Tampilkan postingan dengan label Obat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Mei 2012

KAITAN FORMULASI DENGAN PARAMETER KUALITAS OBAT


Yang Termasuk Parameter Kualitas Obat, antara lain:
  1. Keamanan (Safety)
  2. Kemanjuran (Efficacy)
  3. Kestabilan (Durability)
  4. Keajegan / Ketersediaan di pasaran (Reliability)
  5. Kemudahan penggunaan (Easybility)
  6. Kenyamanan pemakaian (Comfortability)


1. KAITAN FORMULASI DENGAN KEAMANAN (Safety):

Pada dasarnya senyawa-senyawa obat adalah racun. Efek racun obat dapat muncul disebabkan oleh dosis yang berlebih, atau dosis yang kurang (dalam kasus resistensi antibiotika), hasil metabolit obat dalam tubuh (akibat rute pemberian yang digunakan), hasil interaksi zat aktif obat dengan eksipien atau efek racun yang muncul akibat ketidakstabilan bahan aktif obat selama proses pembuatan.
Dalam formulasi dosis harus dihitung dengan cermat. Dosis dalam satuan sediaan harus mempertimbangkan dosis bahan baku zat aktif obat, rentang berat satuan sediaan (misal rentang berat tablet 500 mg  5%). Tujuannya adalah agar diperoleh dosis yang tepat, tidak berlebih (berbahaya pada obat dengn jendela terapi yang sempit) dan juga tidak kurang (resiko resistensi pada antibiotik). Kepentingan penghitungan dosis juga terlihat pada saat memformulasikan sediaan sustained/controlled release. Dosis satuannya harus dihitung berdasarkan dosis awal dan dosis pemeliharaan serta rentang waktu pemberian dosis berikutnya.
Dalam memformulasikan sediaan obat harus dipertimbangkan juga adanya hasil metabolit yang toksik yang terjadi akibat rute pemberian yang digunakan. Misalkan pada rute pemberian secara oral suatu obat diuraikan oleh enzim pencernaan menjadi metabolit yang toksik, maka seharusnya obat tersebut tidak diformulasikan untuk pemakaian oral, tetapi melalui rute lain bila memungkinkan.
Interaksi bahan aktif obat dengan eksipien yang digunakan dalam pembuatan sediaan yang menghasilkan efek toksik juga harus menjadi pertimbangan dalam memformulasikan suatu sediaan karena hal ini menyangkut keamanan pemakai.
Faktor ancaman terhadap keamanan pemakai obat yang berhubungan dengan proses pembuatan misalnya adalah pada pencetakan tablet suatu antibiotik yang merupakan polimorf, dimana bentuk kristal yang tidak aktif farmakologis dapat muncul selama pencetakan tablet. Hal ini mengurangi aktivitas farmakologi antibiotik tersebut yang kemungkinan dapat memicu terjadinya resistensi. Apalagi bila akibat pencetakan yang terjdi adalah bentuk kristal yang aktif farmakologis tapi toksik.Untuk itu sebaiknya antibiotika tersebut tidak diformulasikan menjadi bentuk tablet melainkan dapat diganti menjadi kapsul.
Contoh lain kaitan formulasi dengan keamanan adalah larutan injeksi harus dibuat isotoni dan bebas pirogen. Bila larutan hipotoni harus ditambahkan zat pengisotoni, dan agar bebas pirogen dilakukan sterilisasi dengan metoda yang sesuai.
Obat tetes mata yang ‘multiple dose’ pada formulasinya harus dimasukkan komponen pengawet, karena penggunaan ‘multiple dose’ selama penyimpanan kemungkinan terkontaminasi bakteri, sehingga bila diteteskan ke mata akan menyebabkan infeksi, jadi harus ditambahkan pengawet yang sesuai.

