocin caps
                                                              Incidal caps
                                                              Kemicetin caps.
             Yang Berupa Cairan                : Oleum Chenopodii
             Yang Berupa Granul                : Eryc caps
                                                              Excelase caps
              Hard caps                              : Librium,Terramycin,Juvelon
              Soft caps                                :  Natur-E 100 .Super Tetra, Levertran caps
Kapsul memiliki  sifat – sifat yang menguntungkan yaitu :
1.      Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi
2.      Dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak
3.      Tepat untuk Oat yang teroksidasi dan mempunyai bau dan rasa yang tidak enak
4.      Bentuk Kapsul Mudah ditelan dibanding bentuk tablet
Catatan            : Setelah cangkang larut dalam lambung dan bahan aktif bebas serta
terlarut maka akan terjadi proses absoropsi yang terjadi di Gastro  
intestinal (GIT).

Pembuatan kapsul dengan cara yaitu bila obat – obatanya berupa , maka setelah
obat – obataya dan bahan tambahan / pengisi dicampur dan diserbukan ( Cara Seperti pada pembuatan serbuk ),Lalu dibagi – bagi sama banyak . Kemudian dimasukan kedalam kapsul .Pilih kapsul yang sesuai dengan volume serbuknya .Bila setelah obat dimasukan ke dalam kapsul dan apabila ada serbuk yang melekat pada kapsul ,maka kapsul tersebut dibersihkan dengan kapas atau kertas tissue.

Penyimpanan disimpan ditempat yang sejuk kering , tertutup rapat dan diberi zat pengering .Bila kapsul disimpan ditempat yang kelembapanya rendah ,maka kapsul akan rapuh .Bila kapsul disimpan di kelembapan yang tinggi maka kapsul akan lembek ( Saling melekat ).

Catatan           : Tinjauan Pustaka yang diambil adalah hasil pengembangan buku
  Farmakope ed III dan IV, Buku Penuntun Praktikum Farmasetika dasar
  dan buku seni menulis resep.

ISOLASI BAKTERI

Mikroorganisme sangat erat kaitanya dengan kehidupan kita, ada beberapa diantaranya bermanfaat dan adapula yang merugikan.Salah satu teknik untuk membiakan ( Menumbuhkan ) bakteri, yang menjadi padat dan tetap tembus pandang pada suhu inkubasi. Media yang baik adalah agar, dapat dilarutkan dalam larutan nutrien dan bilamana menjadi gel akan tetap padat dalam kisaran temperatur yang luas.
Mikroorganisme terdapat dimana-mana didalam lingkungan kita mereka ada pada tubuh kita, didalam tubuh kita, dan disekeliling kita. Mereka merupakan komponen penting dalam ekosistem. Dihabitat alamiahnya, mereka hidup dalam suatu komunitas yang terdiri dari berbagai jenis mokroorganisme, bersama spesies-spesies biologi lainnya. Didalam komunitas ini, satu spesies mikroba dapat mempengaruhi spesies lain dengan berbagai cara-cara beberapa bersifat menguntungkan beberapa merugikan ( Pelezar, 1988 ).

EMULSI , SHAMPO , LOTION , CLENSING CREAM


EMULSI , SHAMPO , LOTION , CLENSING CREAM


 A.     Emulsi
         Emulsi  adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat yang terdispersi dalam cairan pembawa dan distabilkan oleh zat pengemulsinya atau surfaktan yang cocok ( Farmakope Indonesia Ed.III )
Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir – butir ini bergabung ( koalesen ) dan membentuk dua lapisan yaitu air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi ( emulgator )  yang merupakan komponen yang paling penting untuk memperoleh emulsa yang stabil .
Semua emulgator bekerja dengan membentuk film ( lapisan ) di sekeliling butir – butir tetesan yang terdispersi dan film ini berfungsi agar mencegah terjadinya koalesen dan terpisahnya cairan dispersi sebagai zat pemisah. Terbentuk dua macam tipe emulsi yaitu tipe M/A dimana tetes minyak terdispersi dalam fase air dan tipe A/M dimana fase intern adalah air dan fase ekstern adalah minyak .
Zat-zat pengemulsi ( Emugator ) yang biasa digunakan adalah PGA, PGS, Gelatin, Tragacantha, Sapo, ammonium kwartener, senyawa kolestrol, Surfaktan seperti Tween dan Span, kuning telur atau merah telur, CMC, TEA, Sabun, dll.