2. KAITAN FORMULASI DENGAN KEMANJURAN (Efficacy):

Obat secara umum ditujukan untuk mengobati penyakit atau mengatasi kelainan fisiologis tubuh, karena itu yang diharapkan tujuan tersebut tercapai setelah minum obat selama beberapa waktu tertentu. Agar tujuan tersebut tercapai maka bahan aktif obat dalam sediaan obat yang digunakan oleh konsumen harus dapat mencapai tempat kerja obat di dalam tubuh dalam jumlah yang efektif dan obat bertahan di situ sampai pelepasan obat tuntas, baru kemudian terjadi eliminasi obat dari tubuh.
Karena itu formulasi bentuk sediaan obat harus mengusahakan agar obat yang dibuat dan dikonsumsi melalui rute yang sesuai untuk bentuk sediaannya dapat mencapai tempat kerjanya dalam jumlah yang efektif, dan bertahan di tempat kerja sampai pelepasan obat sempurna sebelum akhirnya obat dieliminasi dari tubuh.

3. KAITAN FORMULASI DENGAN KESTABILAN (Durability):

Bahan aktif obat umumnya didisain menjadi bentuk sediaan, proses produksinya umumnya dilakukan oleh industri pembuat obat. Dari bahan aktif obat, diproduksi, dikemas, didistribusikan ke pasar hingga akhirnya sampai ke konsumen untuk digunakan memerlukan waktu yang cukup lama. Karena itu dalam memformulasikan suatu bentuk sediaan obat harus dipertimbangkan stabilitas bahan aktif obat, juga eksipiennya, agar sediaan obat tetap bertahan memiliki efek farmakologis sampai batas waktu penggunaannya. Studi stabilitas bahan aktif yang harus dilakukan dalam memformulasikan suatu sediaan obat antara lain stabilitas terhadap okidasi, fotolisis, hidrolisis, panas atau suhu pada saat penyimpanan dan transportasi obat, dan stabilitas selama berantaraksi dengan eksipien .

4. KAITAN FORMULASI DENGAN KEAJEGAN/ Ketersediaan di pasaran (Reliability):

Keajegan yang dimaksud di sini adalah keajegan pasokan di pasaran yang terkait dengan aktivitas memformulasikan suatu sediaan. Sediaan obat umumnya diproduksi dalam skala besar di industri farmasi. Bahan baku obat di Indonesia saat ini banyak yang sudah merupakan produksi lokal, tetapi banyak juga yang masih impor. Dalam membuat formula sediaan dalam hal ini harus mempertimbangkan pemilihan bahan baku zat aktif dan eksipien yang mudah diperoleh di pasaran karena pasokan dari pembuat bahan baku lancar. Terutama untuk bahan baku yang harus diimpor. Karena itu dalam pengembangan formulasi perlu dicoba beberapa formula yang menggunakan bahan baku yang berasal dari beberapa pabrik yang berbeda, kemudian sediaan jadinya diuji penampilan fisik, uji yang berhubungan dengan bentuk sediaan yang dibuat, uji ketersediaan hayati, dan stabilitasnya. Dari beberapa formula yang menghasilkan sediaan yang baik pada skala produksi semestinya dipilih formula yang pasokan bahan bakunya lancar agar setiap saat pasar menghendaki sediaan itu dapat ajeg diproduksi.

5. KAITAN FORMULASI DENGAN KEMUDAHAN PENGGUNAAN (Easybility):

Pada masa kini formulasi sediaan farmasi tidak hanya ditujukan untuk membuat sediaan yang dianggap konvensional tetapi diarahkan untuk membuat sistem penyampaian obat (drug delivery sistem) agar tujuan pengobatan tercapai. Salah satu pertimbangan yang digunakan dalam pengembangan sistem penyampaian obat adalah kemudahan penggunaan bagi pasien. Contohnya adalah formulasi sediaan ‘oral sustained/controlled release’ tujuannya antara lain agas mengurangi frekuensi penggunaan obat yang biasanya tiga kali sehari menjadi satu kali sehari. Contoh lain adalah pengembangan obat-obat anti TBC yang sekarang dikembangkan menjadi FDC Tablet (fixed dose composition tablet) yang dapat terdiri dari 2,3 atau 4 komponen obat anti TBC yang diformulasikan dalam satu tablet. Hal ini ditujukan agar pasien tidak repot setiap kali harus meminum 2-4 obat sekaligus, dan hal ini juga bermanfaat agar kepatuhan pasien dalam meminum obat terjaga. Perkembangan Transdermal Drug Delivery System sekarang ini antara lain juga dengan mempertimbangkan agar pemakaiannya bagi pasien menjadi lebih mudah.

6. KAITAN FORMULASI DENGAN KENYAMANAN PENGGUNAAN (Comfortability):

Hal ini merupakan hal klasik yang menjadi pertimbangan dalam memformulasikan sediaan farmasi. Untuk sediaan pemberian oral agar pasien / konsumen (terutama segmen anak-anak) merasa nyaman menggunakan maka perlu ditambahkan ‘flavouring agents’ selama penembahannya tidak mempengaruhi kerja dan stabilitas bahan aktif obat. Untuk menutup bau dan rasa yang pahit pada sediaan oral padat maka diformulasikan dalam bentuk kapsul atau tablet bersalut. Untuk menghindari efek samping iritasi lambung dapat diformulasikan bahan aktif obat bersama-sama dengan bahan aktif yang dapat mengatasi iritasi lambung. Formulasi obat-obat kontrasepsi berbentuk ‘patch’ ditujukan untuk mengganti bentuk susuk yang pemakaiannya lebih tidak nyaman bagi pasien.


Jumat, 06 Januari 2012

Interaksi Obat



Interaksi obat adalah Perubahan efek dari suatu obat yang dapat terjadi apabila obat itu diberikan bersamaan dengan obat lain.

A.    Interaksi Farmakokinetika
1.      Perubahan Absorpsi GIT
a)      Perubahan PH
Contoh : antacid, H2 antagonist (Ranitidin, famotidin) meningkatkan PH sehingga jika digunakan bersamaan dengan tablet Ketoconazole (asam) maka akan terjadi penurunan dissolusi dari ketoconazole.
b)      Perubahan flora bakteri intestinal
Contoh : Digoksin yang digunakan bersamaan dengan antibiotik akan terjadi peningkatan konsentrasi digoksin dan peningkatan toksisitas. Karena antibiotik akan membunuh bakteri flora normal yang digunakan untuk mengurai digoksin.
c)      Chelat dalam bentuk kompleks
Contoh :
-          Tetrasiklin berinteraksi dengan preparat besi (sangobion) , maka tetrasiklin tidak berefek.
-          Tertrasiklin dengan susu (Ca2+), terjadi unabsorpable complex.
-          Antasid (Al atau Mg) hidroksida, maka terjadi penurunan absorbsi dari Ciprofloxacin membentuk kompleks sehingga susah diserap.
d)     Obat yang menginduksi mukosa (mukosa menjadi rusak)
Contoh : agen antineoplastic (Cyclophosphamide, Vincristine, Procarbazine) akan menghambat absorbsi dari digoksin.
e)      Perubahan Motilitas
Contoh : Metoklopramid ( antiemitic/ antimual) akan meningkatkan absorbsi dari Cyclosporine diikuti peningkatan pengosongan lambung sehingga mengakibatkan peningkatan toksisitas dari Cyclosporine.
f)       Ikatan protein yang dipindahkan
Contoh : ikatan protein tinggi Phenytoin (90%), Tolbutamide (96%), dan warfarin (99%) akan memindahkan agent Aspirin, sulfonamid, penilbutason.
g)      Perubahan metabolisme
Metabolisme obat yang utama terjadi di hati. Sitokrom P 450 merupakan enzim metabolisme terpenting di fase 1 ( proses oksidasi).

Minggu, 04 September 2011

Kasiat Putri Malu




Putri Malu
(Mimosa pudica Linn.)
Sinonim :
Mimosa asperata, Blanco.
Familia :
Mimosaccae 
 
Uraian :
Tumbuh di pinggir jalan, tanah lapang, cepat berkembang biak, tumbuh tidur di tanah, kadang-kadang tegak. Batang bulat, berbulu dan berduri. Daun kecil-kecil tersusun majemuk, bentuk lonjong dengan ujung lancip, warna hijau (ada yang warna kemerah-merahan). Bila daun disentuh akan menutup (sensitif plant). Bunga bulat seperti bola, warna merah muda, bertangkai.

BAGIAN YANG DIPAKAI:
Daun, akar, seluruh tanaman, segar atau yang dikeringkan.


KEGUNAAN:
1. Susah tidur (insomnia).
2. Radang saluran nafas (bronchitis).
3. Panas tinggi pada anak-anak.
4. Herpes (radang kulit karena virus).
5. Cacingan (ascariasis).
6. Rheumatik.