”Uji Komparasi Khasiat Anthelmintik Seduhan Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Rhizoma) Terhadap Pirantel Pamoat Pada Cacing Ascaridia galli Secara in Vitro”

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Infeksi cacing (cacingan) merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya masih cukup tinggi di Indonesia. Penyakit ini memang tidak membahayakan nyawa manusia, tetapi mampu membuat kualitas hidup penderitanya turun drastis dan dapat menyebabkan anak anemia. Angka penderitanya cukup tinggi karena cacing mudah menular melalui makanan atau langsung berhubungan dengan tanah yang banyak mengandung vektor cacing terutama pada orang yang tidak mengenakan alas kaki.
Cacingan dapat diatasi dengan pemberian obat – obat cacing pada penderita, tetapi itu membutuhkan cukup banyak peralatan dan biasanya dibuat oleh suatu pabrik, contoh obat yang sering digunakan pada saat ini adalah pirantel pamoat karena bersifat membunuh cacing dengan cara dilumpuhkan lalu cacing dikeluarkan tanpa menghancurkannya bersamaan dengan tinja, tetapi pirantel pamoat memiliki efek samping, diantaranya mual, muntah, reaksi alergi dan kadang kala sakit kepala (Tjay dan Rhardja, 2002:193).
Obat – obat cacing selain mempunyai indikasi juga mempunyai efek samping, oleh karena itu, perlu dibuat pengganti obat cacing tanpa efek samping yang mudah didapat dan dengan harga yang terjangkau yaitu memanfaatkan bahan alam.
Sejak dahulu bangsa Indonesia telah mengenal dan memanfaatkan tumbuhan berkhasiat obat sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi masalah kesehatan. Alam Indonesia telah menyediakan berbagai solusi dalam memelihara kesehatan, salah satunya melalui terapi tumbuhan berkhasiat obat.
Berdasarkan alasan cukup riskannya efek samping obat – obat sintetik dan semakin mahalnya obat-obatan pabrik, oleh sebab itu pemanfaatan tanaman herbal menjadi alternatif pengobatan yang saat ini justru banyak dipakai di dunia medis. Selain itu obat herbal juga cenderung murah dan mudah didapat, dengan efek samping yang ditimbulkan juga relatif aman. Salah satu bahan alam yang berkhasiat sebagai obat adalah tanaman temu giring (Curcuma heyneana). Sebagian besar masyarakat Indonesia telah mengenal tanaman temu giring, tetapi masyarakat kurang memanfaatkan tanaman temu giring yang sesungguhnya berkhasiat sebagai anthelmintik. Salah satu metode pengujian khasiat anthelmintik adalah dengan mengukur kematian dan paralisis cacing. Hal inilah yang melatar belakangi penulis untuk melakukan penelitian tentang ”Uji Komparasi Khasiat Anthelmintik Seduhan Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Rhizoma) Terhadap Pirantel Pamoat Pada Cacing Ascaridia galli Secara in Vitro”.
 
2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahan :
Apakah seduhan rimpang temu giring (Curcuma heyneana Rhizoma ) mempunyai khasiat anthelmintik terhadap cacing Ascaridia galli ?
 
3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan hal – hal yang diuraikan dalam latar belakang dan rumusan masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1.3.1 Tujuan umum
Ingin mengetahui efektifitas dan efisiensi seduhan rimpang temu giring (Curcuma heyneana Rhizoma) yang berkhasiat sebagai anthelmintik terhadap cacing Ascaridia galli.
Tujuan khusus
Mengetahui :
Berapa (LC50) konsentrasi yang optimal dari seduhan rimpang temu giring sebagai anthelmintik.
Berapa (LT50) lama waktu yang dibutuhkan untuk membunuh cacing Ascaridia galli.
Menetapkan dosis anthelmintik seduhan rimpang temu giring berdasarkan perbandingan LC50 seduhan rimpang tamu giring dengan LC50 Pirantel pamoat

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi penulis
Untuk mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh, khususnya di bidang Farmakognosi dan Farmakologi.
Menambah pengetahuan dan pengalaman penulis dalam membuktikan khasiat dari rimpang temu giring sebagai anthelmintik.

1.4.2 Bagi akademik
Sebagai bahan referensi perpustakaan jurusan Farmasi Poltekkes Depkes Jakarta II dalam hal penelitian khasiat rimpang temu giring sebagai anthelmintik, serta memberi inspirasi bagi mahasiawa lain untuk penelitian lebih lanjut.
1.4.3 Bagi masyarakat
Untuk memberikan informasi dan pengetahuan mengenai seduhan rimpang temu giring yang berkhasiat sebagai anthelmintik.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anthelmintik
Anthelmintik atau obat cacing adalah obat – obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Yang tercakup dalam istilah ini adalah semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obat – obat sistemis yang membasmi cacing maupun larvanya yang menghinggapi organ dan jaringan tubuh.
Banyak anthelmintik dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan cacing, jadi tidak mematikannya. Guna mencegah jangan sampai parasit menjadi aktif lagi atau sisa – sisa cacing mati dapat menimbulkan reaksi alergi, maka harus dikeluarkan secepat mungkin (Tjay dan Rahardja, 2002:185).