PEMAKAIAN: 15 - 60 gram, direbus.


PEMAKAIAN LUAR:
Luka, radang kulit bemanah (piodermi), herpes; Tanaman segar dilumatkan, ditempelkan di tempat yang sakit.


CARA PEMAKAIAN:
1. Insomnia:
    a. Daun mimosa pudica 30 - 60 gr., direbus. Minum.
    b. - Mimosa pudica (si kejut) 15 gr.
        - Vemonia cinerea (sawi langit) 15 gr.
        - Oxalis repens (calincing) 30 gr., semuanya direbus.


2. Chronic bronchitis:
    a. Akar minosa pudica 60 gr. dan air 600 cc., direbus dengan api
       kecil menjadi 200 cc, dibagi  2 kali minum. 10 hari adalah 1 kuur.
    b. - Mimosa pudica 30 gr.
        - Akar peristrophe roxburghiana 10 gr., keduanya direbus, dibagi
         menjadi 2 dosis/hari.


3. Batuk dengan dahak banyak: Akar putri malu 10 - 15 gr.,  direbus.
4. Ascariasis: Mimosa pudica 15 - 30 gr., direbus.


5. Rheumatik:
    15 gr akar Mimosa pudica direndam dalam arak  putih 500 cc selama
    2 minggu.


KONTRAINDIKASI (DILARANG DIPAKAI): Wanita hamil.

Sumber : http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=52

Kamis, 13 Januari 2011

Senin, 10 Januari 2011

Menghitung Dosis Dopamin

Dalam praktik sehari-hari di rumah sakit, dokter tak jarang dihadapkan pada kasus-kasus yang mengharuskan penggunaan dopamin. Salah satu indikasi penggunaan dopamin adalah pada TD sistolik < 70 mmHg disertai dengan tanda-tanda syok. Pemberian dopamin di rumah sakit umumnya menggunakan syringe pump namun karena alasan keterbatasan, masih ada yang masih menggunakan kolf. Biasanya di rumah sakit, disediakan tabel praktis berapa kecepatan pemberian dopamin. Namun perlu diingat, umumnya tabel ini untuk pasien dengan berat badan 50 kg. Sehingga, tak ada salahnya bila kita mengingat rumus praktis dan menghitungnya sendiri.

Interaksi Obat

Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat digunakan bersama-sama.

Obat Psikosis

Psikosa adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan halusinasi dan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality).gangguan jiwa yang serius,yang ditimbulkan akibat penyebab organic ataupun emosional (fumgsional) dan menunjukan gangguan berpikir,bereaksi secara emosional,mengingat,berkomunikasi,menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai kenyataan itu,sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat terganggu.

Ciri khas psikosa :

Beberapa Macam "Obat Psikosa"

KLORPROMAZIN
KLOZAPIN (Clozaril) 
DIAZEPAN 
DROPERIDOL (Inapsine) 
FLUFENAZIN 
HALOPERIDOL 
MOLINDON (Moban) 
PERFENAZIN 
PROMAZIN 
TIORIDAZIN 
TRIFLUOPERAZIN 


TOMIT® INJEKS

KOMPOSISI:Tiap ml mengandung:
Metoclopramide HCl ............. 5mg

KHASIAT:

Permasalahan yang ada pada resep dan cara mengatasinya

1. Balsem Peruvianum bentuk sediaanya cair padahal akan dibuat dalam bentuk bedak sehingga Balsem Peruvianum harus dikeringkan.Caranya yaitu Balsem Perivianum dilarutkan dalam alcohol 70 % dan dikeringkan dengan talkum.
2. Zinc Oxydum agar zat-zatnya tidak menggumpal maka harus diayak terlebih dahulu dengan menggunakan ayakan B 40.
3. Dan setiap bahan obat ditambah lagi dengan bahan obat yang sama sebesar 10 %,karena dikhawatirkan ada sebagian zat/bahan obat yang berkurang pada waktu proses pembuatan.