2.2 Penyakit Cacingan
Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar dan menjangkiti lebih dari 2 miliar manusia di seluruh dunia. Walaupun tersedia obat-obat baru yang lebih spesifik dengan kerja lebih efektif, tetapi penyakit cacing masih tetap merupakan suatu masalah karena kondisi sosial-ekonomi.
Infeksi cacing umumnya terjadi melalui mulut, adakalanya langsung melalui luka di kulit (cacing tambang dan benang), atau lewat telur (kista) atau larvanya, yang ada di mana – mana di atas tanah (Tjay dan Rahardja, 2002:185).
Prosedur esensial untuk mendiagnosa infeksi cacing ini adalah melalui pemeriksaan mikroskopis dari telur atau larvanya dalam tinja, urin, darah dan jaringan.
Gejala dan keluhan dapat disebabkan oleh efek toksis dari produk-produk pertukaran zat cacing, penyumbatan usus halus dan saluran empedu (obstruksi), atau penarikan zat – zat gizi yang penting bagi tubuh. Sering kali gejala tidak begitu nyata dan hanya berupa gangguan lambung-usus, seperti mual, muntah, mulas, kejang – kejang dan diare berkala dengan hilangnya nafsu makan (anoreksia). Pada sejumlah cacing yang menghisap darah, maka tuan rumah dapat menderita kekurangan darah (anemia) (Tjay dan Rahardja, 2002:185).
Siklus dari infeksi Ascaris lumbricoides ini adalah dari manusia yang terinfeksi cacing mengeluarkan tinja, di dalam tinja telur cacing menjadi infektif (telur matang) setelah 3 minggu di tanah lalu telur cacing tersebut terbang dan tertelan oleh manusia dan menjadi cacing dewasa di dalam usus manusia, sehingga manusia terinfeksi cacing (Staf pengajar bagian parasitologi, 1998).
Pencegahan yang perlu dilakukan adalah mentaati aturan higiene tertentu dengan tegas dan konsekuen, terutama oleh anak – anak. Pencegahan yang terpenting diantaranya adalah selalu mencuci tangan sebelum makan atau sebelum mengolah bahan makanan. Jangan memakan sesuatu yang telah jatuh di tanah tanpa mencucinya bersih terlebih dahulu. Maka infeksi melalui mulut yang paling sering terjadi dapat dihindarkan. Tindakan selanjutnya dengan memperbaiki lingkungan hidup agar selalu terjaga kebersihannya (Tjay dan Rahardja, 2002:186).

2.3 Cacing Ascaridia galli
Ascaridia galli memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Phylum : Nematoda
Classis : Secernentea
Ordo : Ascarida
Sub Ordo : Ascaridina
Super Familia : Ascaridoidea
Familia : Ascaridia
Genus : Ascaridia
Spesies : Ascaridia galli
Ascaridia galli merupakan cacing gelang yang banyak menyerang unggas (ayam). Terutama untuk unggas berumur 3 - 4 bulan. Spesimen dari parasit ini terkadang ditemukan dalam telur. Cacing ini dapat berpindah tempat dari usus ke dalam oviduct dan dapat masuk ke dalam telur pada saat pembentukan telur tersebut. Cacing dewasa mudah terlihat dengan mata telanjang karena cacing ini berukuran sebesar ½ - 3 inci. (http://en.wikipedia.org/wiki/Ascaridia_galli).
Penularannya dengan cara cacing betina akan meletakkan telurnya di usus unggas yang terinfeksi dan akan ikut dikeluarkan bersama tinja. Embrio akan terus berkembang dalam telur tersebut meskipun tidak akan langsung menetas. Larva dalam telur mencapai stadium infektif dalam 2 – 3 minggu. Unggas akan tertular dengan memakan telur cacing ini, unggas yang terinfeksi oleh cacing akan terlihat lesu, diare, kurus, nafsu makan berkurang, kotoran encer dan berlendir bewarna keputihan kadang berdarah, pertumbuhan lamban. Bila terinfeksi parah akan menimbulkan kematian. Infeksi Ascaridia galli pada unggas dapat dicegah dengan cara sanitasi kandang dan pemisahan unggas berdasarkan umur, bersihkan kandang. (http://www.merckvetmanual.com/mvm_ascaridia galli = translate.google.co.id)


2.4. Temu Giring (Curcuma heyneanae )
2.4.1 Klasifikasi tanaman
Temu giring memiliki klasifikasi sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Marga : Curcuma
Jenis : Curcuma heyneana VAL
Nama daerah
Temu Giring memiliki nama daerah yaitu Temu Reng.


Morfologi simplisia
Temu Giring memiliki ciri – ciri semak, semusim, tegak, tinggi ±1 m. Batang semu terdiri atas pelepah daun, permukaan licin warna hijau. Daun tunggal, permukaan licin, berpelepah warna hijau. Perbungaan majemuk, mahkota kuning muda. Daun tunggal, permukaan licin, tepi rata, ujung dan pangkal runcing, panjang 40-50 cm, lebar 15-18 cm, pertulangan menyirip, pelepah 25-35 cm, hijau muda. Bunga majemuk, berambut halus, panjang 15-40 cm, kelopak hijau muda, pangkal meruncing, ujung membulat, mahkota hijau muda, kuning muda. Akar serabut, kuning kotor. (Hutapea, 2001).

Kandungan kimia
Rimpang temu giring (Curcuma heyneana Rhizoma) mengandung saponin, flavonoida dan minyak atsiri (Hutapea, 2001).

Kegunaan dan khasiat
Rimpang temu giring (Curcuma heyneana Rhizoma) berkhasiat sebagai obat cacing untuk anak-anak dan untuk bahan kosmetika.
Untuk obat cacing pada anak-anak dpakai 20gram rimpang segar Curcuma heyneana, dicuci lalu diparut, ditambahkan ½ gelas air matang, diaduk kemudian disaring. Hasil saringan didiamkan selama 1 jam, diminum pada waktu pagi sebelum makan (Hutapea, 2001).


Pirantel Pamoat
Pirantel pamoat mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 103,0% C34H30N2O6S dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian : padatan kuning hingga coklat. Kelarutan praktis tidak larut dalam air dan dalam metanol, larut dalam dimetil sulfoksida, sukar larut dalam dimetil formamida (Anonim, 1995: 719).
Pirantel pamoat sangat efektif terhadap Ascaris, Oxyuris dan Cacing tambang, tetapi tidak efektif terhadap trichiuris. Mekanisme kerjanya berdasarkan perintangan penerusan – impuls neuromuskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerak peristaltik usus. Cacing yang lumpuh akan mudah terbawa keluar bersama tinja. Setelah keluar dari tubuh, cacing akan segera mati. Di samping itu pirantel pamoat juga berkhasiat laksans lemah.
Resorpsinya dari usus ringan kira – kira 50% diekskresikan dalam keadaan utuh bersamaan dengan tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui urin. Efek sampingnya cukup ringan yaitu berupa mual, muntah, gangguan saluran cerna dan kadang sakit kepala. (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis terhadap cacing kremi dan cacing gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg, anak-anak ½ 2 tablet sesuai usia (10mg/kg). (Tjay dan Rhardja, 2002:193). Dosis tunggal pirantel pamoat 10mg/kg Bb (ISO, 2009 : 81).



Seduhan
Menyari bahan baku dengan cara menyeduh mirip dengan menyeduh teh. Bahan tersebut dipotong kecil – kecil dengan gunting atau dirajang dengan pisau. Untuk bahan yang keras dapat juga digunakan cara ini, tetapi harus diserbuk terlebih dahulu. Cara seduhan ini dapat digunakan untuk takaran tunggal atau takaran sehari. Untuk pemakaian sehari, sisa harus disimpan di tempat tertutup, jika memungkinkan di tempat sejuk (lemari es). Serbuk yang sudah berjamur, dimakan serangga, atau sudah menggumpal, sebaiknya tidak digunakan (Soedibyo, 1998).

Lethal Contcentration (LC50) dan Lethal Time (LT50)
Lethal Contcentration (LC50) adalah suatu besaran yang diukur secara statistik guna menyatakan konsentrasi suatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50 % hewan uji atau yang dapat menyebabkan 50% kematian pada hewan percobaan dari suatu kelompok spesies dalam waktu tertentu.
Lethal Time (LT50) adalah suatu besaran yang diukur secara statistik guna menyatakan waktu yang diperkirakan dapat mematikan atau menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50 % hewan uji.



Narsizzz..... ^_^

You Love Me