Penimbangan bahan


Karena setiap bahan obat ditambah 10 % dari berat semula maka :

Balsem Peruvianum 10 % x 2 gram = 0.2 gram →2,2 gram

Zinc Oxydum 10 % x 5 gram = 0,5 gram →5,5 gram

Sulfur Praecipitatum 10 % x 2 gram = 0,2 gram→ 2,2 gram

Jumlah dari ketiga bahan obat tersebut : 9,9 gram

Talkum 10 % x 100 g = 10 gram →110 gram

Sehingga talcum yang diperlukan 110 gram – 9.9 gram = 100,1 gram

Berhati-Hati dalam Meracik Obat...

Obat racikan atau puyer kini menjadi perbincangan hangat di masyarakat, sehingga anggota dewan dan menteri kesehatan pun harus ikut memberikan komentar. Resiko itu bisa timbul mulai dari kebersihan alat alat maupun tangan si pembuatnya, sisa obat yang mungkin masih menempel di tempat penumbukan, takaran obat yang diracik diragukan ketepatannya sampai dengan reaksi kimia dari obat – obat yang diracik/dicampur.

Minggu, 09 Januari 2011

Parasetamol Memperpanjang Flu

Obat demam seperti aspirin dan parasetamol, bukannya mengurangi gejala flu, tapi bahkan memperpanjangnya, membuat kita lebih lama sembuh.

Cara Pembuatan Sediaan Tablet

Ø TABLET (MENURUT FI III)

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah atau zat lain yang cocok.


Ø TABLET (MENURUT FI IV)

Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan dapat digolongkan sebagai tablet cetak dan tablet kempa.


Tablet merupakan bentuk sediaan farmasi yang paling banyak tantangannya didalam mendesain dan membuatnya. Misalnya kesukaran untuk memperoleh bioavailabilitas penuh dan dapat dipercaya dari obat yang sukar dibasahi dan melarutkannya lambat, begitu juga kesukaran untuk mendapatkan kekompakan kahesi yang baik dari zat amorf atau gumpalan. Namun demikian, walaupun obat tersebut baik kempanya, melarutnya, dan tidak mempunyai masalah bioavailabilitas, mendesain dan memproduksi obat itu masih penuh tantangan, sebab masih banyak tujuan bersaing dari bentuk sediaan ini.

KAPSUL GELATIN KERAS

Merupakan jenis yang digunakan oleh ahli farmasi dalam menggabungkan obat- obat secara mendadak, dan dilingkungan para pembuat sediaan farmasi dalam memproduksi kapsul umumnya. Cangkang kapsul kosong dibuat gelatin, gula, dan air, jernih tidak berwarna dan pada dasar tidak mempunyai rasa. Gelatin USP, dihasilkan dari hidrolisis sebagian dari kolagen yang diperoleh dari kulit, jaringan ikat putih dan tulang- tulang binatang. Dalam perdagangan didapat gelatin dalam bentuk serbuk halus, serbuk kasar, parutan, serpihan- serpihan atau lembaran- lembaran.

SIFAT GELATIN

Obat Untuk Kekuatan Ingatan

Makanan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap tubuh badan, jiwa, emosi dan akal. Kalau seseorang tidak memperoleh makanan dalam tempo yang lama, 20 jam umpamanya, badannya menjadi letih, penat dan lesu. Jiwanya lemah dan pesimis. Otaknya lembab dan kuasa fikirannya menurun. Emosinya terganggu menyebabkan ia menjadi pemurung , perakus dan pemarah. Bila ia mendapat makanan, tiba-tiba dia berubah menjadi cermat, cerdas, lincah, bersemangat, riang dan gembira. Begitulah besarnya pengaruh makanan terhadap fizikal, spiritual, mental dan emosi.

CTM

CTM atau Chlorpheniramin itu termasuk golongan obat antihistamin, sebagai obat anti alergi. CTM bekerja di Susunan Saraf Pusat. Ini memjelaskan kenapa CTM juga menimbulkan rasa kantuk yang kuat. Maka sangat tidak dianjurkan meminum obat ini jika kita hendak bepergian.


Obat ini termasuk obat keras, jadi pemakaiannya harus berhati-hati. Dan dianjurkan untuk mengunakannya hanya jika memang diperlukan. misalnya minum hanya 2 hari sekali. Perlu diketahui, bahwa sistem eliminasi obat tubuh manusia tidak sama untuk tiap orangnya. Jika sistem eliminasi obat tubuh anda lambat, obat / zat ini akan terakumulasi / menumpuk sedikit demi sedikit dalam organ tubuh dalam. Obat yang menumpuk ini bisa menyebabkan kerusakan pada organ juga.

Alergi itu sebenarnya adalah reaksi tubuh kita terhadap zat / sesuatu yang asing dan berbahaya bagi tubuh kita. Menangani alergi tidak hanya selalu dengan obat. Kita perlu kaji kembali apa penyebab munculnya reaksi alergi ini, misalnya suatu makanan atau minuman. Jika mengetahui penyebab, kita bisa melakukan tindakan pencegahan (preventif), sehingga alergi tidak muncul lagi. Cobalah pola hidup sehat yang cocok dengan tubuh anda, olah raga teratur dan jaga kebersihan tubuh, rumah dan lingkungan sekitar anda dengan baik. Konsultasikan keadaan alergi anda ke dokter. Dokter akan mendiagnosa dengan tepat setelah melihat langsung keadaan anda.

Parasetamol dan Salisilamid

Parasetamol dan salisilamid sama-sama berkhasiat sebagai analgetik dengan parasetamol juga mempunyai khasiat antipiretik. tapi keduanya mempunyai efek anti inflamasi yang lemah sehingga tidak bisa digunakan untuk mengobati rematik. Menurut beberapa literatur yang telah gw baca, penggunaan kedua obat ini secara bersamaan tidak memberikan efek yang signifikan dalam artian gak sinergis. PCT gak akan meningkatkan kerja salisilamid dan sebaliknya salisilamid gak kan membantu kerja PCT. tapi dalam industri farmasi ini berguna dalam meraih benefit.


adalah suatu polifarmasi bagi pasien yang menggunakannya. alih2 mendapat efek yang lebih baik, efek samping justru semakin meningkat. sebagaimana diketahui, golongan salisilat dapat mengiritasi lambung sehingga harus dikonsumsi dalam keadaan perut berisi atau setelah makan. pemberian sebelum makan justru akan meningkatkan keasaman lambung sehingga timbul nyeri.


suatu tindakan yang lebih efektif bila kita hanya mengkonsumsi salah satu jenis obat saja bila mempunyai keluhan demam, sakit kepala, sakit gigi, dan atau nyeri2 ringan lainnya. inilah yang dinamakan terapi obat secara rasional : tepat dosis, tepat indikasi, & waspada efek samping.

SYSTEM PEMBUATAN OBAT YANG BAIK ( CPOB)

Cara Pembutan Obat yang Baik adalah bagian dari pemastian mutu yang memastikan bahwa obat dibuat dan dikendalikan secara konsisten untuk mencapai standar mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaan dan dipersaratkandalam izin edar dan spesipikasi produk.

Adapun Persyaratannya:

Kulit Menjadi Biru Akibat Makan Obat Racikan Sendiri

Adalah Paul Karason [57], pria asal Madera, California, mendadak muncul di acara ‘live’ NBC Today dan mengejutkan banyak orang. Bagaimana tidak, pria yang dijuluki “Papa Smurf” ini memiliki kulit yang tak biasa yaitu berwarna biru.

“Musibah itu terjadi ketika Karason mengobati infeksi kulit yang dideritanya dengan obat ‘colloidal silvaer’”

Karason sangat depresi dengan penyakit kulit yang dideritanya, dimana penyakit tersebut juga pernah merenggut nyawa ayahnya sekitar 14 tahun lalu. Karena keputusasaannya itu ia memutuskan untuk mengobati penyakit tersebut melalui obat racikannya sendiri yaitu ‘colloidal silver’ yang juga merupakan resep lama sebelum ditemukan ‘penicillin’.

“Kemanapun saya pergi, saya selalu menggunakannya dan saya telah terbiasa” kata pria yang mendapat julukan “Papa Smurf”, seperti dikutip ananova.

Untuk menyembuhkan penyakitnya Karason menulis resep sendiri sekalipun itu tak mengobati penyakit kulitnya. Tapi ia mengatakan semenjak menggunakan obat tersebut penyakit asam lambung, sinus dan radang sendinya hilang.

Penggunaan zat ‘Silver’ dilarang di Amerika sejak tahun 1999 karena menyebabkan kulit berubah menjadi biru.

Narsizzz..... ^_^

You Love Me